Pondok Pesantren Nusantara, Rorotan. Cilincing. Jakarta Utara., pimpinan KH. Muchlis, terkait erat dengan Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) pada 11 Oktober 2026, yang digagas Gus Rochim, seniman dan ustad muda multi talenta yang sangat berbakat.
Pembacaan do’a untuk Gus Dur yang termuat dalam “Kitab MA HA IS MA YA” dibacakan ulang oleh Cak Rochim dalam memberi pengantar acara diskusi di Pondok Budaya Pesantren Nusantara, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara dalam suasana khas pesantren NU yang menyatu dengan komplek pemakaman umum yang wingit menebar aroma sakral spiritual yang selaras dengan topik diskusi budaya spiritual bangsa Indonesia yang luhur.
Taklimat Gus Dur tentang filosofis kehidupan, menurut kesaksian Sri Eko Sriyanto Galgendu, memiliki pesan filosofis untuk terus berjalan, meskipun di hadapanmu tidak ada jalan, karena dengan dengan terus berjalan, maka engkau akan membuat jalan sendiri, papar Sri Eko Sriyanto Galgendu yang cukup akrab dan karib bersama Gus Dus serta Susuhunan Paku Buwono XII saat membangun Forum Lintas Agama dan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang telah resmi memiliki kekuatan hukum dalam bentuk akte notaris yang sah.
Dan sebagai penerus dari kedua organisasi non profit itu, kini ia ditasbihkan selaku Pemimpin Spiritual Nusantara Sekaligus Wali Spiritual dari Indonesia.
Konsepsi tentang Raja dan Wali Spiritual seperti yang sudah dia paparkan dan dideklarasikan di Pantai Utara Pulau Jawa, Kudus, Jawa Tengah jelas memiliki nilai-nilai spiritual bagi bangsa Indonesia yang luhur dari para Raja dan Wali pada masa lalu yang telah menjadi bagian dari sejarah besar suku bangsa Nusantara yang pernah berjaya pada masa lalu.
Ini semua menandai kebesaran dari para leluhur yang telah mengukir dan menghantar suku bangsa Nusantara patut dan perlu untuk diteruskan kepada generasi bangsa Indonesia untuk masa depan yang lebih baik dan kembali berjaya seperti yang pernah dicapai pada masa lalu.
Dalam paparannya Sri Eko Sriyanto Galgendu juga menyoroti betapa penting budaya dan agama sehingga bisa memasuki wilayah spiritual lebih sempurna. Karena itu penting dan perlu untuk disosialisasikan tentang gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia sebagai warisan yang sangat tinggi nilainya.
Menurut Syamsul, ilmu para Raja dan Wali sesungguhnya ada di lingkungan pondok pesantren, yang diasuh KH. Muchlis. Pendapat serupa memperoleh dukungan dan pengakuan dari tokoh budaya bahwa bahwa setiap manusia, tidak bisa memonopoli kebenaran menurut dirinya sendiri, karena setiap manusia harus tetap memiliki sifat dan sikap ilahiyah yang perlu dijaga dan dipelihara dengan baik.
Tarian Pakarema dari Sulawesi yang khusus dan spesial dipersembahkan kepada Tuhan, memang terkesan sangat lembut dan lambat dalam ritme penyajiannya yang jarang menjadi kajian dan perhatian serius para ahli dan pemerhati budaya kita. Padahal nilai filosofinya dari tarian tersebut sangat darat nilai filosofis dan spiritualitas kandungannya.
Tentu saja muatan isinya yang sarat dengan nilai-nilai spiritual menjadi tidak banyak diketahui oleh orang banyak. Padahal muatan nilai religius dan spiritualitas dalam tarian Pakarema itu sangat luar biasa.
Acara diskusi membedah ayat kunci tentang sosok Gus Dur, berikutnya ditandai dengan penyerahan “Kitab MA HA IS MA YA” dari Sri Eko Sriyanto Galgendu kepada KH. Muchlis, Ketua Pengasuh Pondok Pesantren Rorotan, kemudian untuk Ketua LESBUMI dan Ketua PWI Pengurus Daerah Jakarta Utara, sebagai pamungkas acara dengan menanam pohon sebagai dimulainya kesepakatan kerja sama untuk membentuk karakter calon pemimpin bangsa melalui pondok pesantren
Acara menanam pohon di kebun belakang pesantren sayanya tidak banyak diikuti oleh santri muda yang cukup banyak menjadi santri dari warga masyarakat sekitar daerah dan wilayah setempat.
Hingga acara dialog yang lebih santai dan informal sambil maka malam bersama sepakat untuk lebih memberi bobot pada Pesantren Rorotan, Cilincing, Jakarta untuk menjadi model kaderisasi sosok pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan dengan basis spiritual yang kuat dan mumpuni untuk mengemban amanah bangsa dan negara Indonesia di masa depan.
Rorotan, 11 Oktober 2026





