MATARAM | mikanews — MotoGP Mandalika diproyeksikan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp5 triliun pada 2026. Namun, Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, mengingatkan bahwa keberhasilan ajang balap internasional tersebut harus diikuti manfaat nyata bagi masyarakat lokal, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tenaga kerja daerah.
Mirah menilai MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, tidak boleh hanya menjadi agenda olahraga yang berlangsung selama tiga hari. Ajang internasional itu perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat pariwisata, membuka peluang usaha, menarik investasi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) NTB.
Menurut Mirah, ukuran keberhasilan MotoGP tidak cukup dilihat dari jumlah penonton dan besarnya perputaran uang selama penyelenggaraan. Dampak terhadap pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, dan perkembangan usaha lokal juga harus menjadi perhatian.
Sebagai gambaran, kajian dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 yang dikutip dalam keterangannya memperkirakan kontribusi ekonomi nasional mencapai Rp4,96 triliun. Ajang tersebut juga tercatat menarik 140.324 penonton, dengan rata-rata tingkat okupansi hotel di Pulau Lombok mencapai 93 persen.
Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan MotoGP di Mandalika. Sektor perhotelan, transportasi, perdagangan, kuliner, dan usaha pendukung pariwisata berpeluang memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Namun, Mirah mengingatkan bahwa dampak ekonomi tidak boleh berhenti pada tingginya aktivitas usaha selama balapan berlangsung. Pemerintah dan pihak penyelenggara perlu memastikan manfaat tersebut dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan.
Keterlibatan UMKM menjadi salah satu perhatian utama. Dalam keterangannya, Mirah menyebut 500 UMKM dari 10 kabupaten/kota di NTB terlibat dalam Lombok Sumbawa Festival 2026. Selain itu, sebanyak 134 UMKM tercatat mengikuti Bazar Mandalika.
Menurutnya, partisipasi tersebut perlu diikuti evaluasi mengenai omzet penjualan, keuntungan bersih, perluasan pasar, dan keberlanjutan usaha setelah acara berakhir.
“UMKM jangan hanya ramai berjualan saat MotoGP. Kita ingin mereka mendapatkan pelanggan baru, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, memperluas pemasaran digital, dan mampu bersaing setelah event selesai,” kata Mirah.
Ia menilai pendampingan usaha perlu diarahkan agar produk lokal memiliki daya saing lebih kuat. Dengan demikian, kesempatan yang terbuka selama MotoGP dapat menjadi pijakan bagi UMKM untuk memperluas pasar, termasuk menjangkau konsumen dari luar daerah dan mancanegara.
Selain penguatan ekonomi masyarakat, Mirah menyoroti peran MotoGP dalam meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal. Sekitar 2.500 anak muda NTB disebut terlibat sebagai marshal dan sukarelawan atau volunteer dalam penyelenggaraan ajang tersebut.
Pengalaman bekerja dalam acara olahraga bertaraf internasional dinilai dapat membantu meningkatkan kedisiplinan, keterampilan komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, serta pemahaman terhadap standar operasional kegiatan berskala besar.
Mirah juga menyebut 2.500 volunteer dan marshal MotoGP 2026 telah memperoleh perlindungan BPJS Ketenagakerjaan berupa Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Menurutnya, peningkatan keterampilan tenaga kerja harus berjalan seiring dengan penerapan standar keselamatan dan perlindungan kerja.
Pencapaian tim medis lokal yang memperoleh sertifikasi Super License dari Dorna Sports juga disoroti sebagai contoh keterlibatan tenaga profesional daerah dalam penyelenggaraan internasional.
Mirah berharap pengalaman dan kompetensi tersebut dapat terus dikembangkan untuk memperluas peluang karier masyarakat NTB.
Di sisi lain, ia mendorong agar dampak ekonomi MotoGP menjangkau lebih banyak wilayah dan sektor usaha. Transportasi, perhotelan, kuliner, kerajinan, pertanian, perikanan, hingga destinasi wisata di luar kawasan Mandalika dinilai memiliki peluang untuk ikut berkembang.
Untuk mewujudkan hal tersebut, peningkatan konektivitas dan kunjungan wisatawan perlu diikuti strategi yang menghubungkan kebutuhan penyelenggaraan MotoGP dengan produk serta jasa yang dihasilkan masyarakat setempat.
Mirah juga menekankan perlunya evaluasi berkala terhadap biaya penyelenggaraan, manfaat ekonomi, dampak sosial, dan kesiapan infrastruktur.
Evaluasi tersebut penting sebagai bahan perencanaan agar penyelenggaraan MotoGP pada tahun-tahun berikutnya memberikan manfaat yang terukur.
“Keberlanjutan MotoGP perlu ditopang perencanaan yang terukur dan manfaat yang nyata. Pemerintah harus memastikan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama dalam pertumbuhan ekonomi yang tercipta,” tegasnya.
Mirah berharap MotoGP Mandalika terus memperkuat posisi NTB sebagai destinasi pariwisata internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Baginya, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kelancaran balapan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat setempat memanfaatkan peluang yang tercipta.
“Target akhirnya bukan sekadar sukses menyelenggarakan balapan setiap tahun, melainkan menjadikan MotoGP sebagai momentum agar masyarakat NTB semakin sejahtera, UMKM naik kelas, dan tenaga kerja lokal semakin kompetitif,” pungkas Mirah. (Red)
sumber: newsroom DPD RI





