PASAMAN BARAT | Mikanews.Id – Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengetuk pintu Pasaman Barat. Dalam tempo singkat, 58 kasus tercatat sejak awal tahun 2026, mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Barat mengambil langkah cepat dan terukur untuk mencegah meluasnya penularan penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Tanpa menunggu situasi memburuk, tim kesehatan diterjunkan ke lapangan. Penyelidikan Epidemiologi (PE) dilakukan pada setiap laporan kasus, disusul Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gotong royong massal di kawasan yang dinilai rawan.
Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat, dr. Gina Alecia, M.Kes, menegaskan bahwa pengendalian DBD tidak bisa bertumpu pada satu metode saja. Pendekatan menyeluruh menjadi kunci utama.
“Kami fokus memutus rantai penularan sejak dari sumbernya. Setiap warga yang mengalami demam kami periksa, dan bila ada indikasi DBD, tim langsung melakukan Penyelidikan Epidemiologi di lingkungan sekitar,” ujar dr. Gina di Simpang Empat, Senin (26/01/2026).
Ia menekankan, fogging bukan solusi utama, melainkan langkah pendukung yang hanya dilakukan pada kondisi tertentu. Fogging, menurutnya, hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh jentik yang berkembang di genangan air rumah tangga.
Baca juga: Pemberian Fasilitas Kredit PT Bank Sumut Diduga Macet Akibat Tanpa Prinsip Perbankan
“PSN jauh lebih efektif. Jika jentik dibasmi, nyamuk tidak sempat berkembang. Tanpa PSN, fogging hanya bersifat sementara,” tegasnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap menyiapkan pengasapan secara selektif dan terukur. Dalam waktu dekat, fogging dijadwalkan di Koto Gunung Sawah Maincat, Kecamatan Lembah Melintang, yang masuk wilayah prioritas penanganan.
Data Dinkes menunjukkan, Puskesmas Tanah Salido menjadi salah satu wilayah dengan jumlah laporan tertinggi, yakni 14 kasus. Sementara itu, tiga pasien masih menjalani perawatan intensif, masing-masing satu orang di RSI Yarsi dan dua orang di RSUD Pasaman Barat.
“Penetapan DBD dilakukan melalui pemeriksaan darah, khususnya trombosit dan hematokrit. Kami mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun,” tambah dr. Gina. Sebagai penutup, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali menghidupkan gerakan 3M Plus sebagai benteng utama pencegahan DBD.
“Menguras, menutup, dan mendaur ulang harus menjadi kebiasaan. Plus-nya adalah perlindungan tambahan seperti menggunakan obat nyamuk, memasang kasa, atau memelihara ikan pemakan jentik. Lingkungan bersih adalah perlindungan terbaik bagi keluarga,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi pemerintah dan kedisiplinan masyarakat, Dinas Kesehatan berharap penyebaran DBD di Pasaman Barat dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.*Mika
(Akhir)





