Jacob Ereste :
Menulis Laku Spiritual Untuk Memperindah Batu Nisan Sendiri Agar Peziarah Tak Sesat Jalan Dipekuburan
Menjadi penulis, sebagai bagian dari kesadaran laku spiritual akan menjadi semakin asyik ditekuni, karena tidak cuma mengasah sikap kritis, kepekaan daya serap yang semakin peka dari permenungan atas masalah yang mendera hidup dan kehidupan rakyat dari pengalaman pribadi atau dari hasil observasi langsung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat dipahami sebagai rangkaian dari pelaksanaan ibadah.
Oleh karena itu, upaya untuk berbuat baik serta melakukan hal-hal yang terbaik dari pemahaman kesadaran spiritual, akan selalu diupayakan peningkatan kualitas sajian, mulai dari muatan isi hingga kemas sajian yang harus dan wajib patuh dan taat pada etika, moral untuk kesempurnaan akhlak yang akan senantiasa teruji dalam perjalanan waktu, yaitu konsistensi komitmen serta kesadaran terhadap pemahaman tanggung jawab sosial dan moral di dunia maupun kelak diakhirat.
Agaknya, dari proses kematangan batin dan jiwa serupa itulah, seorang sahabat selaku penyair memahami benar bahwa apa yang dia bukan sekedar memberi kesaksian dari perjalanan panjang yang merentang pada suatu jaman, tetapi juga sebagai karya nyata dalam usaha mengukir batu nisan sendiri untuk mereka yang kelak hendak melakukan ziarah spiritual yang sakral untuk selalu mengingat kelak pun pasti akan berjumpa dengan Tuhan juga dalam suasana dialog yang lebih dan mengasyikkan.
Apalagi kemudian dari berbagai bentuk upaya dan usaha untuk berjumpa dengan Tuhan itu ternyata tempat dan keberadaan justru ada di kedalaman lubuk hati dan jiwa kita yang selama ini kosong — tak memiliki tata ruang seni arsitektur maupun asesoris multi fungsi yang ikut menebarkan aroma therapy jiwa yang kering, seperti saat musim kering akibat cuaca dan iklim ekstrim yang bersemayam di dalam diri.
Tampaknya, seperti itulah daya pantik dari semangat menulis bagi sang penyair yang acap terkesan berperilaku absurd, musykil dan naif, bahkan bagi sebagian anak muda yang akrab dan karib bergaul dengan dirinya sering tampak eksentrik, melampaui jaman. Dia pun senang melantunkan zikir alam semesta yang mengapung diantara bumi dan langit, meski nyaris tidak pernah didengar oleh siapa pun, seperti sholat para sufi yang dilakukan atas dasar kebutuhan, seperti asupan gizi dan energi yang perlu disuplai setiap waktu.
Karena waktu bagi dirinya disadari sebagai sesuatu yang tak pernah akan kembali. Atas dasar itulah, dalam kamus besar hidupnya dan kehidupan dirinya sungguh tak ada istilah pulang, sebab yang ada adalah perjalanan yang terus berlanjut, seperti hidup yang kemudian disebut mati. Padahal yang sesungguhnya yang terjadi adalah tamasya panjang layak bonus kerja tahunan yang tak pernah dinikmati sebelumnya untuk masa liburan yang indah dan panjang tak berujung. Persis seperti duplikasi dari syair Taufik Ismail, sajadah panjang yang membentang sampai ke liang kubur.
Hakikatnya menulis bagi seorang penulis adalah upaya untuk memperindah ukiran batu nisan sendiri, agar para tidak sampai tersesat di pekuburan yang terus menutupi permukaan bumi.
Pantai Indah Kapuk, 6 Oktober 2026





