PASAMAN BARAT | Mikanews.id – Kwarcab 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat resmi memperluas peran pembinaan karakter dengan menjalin kerja sama strategis bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Talu. Kesepakatan tersebut menjadi langkah nyata menghadirkan pendidikan kepramukaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) sebagai bekal kembali ke tengah masyarakat.
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) berlangsung di Aula Lapas Kelas III Talu, Kecamatan Talamau, Selasa (14/7). Dokumen kerja sama ditandatangani langsung oleh Ketua Kwarcab 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat, Risnawanto, bersama Kepala Lapas Kelas III Talu, Yongki Yulianto.
Melalui kerja sama tersebut, kedua institusi sepakat melaksanakan program pendidikan kepramukaan secara berkelanjutan yang difokuskan pada pembentukan karakter warga binaan. Program ini menjadi bagian dari upaya pembinaan agar para WBP memiliki kesiapan mental dan sosial saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Prosesi penandatanganan turut dihadiri Sekretaris Kwarcab Ahmad Romi, Bendahara Srianto, Wakil Ketua Binamuda Paiman, Wakil Ketua Humas dan IT Yudhinal Reviola, Wakil Ketua Abdimasgana Randy Hendrawan, Wakil Ketua Sapraskeu Dr. Ikhwanri, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Ketua Kwarcab 0317 Pasaman Barat, Risnawanto, menegaskan bahwa pendidikan kepramukaan bukan sekadar aktivitas organisasi, tetapi merupakan media efektif untuk membangun karakter seseorang melalui nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, pembinaan tersebut diharapkan mampu membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Kami ingin memberikan pembinaan karakter melalui nilai-nilai kepramukaan agar saat kembali ke masyarakat, mereka memiliki kepribadian yang lebih baik dan mampu menjalani kehidupan secara mandiri,” ujar Risnawanto.
Ia menjelaskan, makna kemandirian tidak hanya diukur dari kemampuan mencari nafkah, tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi, bersikap dewasa, dan mengambil keputusan yang benar dalam kehidupan sehari-hari.
Risnawanto juga berpesan kepada seluruh warga binaan agar menjadikan masa pembinaan di Lapas sebagai pengalaman terakhir sehingga setelah bebas nantinya dapat kembali hidup bersama keluarga, diterima masyarakat, dan tidak lagi berhadapan dengan persoalan hukum.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Talu, Yongki Yulianto, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan Gerakan Pramuka menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat program pembinaan yang berorientasi pada perubahan perilaku warga binaan.
Ia menegaskan bahwa fungsi pemasyarakatan tidak berhenti pada aspek pengamanan semata, melainkan juga memastikan setiap warga binaan memperoleh pembinaan yang mampu mengubah pola pikir dan karakter mereka.
“Pemasyarakatan bukan hanya tentang pengamanan, tetapi juga membina warga binaan agar kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang taat hukum, mandiri, produktif, dan memiliki karakter yang lebih baik,” kata Yongki.
Yongki menilai seluruh nilai dasar kepramukaan seperti disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, semangat kerja sama, cinta tanah air, hingga sikap pantang menyerah sangat sejalan dengan tujuan pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Melalui kerja sama ini, Lapas Kelas III Talu berharap pendidikan kepramukaan mampu menjadi bekal penting bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi, serta membangun masa depan yang lebih baik setelah kembali ke lingkungan masyarakat.
Kolaborasi antara Kwarcab 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat dan Lapas Kelas III Talu sekaligus menjadi bentuk sinergi lintas lembaga dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada kepatuhan hukum, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemandirian sebagai fondasi kehidupan yang lebih positif. (Aulia)





