Jejak Kehidupan dan Keterbatasan Fasilitas Umum di Rura Patontang
Oleh : Gusmizar
DEMI kemanusiaan dan perjuangan hidup masyarakat di serba keterbatasan dan jauh dari pedalaman. Warga Jorong Rura Patontang, Nagari Pematang Panjang, Kecamatan Parit Koto Balingka, Pasaman Barat.
Hari Jumat, 9 Oktober 2026 kemarin, demi kemanusiaan dan peduli sesama. Warga Jorong Rura Patontang , Kecamatan Parit Koto Balingka, akibat buruknya akses jalan dan infrastruktur jlain di kampung itu, warga setempat brela sekaligus bersedia mangangkut warganya dengan cara apa adanya.
Seorang warga bernama Sapar (45) terpaksa ditandu sejumlah warga setempat demi mendapatkan akses pertolongan medis. Menurut keterangan saudaranya, Saluddin, Sapar menderita sakit kaki bengkak yang tidak bisa diluruskan, sehingga sudah tiga minggu terakhir ia tidak mampu berjalan sama sekali.
Tragedi Berulang di Rura Patontang, Seorang Warga yang Sakit Ditandu di Tengah Hujan. Dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan sakit, Sapar harus menempuh perjalanan berat ditandu sejauh kurang lebih satu kilometer menembus jalur ekstrem di tengah guyuran hujan deras.
Selama sekitar 30 menit, warga bahu-membahu menggotong tandu darurat tersebut hingga mencapai lokasi parkir mobil keluarga, sebelum akhirnya Sapar beserta pihak keluarga dapat diberangkatkan menuju RSUD Simpang Empat.
Tragedi penanduan pasien di Rura Patontang bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi. Belum lama sebelum peristiwa yang menimpa Sapar, seorang ibu hamil di kawasan tersebut juga harus ditandu menembus jalanan rusak demi mendapatkan bantuan medis. Sayangnya, takdir berkata lain; setelah perjuangan berat melewati jalur ekstrem dan melahirkan, bayi yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.
“Semangat gotong royong masyarakat Rura Patontang luar biasa, tetapi sangat memprihatinkan warga yang sedang sakit parah harus menanggung penderitaan berlipat ganda di atas tandu karena akses jalan yang cukup memprihatinkan dan tak kunjung dibenahi,” ungkap Saluddin.
Rentetan peristiwa memilu ini memicu gelombang kritik terhadap Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat dan DPRD Pasaman Barat. Warga menilai pemerintah daerah terkesan kurang perhatian dan hanya bertindak reaktif—baru turun tangan ketika suatu kasus mendadak viral. Setelah perhatian publik mereda, perbaikan jalan kembali diabaikan, meninggalkan penderitaan berulang bagi warga pedalaman.
Infrastruktur jalan bukan sekadar fasilitas penunjang ekonomi, melainkan urat nadi keselamatan nyawa manusia. Ketika warga yang sakit bengkak kaki selama tiga minggu tidak bisa dilalui ambulans atau kendaraan biasa, hal tersebut mencerminkan kegagalan pemerintah daerah dalam menyediakan hak dasar atas layanan kesehatan yang cepat dan layak.
Masyarakat menuntut Bupati beserta jajaran DPRD Pasaman Barat untuk segera turun tangan secara nyata dan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jalan permanen di Jorong Rura Patontang. Pemerintah diminta tidak menunggu jatuhnya korban jiwa berikutnya untuk membuktikan komitmennya dalam meratakan pembangunan hingga ke pelosok nagari. (*)
,,,,,,,,,,,,,, dari berbagai sumber………….





