Pasaman Barat, Mikanews.id | Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak ke wilayah Pasaman Barat, memasuki fase mengkhawatirkan. Rabu (14/10) akibat asap tebal dilaporkan semakin pekat dan mengepung sejumlah titik pemukiman, dengan dampak terparah dirasakan warga Talamau.
​Berdasarkan pantauan di lapangan hingga Rabu siang, jarak pandang di area pemukiman dan jalan lintas kecamatan menurun drastis. Ruang udara diselimuti partikel abu tipis. Kondisi ini tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mulai mengancam kesehatan masyarakat yang melintas maupun beraktivitas di luar rumah.
​Meski krisis kualitas udara kian memburuk, aktivitas perkantoran dan kegiatan belajar-mengajar di fasilitas pendidikan sepanjang Kecamatan Talamau dilaporkan masih berlangsung secara normal. Hingga berita ini diturunkan, Pemda Pasaman Barat maupun Dinas Pendidikan setempat belum mengeluarkan instruksi resmi atau surat edaran terkait penyesuaian jam belajar, pengalihan pembelajaran ke sistem daring (online), ataupun kebijakan meliburkan sekolah.
​Kondisi tersebut memicu keprihatinan mendalam dari berbagai lapisan masyarakat, tenaga pendidik, hingga para orang tua siswa. Tanpa adanya regulasi atau imbauan resmi penanganan dampak kabut asap di lingkungan sekolah, proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) terpaksa tetap berjalan di dalam ruang-ruang kelas yang mulai terkontaminasi asap.
​Dampak paparan udara memburuk ini bukan lagi sebatas ancaman, melainkan sudah mulai menginfeksi fisik para guru dan siswa. Beberapa tenaga pendidik mengungkapkan bahwa fokus konsentrasi anak didik menurun tajam akibat gangguan iritasi saluran pernapasan dan mata.
​”Jarak pandang sudah sangat terbatas , sebagian anak-anak dan para guru sudah mulai mengeluh sakit tenggorokan, serta mata perih. Kami sangat khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada tindakan pencegahan yang jelas,” ujar salah seorang tenaga pendidik yang enggan disebutkan namanya.
​Hal senada diungkapkan para orang tua murid yang merasa cemas melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah tanpa perlindungan memadai. Sebagian besar siswa terpaksa datang”
ke sekolah menggunakan masker seadanya atau bahkan tanpa alat pelindung diri sama sekali, karena keterbatasan pasokan masker di tingkat lokal.
​Hingga saat ini, warga Talamau dan masyarakat Pasaman Barat masih menunggu kepastian serta tindak lanjut cepat dari pemangku kebijakan daerah demi menjamin keselamatan jiwa serta kesehatan generasi muda di tengah ancaman kabut asap ang belum mereda. (gmz)





