BerandaDAERAHBekerja di Tengah Bencana, Terlupakan di Seremoni: Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah Kecewa pada Pemda...

Bekerja di Tengah Bencana, Terlupakan di Seremoni: Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah Kecewa pada Pemda Padang Pariaman

PADANG PARIAMAN | Mikanews : Relawan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Kabupaten Padang Pariaman menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap Pemerintah Daerah Padang Pariaman di bawah kepemimpinan Bupati John Kenedy Aziz. Kekecewaan tersebut muncul karena kerja-kerja kemanusiaan relawan selama masa kebencanaan dinilai tidak mendapatkan pengakuan dan apresiasi yang layak.

Sejak 26 November 2025, Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah melalui Pos Koordinasi Daerah Bencana Muhammadiyah (Poskorda) Padang Pariaman telah berada di garis depan penanganan bencana. Berbagai program kemanusiaan dilaksanakan secara mandiri, terstruktur, dan berkelanjutan, jauh dari sekadar aktivitas seremonial.

Pada masa tanggap darurat, relawan mendirikan Pos Pelayanan (Posyan) dan Dapur Umum di Nagari Ulakan sejak 26 November hingga 3 Desember 2025. Selama periode tersebut, sebanyak 1.630 porsi nasi bungkus disalurkan langsung kepada warga terdampak di Nagari Ulakan dan wilayah sekitarnya.

Sekretaris PDM Muhammadiyah Padang Pariaman, Erik Eksrada, menjelaskan bahwa kerja kemanusiaan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Relawan juga menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Gratis selama tujuh hari melalui kolaborasi LAZISMU, MDMC Padang Pariaman, dan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Pariaman.

Layanan ini menjangkau korban bencana di Kecamatan Ulakan Tapakih, Lubuk Alung, dan Kayu Tanam.

Selain itu, kegiatan trauma healing juga dilakukan di Kecamatan Kayu Tanam, khususnya di kawasan Sekayan Paku Kayu, dengan fokus pemulihan psikologis anak-anak dan keluarga korban bencana. Program ini dijalankan sebagai bentuk kepedulian jangka panjang, bukan respons sesaat.

Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah turut menyalurkan bantuan sembako, family kit, dan school kit yang dihimpun melalui kolaborasi MDMC Sumatera Barat, LAZISMU dari berbagai provinsi, Amal Usaha Muhammadiyah, masjid-masjid Muhammadiyah, perusahaan, serta para donatur. Seluruh bantuan disalurkan secara transparan melalui koordinasi Pimpinan ‘Aisyiyah, LAZISMU, dan MDMC Padang Pariaman.

Ke depan, Muhammadiyah–‘Aisyiyah Padang Pariaman menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam program Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab–Rekon) pascabencana, termasuk pembangunan masjid atau mushalla serta pemulihan ekonomi masyarakat di kawasan Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun Pemda Padang Pariaman.

Baca juga : Fatrizon Resmi Pimpin Diskominfo Pasaman, Tegaskan Mutasi Adalah Amanah dan Penyegaran Organisasi.

Namun ironisnya, seluruh kontribusi tersebut tidak mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Daerah Padang Pariaman.

Puncak kekecewaan terjadi pada acara penyerahan penghargaan Hari Jadi Padang Pariaman ke-193 yang digelar di Aula Parit Malintang, Minggu (11/1/2026), di mana peran Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah sama sekali tidak disebutkan.

“Kami sangat menyayangkan sikap Pemerintah Daerah Padang Pariaman yang terkesan menutup mata terhadap kerja-kerja kemanusiaan relawan. Bencana bukan panggung seremoni, melainkan ruang kehadiran dan keberpihakan.

Sayangnya, kepemimpinan daerah hari ini justru menunjukkan sikap abai,” tegas Erik Eksrada, selaku Ketua Posko Bencana Muhammadiyah Padang Pariaman.

Meski demikian, Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah menegaskan akan tetap berdiri di barisan kemanusiaan dan terus bekerja untuk masyarakat tanpa pamrih, tanpa menunggu pengakuan dari kekuasaan.

“Pengabaian terhadap relawan kemanusiaan adalah kegagalan moral dalam kepemimpinan daerah dan patut menjadi catatan serius bagi publik Padang Pariaman,” tutup Erik. (*)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini