Talamau, 11 Juli 2026 – Kumpulan cerpen Sepotong Bulan di Saku Aruna karya Joel Pasbar dibedah dalam sebuah forum literasi yang berlangsung di Istano Tuanku Bosa Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Bundo Fakhrida Revaliyanti, Nur Fauziah Zein, dan Denni Meilizon, dengan dipandu moderator Roland Mangkuto Sutan.
Mengawali sesi bedah buku, Bundo Fakhrida Revaliyanti menegaskan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir, memahami, serta memaknai kehidupan.
Menurutnya, karya Joel Pasbar kaya dengan gaya bahasa metaforis yang mengajak pembaca menafsirkan makna di balik setiap cerita. Cerpen-cerpen dalam buku tersebut juga dinilai sarat warna lokal dan kearifan budaya, serta lebih banyak mengangkat realitas masyarakat akar rumput dibandingkan kehidupan kaum elite.
Selanjutnya, Camat Talamau sekaligus pegiat literasi, Nur Fauziah Zein, menilai Joel Pasbar memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membangun tafsirnya sendiri terhadap setiap cerpen. Ia juga mengapresiasi gaya penceritaan yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca, meskipun menurutnya penggambaran beberapa tokoh masih dapat dikembangkan lebih mendalam.
Sementara itu, penulis dan budayawan Denni Meilizon memandang Sepotong Bulan di Saku Aruna sebagai karya yang tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca berdialog dengan ingatan, kehilangan, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
Menurutnya, simbol-simbol seperti bulan, halte, kalender, dan hujan menjadi medium yang membangun lapisan makna yang lebih dalam, sekaligus memperlihatkan karakter estetik Joel Pasbar yang berpotensi memberikan kontribusi penting bagi perkembangan cerpen Indonesia kontemporer. �
PAPER BEDAH BUKU JOEL PASBAR – DENNI MEILIZON.pdf
Dalam kesempatan tersebut, moderator Roland Mangkuto Sutan menyampaikan bahwa bedah buku bukanlah ruang untuk menentukan benar atau salahnya sebuah karya sastra, melainkan ruang dialog antara penulis, narasumber, dan pembaca. Menurutnya, setiap pembaca membawa pengalaman hidup yang berbeda sehingga akan menemukan makna yang berbeda pula dari cerita yang sama.
Acara berlangsung hangat dan interaktif dengan dihadiri para pegiat literasi, guru, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta pecinta sastra dari berbagai daerah. Antusiasme peserta terlihat sepanjang diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap perkembangan sastra dan budaya literasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya membaca, berdiskusi, dan mengapresiasi karya sastra terus tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus mendorong lahirnya penulis-penulis baru yang mampu menghadirkan karya berkualitas dan memperkaya khazanah sastra Indonesia.
(RMS)





