BerandaCERPENKue Tradisional dan Pria CEO

Kue Tradisional dan Pria CEO

Kue Tradisional dan Pria CEO 
Oleh : Yelpi Nofitri
Seorang janda kembang hidup di sebuah desa ngarai sianok, dekat pinggiran sungai, Bukittinggi, desa yang sejuk, segar dan banyak pelancong, baik dari luar negeri maupun dalam negeri (warga lokal).

Namanya Zubaidah, akrab dipanggil Idah, dia berumur 24 tahun, kegiatan sehari harinya ialah berjualan keliling, atau menitipkan kue kue tradisional di kedai-kedai dekat rumah.

Pagi hari itu seperti biasa Idah berjualan dengan sepeda motor, dia menjajakan kue dari rumah ke rumah, dan ke kantor-kantor pemerintah daerah Bukittinggi, dan ke sekolah-sekolah yang ada di pusat kota Bukittinggi.

Malam semakin larut, jam menunjukkan jam 22:45 wib, Idah masih membuat kue putu Ayu, dan donat.

Ibunya, Rosmidar, sehari hari dipanggil Ni Ros, selalu memperhatikan Idah membuat kue, ibunya berkata ” hei Idah, kenapa masih belum tidur juga, hari sudah larut malam, apa besok kau tidak sekolah? sudahlah buat kue itu, jangan kau buat banyak-banyak, lama selesai nya. kapan lagi kau punya waktu istirahat” tegas ibunya.

” Ya bu, ini sebentar lagi juga selesai, besok Idah ke sekolah cuma untuk rapat saja bu, selesai rapat idah pulang lagi. Ini juga satu jam lagi semua urusan perkuewan selesai bu, jawab Idah.

Ibu : “baiklah, ibu tidur dulu, jangan lupa kau matikan lampu, dan kipas angin ya”.

Keesokkan harinya… Idah mengikuti rapat sekolah, tentang pembagian tugas awal tahun ajaran baru, rapat sekolah dipimipin oleh kepala sekolah yang bernama bapak Yos rizal, akrab dipanggil juga Pak Yos.

Rapat berlangsung selama dua jam, dari hasil rapat, bapak Yos dengan berat hati mengatakan ada beberapa guru yang tidak ada dapat jam mengajar, termasuk salah satunya Idah, idah dan beberapa teman-temannya dipanggil ke ruangan kepala sekolah, untuk menjelaskan keadaan yang cukup rumit, karena beberapa guru yang lulus P3K kekurangan jam mengajar, jadi jam mengajar harus diambil dari guru yang masih honor.

Kepala sekolah mengatakan : “sebelumnya saya minta maaf kepada adik adik honorer, karena kita ada kedatangan guru P3K baru, jadi untuk mengisi kekurangan jam mengajar terpaksa saya mengusulkan, kepad adik adik untuk mencari sekolah yang lain, karna cuma itu jalan satu satunya,.”

Selesai rapat Idah pulang ke rumah, Idah mengganti bajunya, menyiapkan kue kering yang sudah dipacking untuk dijual keliling. Dia berangkat jam dua siang, mampir ke kedai-kedai untuk menjajakan kue-kue kering. Dia pindah dari toko satu ke toko yang lain.

Setelah petang, jam enam petang dia pulang, dan beristirahat sambil menunggu adzan mahrib. Idah merasa haus, dan mengambil air dingin dalam kulkas, sebotol air yang tinggal setengah botol habis diminum Idah.

Tiba-tiba adik idah yang bernama Endang datang dari dapur, dan memperhatikan idah yg menthabiskan air setengah botol sirop, dan menyauti idah, dia berkata :” hei anak ini cuma ngabisi air saja, cape aku mengisi air ke botol, kau cuma minum saja, tidak ada kau bantu pekerjaan rumah”.

Idah terdiam mendengarkan adiknya yang ketus  berkata begitu. Adiknya yang sedikit gila dan punya rasa iri selalu nampak salah apa yg dilakukan Endang.

Sementara adik Idah tidak mudah bergaul, muka selalu masam, dan selalu menyalahkan idah. Tentang apapun itu.

Suatu hari, datanglah lelaki kaya Raya, berumur 46 tahun, ganteng aura minang, punya mobil mewah, rumah mewah, dan merupakan seorang CEO alat-alat kesehatan, obat herbal, yang bernama Rio, datang dari Jakarta, ingin melamar Idah.

Rio seorang CEO yang hitam manis, yang istinya meninggal karena kecelakan pesawat saat  menuju Amerika Serikat. Dia mencari istri, yang kebetulan almarhum istrinya 90 persen mirip dengan Idah, manis, baik hati, rajin, penyayang dan pintar.

Selama di Bukittinggi, Rio tinggal di sebuah hotel di Bukittinggi, dia ingin lebih kenal mendalam dengan Idah.

Sebulan sudah mengenali idah, Idah merasa bahagia, karena Rio sering mengajak Idah keliling Kota Bukittinggi. sebulan sudah sukup saling mengenal, saling berkomunikasi dan tatap muka, dan akhirnya mereka menikah, dan Rio membawa Idah tinggal ke Jakarta.

Karena idah pintar bahasa Inggris, Rio menjadikan Idah sebagai team kerja untuk perusahaan Rio, misalnya menterjemahkan bahan yang akan di kirimkan ke perusahaan lain dalam berbahasa inggris.

 

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini