Pekanbaru | Mikanews : Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menempatkan pantun sebagai bagian penting dalam arah pembangunan kebudayaan Melayu lima tahun ke depan.
Melalui RPJMD Provinsi Riau 2025–2029, pantun tidak hanya dipandang sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga instrumen strategis dalam pelindungan identitas budaya, pendidikan, dan penguatan literasi masyarakat Melayu Riau.
Dikatakan Asisten I Setdaprov Riau, Zulkifli Syukur, pantun sangat penting untuk pemajuan kebudayaan, khususnya pada aspek pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.
Karena itu, melalui sarasehan Hari Pantun Nasional, Pemprov Riau secara spesifik mengharapkan beberapa rumusan strategis.
“Pertama, pendalaman dan penguatan narasi sejarah pantun sebagai bagian dari identitas Melayu Riau. Kedua, perumusan model pelestarian tradisi pantun yang melibatkan maestro, komunitas, dan generasi muda,” ujar Zulkifli di Anjung Seni Idrus Tintin, Rabu (17/12).
Ketiga, dilanjutkannya, ialah penguatan pantun dalam pendidikan, literasi budaya, dan ruang publik. Terakhir, adaptasi pantun ke media digital tanpa menghilangkan adab, struktur, dan nilai kearifan yang dikandungnya.
“Pelestarian pantun tidak dapat dikerjakan oleh pemerintah semata. Pemerintah Provinsi Riau mengambil peran sebagai fasilitator dan pengarah kebijakan, sementara ruh, kreativitas, dan otoritas kultural tetap berada pada para budayawan, akademisi, pemantun, dan komunitas adat,” terangnya.
Baca juga :Â Perjalanan Identitas Melayu Indonesia Menuju Panggung Dunia
Dikatakannya, Pemprov Riau membutuhkan peran para budayawan, akademisi, komunitas, lembaga adat, dan tentu saja generasi muda. Pemerintah berkewajiban membuka ruang, menjaga ekosistem, dan memastikan keberlanjutan.
“Substansi dan ruh pantun harus tetap lahir dari masyarakat budaya itu sendiri. Kami berharap, sarasehan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi bagian dari tanggung jawab sejarah,” harapnya.
Saat ini, Provinsi Riau sedang merawat pusaka yang telah diwariskan dengan penuh kebijaksanaan oleh para pendahulu. Hari ini, akan menentukan apakah pantun tetap hidup dengan martabatnya, atau sekadar menjadi jejak yang dikenang tanpa pewaris.
“Pantun lama jangan dilupa, tempat bersemayam budi pekerti. Selagi adat tetap dijaga, Selagi itu pantun berdiri,” tutur Zulkifli menutup sambutannya dengan sebait pantun.
Sumber : Pemprov Riau





