Jacob Ereste :
Sebab Musabab Korupsi Merajalela di Negeri Kita
Mengapa korupsi semakin marak dan ramai dilakukan orang Indonesia sampai hari yang meningkat, karena di penjara sekarang justru bisa menjadi tempat istirahat yang sungguh-sungguh dantai dan menyenangkan, tanpa mendengar kebisingan politik yang terus gaduh. dan tarik menarik tentang hukum mulai dari pembahasan RUU di parlemen hingga praktik di penyelidikan dan penyidikan sampai transaksi di pengadilan yang memusingkan kepala bisa menjadi botak.
Hidup di penjara sekarang justru bisa lebih nyaman menikmati sisa uang korupsi yang bisa diembat sebesar mungkin, sehingga saat menjalani hukuman bisa saling berbagi untuk menikmati uang hasil korupsi itu yang bisa membeli apa saja yang dikehendaki dari dalam penjara.
Dan penjara hari bukan suatu tempat yang aib dan kumuh, karena bisa mendapatkan bungalow khusus yang bisa dibuat berdasarkan pesanan.
Abak, istri, cucu dan menantu pun bisa dibuatkan jadual kunjungan yang diatur sendiri untuk dilaksanakan oleh petugas penjara — yang kini diperhalus sebutannya — menjadi Lembaga Pemasyarakatan serta jauh lebih longgar pengawasannya yang dilakukan oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Maka bergembira- rialah para koruptor untuk meng-entit uang apa daja yang bisa diembat, termasuk duit jemaah haji yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Maka berbahagialah para koruptor untuk menggunakan peluang maupun kesempatan untuk meng-embat uang negara yang didulang dari tetesan keringat rakyat, sehingga sekedar untuk membayar rekening air bersih pun rakyat jadi kelimpungan, harus berpikir bagaimana mungkin bisa beli gas elpiji dengan cara eceran, seperti fenomena rokok tanpa cukai sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap tekanan ekonomi yang terus dilakukan oleh pemerintah.
Subsidi BBM, subsidi listrik dan subsidi lainnya yang dikucurkan atas nama rakyat sekedar untuk membuat lapangan kerja baru untuk menutupi cara bagi-bagi angpau bagi yang belum kebagian jabatan, setelah Pilkada atau Pilpres yang dimenangkan dengan cara yang ghaib dan tak masuk akal.
Toh, antrean BBM yang telah mengular pun, stok yang ada segera dinyatakan habis dan kandas.
Artinya, jatah yang seharusnya cukup tersedia sudah dituang terlebih dahulu di gudang penimbunan para tengkulak atau mafia minyak, seperti yang sudah menjadi tersangka oleh aparat penegak hukum, tapi tidak juga kunjung dibawa ke ruang pengadilan.
Sebab di semua lini menang sudah dikuasai oleh sindikat atau mafia yang melibatkan juga orang dari dalam.
Dan semua membungkam, hanya untuk menjaga jarah rutin yang dibagi-bagikan secara berkala.
Sebab kalau cuma mengandalkan penghasilan dari yang gaji yang dianggap tidak seberapa jumlahnya itu, bagaimana bisa memiliki kendaraan mewah, rumah mewah dan gendak mewah berikut biaya rutin operasionalnya setiap bulan yang justru melebihi jatah resmi untuk rumah tangga berikut biaya sekolah anak-anak yang semakin komersial nilainya.
Karena lembaga pendidikan di negeri kita pun ikut menyesuaikan dengan fluktuasi nilai dollar yang terus menari-nari di atas kenelangsaan rupiah yang semakin tidak berdaya.
Aras dasar itu pula, tidak korupsi di Indonesia menjadi sah dan setengah legal. Yang penting jangan sampai kemaruk untuk menikmatinya sendiri.
Lantaran rumusan korupsi di Indonesia harus dilakukan juga secara tertib dan persuasif, berbagi untuk semua pihak yang ada di kiri dan kaban, tentu saja yang lebih utama bagi mereka yang ada di belakan dan posisi depan yang lebih siap untuk memasangkan badannya sebagai tumbal.
Meski akibatnya korupsi tidak bisa dinikmati sendiri, bila perlu dilakukan secara berjemaah.
Maka itu, RUU Perampasan untuk koruptor, terus dipolitisir dan dihalangi, karena mereka yang membahas RUU Perampasan aset untuk koruptor itu, bisa dikata nyaris semua tercatat sebagai anggota dari Organisasi Korupsi Berjamaah Seluruh Indonesia — OKBSI — meski sampai hari ini belum juga di deklarasikan secara resmi untuk dicatat dalam kembaran negara kita
Banten, 27 September 2026





