BerandaDAERAHNilam Menggeliat Petani Pasbar Dapat Angin Segar

Nilam Menggeliat Petani Pasbar Dapat Angin Segar

MikaNews : Tanaman nilam (Pogostemon patechouli, atau pogostemon cablin benth alias pogistemon mentah) di Indonesia dikenal sejak abad 20.

Areal tanamannya tersebar di daerah Aceh, kemudian menyebar ke Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, sampai ke Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Sumatera Barat tanaman nilam banyak ditemui dan dikembangkan oleh petani Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), tanaman nilam di Pasbar begitu dikenal secara luas oleh masyarakat setempat.

Ternyata asal nama nilam berasal dari singkatan perusahaan Belanda yaitu, Nedherland Indhisce Landbouw Maskapaij (Nilam), sebab perusahaan Belanda inilah yang pertama memproduksi dan memasarkan nilam secara massal.

Tanaman nilam di Sumatera Barat (Sumbar) khususnya di kabupaten Pasaman Barat, masa itu merupakan salah satu komoditas perkebunan yang pernah menjadi sentra produksi minyak nilam terbaik, itu makanya hingga kini ada sebuah daerah peninggalan Belanda di kecamatan Pasaman bernama *Bukit Nilam.
Pohon nilam penghasil minyak ATSIRI ini juga dapat digunakan sebagai bahan baku parfum, sabun, kosmetik, dan bahan dupa, hal inilah nilam dapat menjadi penghasil Devisa negara terbesar sebab banyak digunakan pada industri kosmetik.

Meskipun petani nilam sempat timbul tenggelam dan kini kembali membawa angin segar.

Komoditi eksport penghasil devisa negara ini, kini kembali menjadi idola bagi para petani di Pasbar, selain harganya sangar tinggi, komoditi ini memiliki pangsa pasar yang luas, bukan saja di Asia, tetapi di Eropa dan Amerika.

Apa lagi petani nilam di Pasbar merasa bersyukur, sebab jaminan pasar yang menjanjikan itu sudah memiliki Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kemenkumham sejak tahun 2016 yang lalu.

Meskipun selama ini potensi Kabupaten Pasaman Barat didominasi dari sektor pertanian dengan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan seperti, Kelapa Sawit, Kakao, aren dan kopi termasuk pokat, namun kebun nilam berdasarkan data statistik yang ada, kini sudah mencapai lebih dari 5.500 hektare dan menyebar di sebelas kecamatan yang ada di Pasaman Barat.

Bukan itu saja, kini khususnya di kecamatan Pasaman dan kecamatan Luhak Nan Duo, tanaman nilam mudah ditemui di hampir setiap lahan pekarangan masyarakat.

Namun semua itu tak terlepas dengan adanya pembinaan dari awal kepada petani, hingga berdasarkan pada pengujian mutu di tahun 2015 yang lalu, oleh Badan Peneliti dan Pengembangan Pertanian, Badan Tanaman Rempah dan Obat Bogor, dinyatakan minyak nilam Pasbar memiliki rendemen 2,5 sampai 3 persen, dan kandungan PA 34 sampai 49,75. hingga menjadikan nilam Pasbar yang terbaik di Sumatera Barat bahkan di tingkat nasional.Nilam

Berdasarkan hal tersebutlah, mutu tetap menjadi perhatian yang utama, hingga jaminan untuk meningkatkan daya saing tetap terjaga.

Apa lagi dengan telah adanya Sertifikat IG maka petani nilam Pasbar sudah maju selangkah dari petani nilam lainnya yang ada di Sumbar.

Dengan naiknya harga nilam saat ini, masyarakat Pasbar sudah banyak yang beralih untuk ikut menanam nilam, minat masyarakat bertanam nilam semakin tinggi sebab terbukti mampu meningkatkan perekonomian petani masyarakat.

Para petani nilam tersebut, pada umumnya sebelum mereka menanam nilam, mereka belajar dan berdiskusi berdasarkan dari pengalaman yang mereka peroleh dari petani nilam sebelumnya.

Berdasarkan hal tersebutlah, mereka berkomimen untuk tetap menjaga dan memperhatikan mutu, agar jangan sampai kualitas terabaikan.

Sebab menurut pembeli minyak nilam di Pasbar, kalau petani yang panen sebelum nilam cukup umur, maka minyaknya tidak memenuhi standar dan akhirnya harganya turun.

Makanya, para pembeli sebelum melakukan pembelian, mereka terlebih dahulu menguji kualitas minyak, apakah minyak nilam tersebut masih memenuhi standar kematangan dan keasaman.

Untuk itu diharapkan agar para petani, lebih disiplin dalam menentukan waktu panen.

Untuk memastikan agar mutu minyak terjamin, sebaiknya panen dilakukan saat tanaman berusia minimal 6,5 hingga 7 bulan agar kualitas minyak tetap terjaga. Panen ke dua juga harus mengikuti standar yang sama, yakni minimal 6 hingga 7 bulan setelah pemotongan pertama.

Dengan menjaga waktu panen sesuai standar, petani diharapkan dapat mempertahankan kualitas minyak nilam agar tetap layak ekspor dan harga jualnya stabil.

Besarnya minat masyarakat untuk bertanam nilam, mengakibatkan
permintaan bibit nilam sejak tiga bulan terakhir ini meningkat.

Salah satu alasan, meningkatnya minat masyarakat untuk budidaya tanaman nilam, karena selain masa panen yang singkat, juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Harga minyak nilam di Kabupaten Pasaman Barat sempat mencapai Rp2,1 juta per kilogram pada Februari 2025 yang lalu.

Harga ini memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani di Pasaman Barat, itu makanya para petani berharap harga minyak nilam ini bisa terus stabil agar petani sejahtera.

Oleh : Zoelnasti
(Pimpinan Redaksi mikanews)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini