Kebahagiaan dan Kekecewaan Dalam Kesadaran dan Pemahaman Spiritual
Kegembiraan dan kepuasan hati ketika mampu membahagiakan orang lain, misalnya karena bisa memberi bantuan yang bisa menyenangkan hati orang lain — keluarga, kawan atau bahkan orang baru kita kenal — adalah getaran dari frekuensi spiritual yang normal.
Demikian juga rasa kecewa akibat sesuatu janji yang tidak ditepati, juga getaran dari reaksi spiritual yang juga normal, sehingga senang, gembira dan rasa bahagia hingga kekecewaan disadari suatu reaksi yang bersifat manusiawi untuk dapat dikendalikan, bila perlu tidak perlu untuk diketahui oleh siapapun, termasuk bagi orang yang bersangkutan dengan getaran rada kegembiraan atau kekecewaan yang kita rasakan.
Sebab hanya dengan cara itu kita mampu menakar tingkat kualitas dari laku spiritual yang mampu dilakukan.
Getaran kegembiraan dan kepuasan karena telah melalukan perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi orang lain itu, memang tidak bisa ditakar besaran dari kepuasannya, tapi yang pasti, rasa puas telah membuat kebahagiaan hati yang tidak dapat diwujudkan secara fisik, karena berada dalam wilayah batin yang melandasi laku spiritual yang sakral.
Demikian juga rasa kecewa akibat janji, atau sesuatu hal yang membuat perasaan jadi nelangsa, hanya ada di dalam batin yang mungkin tidak mampu untuk diucapkan, kecuali dengan menangis, sedih atau ekspresi wajah yang muram sambil menahan geram. Inilah bagian dari fungsi laku spiritual yang matang untuk meredam gejolak hati yang membuncah, atau sebaliknya berduka cita atas rasa kekecewaan yang menerpa.
Kematangan laku spiritual yang telah mencapai level tertentu dapat mengatasinya dengan perasaan hari yang dingin, untuk segera dipetik hikmahnya yang terbaik, sebagai bagian dari pelajaran untuk diri sendiri agar bisa lebih tangguh untuk menahan rasa kesabaran.
keikhlasan serta permaafan yang patut diberikan dengan cara yang terbaik, sehingga tidak perlu menimbulkan penilaian negatif yang bisa merugikan diri sendiri maupun pihak yang bersangkutan, ku kendati peristiwa yang dai apa yang mengecewakan itu sungguh sulit untuk dilupakan.
Karena masalah utama yang harus dan patut dilakukan — dari kesadaran dan kemampuan serta kecerdasan dari laku spiritual yang bijak dan matang — akan terukur dari tingkat kesabaran. keikhlasan dalam menerima realitas sosial, budaya bahkan politik hingga ekonomi yang fluktuatif tergantung dari kondisi dan situasi yang rentan untuk berubah, tidak pasti dan tidak eksak sifatnya.
Kegembiraan dan kekecewaan seperti kebahagiaan berada pada wilayah spiritual yang harus mampu diterima bukan hanya sebagai konsekuensi dari hidup dan kehidupan, tetapi sebagai realitas yang harus dihadapi untuk melengkapi keindahan hidup dan penghidupan, sebelum akhirnya bersama etos perjuangan yang harus dilakukan, tanpa pilihan kecuali cuma sekedar upaya untuk mencegah kekecewaan itu agar tidak terjadi, walau tetap saja ada saatnya tidak bisa dielakkan juga.
Persis semacam kegembiraan dan kebahagiaan yang harus selalu diupayakan — supaya hidup dan kehidupan tidak terasa hampa, hanya karena tidak berbuat apa-apa.
Setidaknya dalam tuntunan dan ajaran agama sudah mengingatkan, bahwa manusia yang baik itu adalah mereka yang selalu bisa dan mampu mewujudkan kebaikan untuk orang lain. Minimal. tidak membuat kecewa dan kesedihan untuk sesama manusia.
Banten, 29 September 2026





