Jacob Ereste :
Kesadaran Untuk Memasuki Wilayah Spiritual Melalui Perenungan Pada Hakikat Eksistensi Dari Diri Sendiri
Kesadaran adalah motor penggerak memasuki wilayah spiritual yang sangat luas merentang sepanjang usia hingga berakhir di liang kubur.
Panorama indah yang terhias ayat la git, bumi dan di dalam diri kita sendiri begitu banyak yang perlu dibaca dan dipahami untuk kemudian dapat diterjemahkan agar dapat menjadi bacaan orang banyak.
Tidak hanya di Timur dan Barat, tapi juga bagi makhluk ciptaan Tuhan yang ada dan berada di Utara dan Selatan.
Sehingga dengan begitu, akan memiliki getaran atau frekuensi sampai je langit di luar maupun langit di dalam diri manusia sendiri.
Seperti Tuhan yang bersemayam di kedalaman yang tak mungkin terjangkau oleh akal manusia yang paling jenius sekalipun.
Atas dasar itulah, kesadaran manusia untuk merenungkan hidup dan kehidupan dari dalam diisi sendiri, sangat penting tidak hanya sekedar untuk memahami rasa syukur terhadap kehadiran serta peran Tuhan bagi manusia, tapi juga bisa menjadi penuntun jalan spiritual mendaki untuk memahami betapa luasnya cakrawala pandang tentang kasih dan sayang Tuhan yang telah memberi anugerah pada diri kita yang tidak berdaya, kecuali atas kekuasaan-Nya.
Bayangkan. hanya untuk mengendalikan kentut saja, acap kali manusia tidak bisa untuk mengendalikannya. Apalagi untuk banyak hal yang lain, mulai dari kelahiran, kesehatan hingga kematian, entah kapan waktu dan saatnya akan tiba.
Oleh karena itu, untuk memasuki wilayah spiritual yang maha luas untuk memperkaya khazanah kebatinan hingga jiwa mulia kemanusiaan sebagai khalifatullah — wakil Tuhan di muka bumi — tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, rendah hati, penuh rasa welas asih, empati, menghargai serta menghormati dari keberadaan makhluk lain — utamanya sesama manusia lainnya.
Taman bungan dan buah sepanjang hamparan perjalanan spiritual yang indah, banyak etika, moral hingga akhlak mulia yang dapat dipetik untuk menambah energi diri, syukur, tawakal, jujur dan ikhlas serta sikap pasrah bukan karena tidak lagi hendak berikhtiar, tetapi mampu menerima kemenangan serta kekalahan memiliki hikmah yang patut direnungkan untuk menjadi kekuatan yang tak perlu disesumbarkan.
Karena sikap dan sifat yang ugahari sudah melebur dalam jiwa dan batin yang ditempa dalam proses perjalanan sang waktu, sebagai bagian dari milik Tuhan yang dapat dimanfaatkan oleh setiap manusia dengan baik dan efisien serta efektif, sebelum masa kontrak hidup di bumi habis masa tenggang waktunya, expired.
Agaknya, mungkin itulah sebabnya agama mengharamkan — melarang umatnya mabuk — sebab bisa kehilangan kesadaran diri hingga berada dibawah titik nol, menjadi sangat jauh untuk mengingat Tuhan.
Apalagi sampai mabuk kekuasaan dan kekayaan yang acap dianggap jaminan untuk kebahagiaan, sehingga korupsi, menyelewengkan jabatan untuk bertindak semena-mena sampai akhirnya harus berakhir di penjara.
Jadi, kesadaran itu adalah potensi diri untuk mawas diri, introspeksi, berkaca untuk melihat wajah batin dan jiwa kita yang sesungguhnya, apakah sudah bisa sinkron dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial hingga bisa harmoni seperti simfoni yang memiliki tata irama keindahan nada yang menggetarkan frekuensi hati untuk selalu bertasbih kepada Tuhan.
Begitu mudah dan gampang untuk mengarungi laku spiritual yang sangat dibutuhkan setiap manusia untuk memperkuat diri agar tak terkontaminasi dengan kehidupan duniawi. Sebab kesadaran untuk memasuki wilayah spiritual bisa dilakukan melalui perenungan pada hakikat eksistensi dari dalam diri sendiri.
Banten, 3 Oktober 2026 hu





