Pasaman Barat —Mikanews.Id | Masyarakat Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat kembali melaksanakan tradisi sakral manjalang buya ke Surau Buya Lubuak Landua, Sabtu (28/03/2026). Kegiatan tahunan ini menjadi wujud penghormatan sekaligus kecintaan masyarakat terhadap tokoh agama yang dihormati di nagari tersebut.
Tradisi manjalang buya yang telah berlangsung secara turun-temurun ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual dan kearifan lokal.
Masyarakat secara bersama-sama mendatangi surau sebagai pusat kegiatan, mempererat hubungan batin antara generasi penerus dengan para sesepuh agama.
Sebanyak 16 niniak mamak dari Nagari Aua Kuniang serta Bundo Kanduang limpapeh rumah nan gadang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka membawa anak, cucu, dan kemenakan untuk ikut serta dalam kunjungan ini sebagai bentuk pendidikan adat dan penguatan nilai penghormatan terhadap ulama.
Baca juga:Â Puasa Enam Hari di Bulan Syawal dan Maknanya

Kehadiran generasi muda dalam kegiatan ini menjadi simbol kesinambungan tradisi. Selain sebagai ajang silaturahmi, momentum ini juga dimanfaatkan untuk menanamkan rasa bangga terhadap warisan budaya serta mengenalkan peran penting tokoh agama dalam membina kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Pasaman Barat, Yulianto. Dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah sekaligus urang sumando Datuak Majo Labiah, ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan tradisi yang telah menjadi identitas nagari.
Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki peran strategis dalam memperkuat jati diri budaya serta mempererat hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Ia juga menilai bahwa tradisi manjalang buya merupakan bagian dari kekayaan budaya Minangkabau yang patut terus dijaga dan diwariskan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini secara konsisten setiap tahun, masyarakat Nagari Aua Kuniang menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga nilai-nilai adat dan agama. Tradisi manjalang buya diharapkan terus menjadi perekat sosial sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang.*Mika
(Akhir)





