BerandaOPINICandi Borobudur, Prambanan, Muara Jambi dan Muara Takus Potensi Wisata Spiritual Bangsa...

Candi Borobudur, Prambanan, Muara Jambi dan Muara Takus Potensi Wisata Spiritual Bangsa Yang Terabaikan

Candi Borobudur, Prambanan, Muara Jambi dan Muara Takus Potensi Wisata Spiritual Bangsa Yang Terabaikan

Oleh: Jacob Ereste

Tradisi dan budaya Thudong atau Dhutanga, sebagai upaya untuk memvetsihkan batin sudah ada sejak jaman Buddha Gautama, sekitar 2600 tahun lalu atau abad ke-6 Maseho. Sang Buddha Gautama menetapkan 13 praktik Dhutanga uktuk muridnya hidu sederhana. Yaitu memakai jubah dari kain buangan yang sudah tidak terpakai.

Makan hanya dari hasil pindapata ( sedekah dari orang lain). Tinggal di hutan dengan berlindung di bawah pohon dan di pekuburan tidak berbaring, hanya duduk saja.

Seorang murid Buddha Gautama yang paling terkenal disiplin dirinya adalah Bhikkhu Maha Kassapa. Tradisi Thudong ini terus dilestarikan di hutan Thailand. Dan tradisi Thudong sendiro di India nyaris punah, mulai kurang dilakukan. Tapi di Myanmar Thailand, Laos, Kamboja tetap lestari samai sekarang. Guru besarnya yang terkemuka adalah Ajahn Mun Bhiridatta dari Thailand yang hidup antara 1870 hingga tahun 1949.

Jadi. tradisi dan budaya Thudong bukan sesuatu yang baru, tetapi baru mencuat secara mendunia dengan berjalan ribuan kilometer seperti dari Thailand ke Candi Borobudur baru dilakukan pada tahun 2023.

Kronologi dari prosesi Thudong jalan kaki dari Thailand ke Candi Borobudur, di Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia berlangsung pada tahun 2023. Acara pelepasan peserta Thudong dari Thailand dilakukan oleh Wali Besar Bangkok tahun 2023. Lala pada tahun 2025 di Wat Phra Mahathstat, Nakhomn Si Thammarat yang dipimpin oleh Lumpo Bbikkhu Tertinggi Thailand.

Biasanya tasdisi Thudong dilakukan pada awal tahun seperti pada 25 Maret 2023 dan 6 Februari 2025. Jadi, Candi Borobudur dan Candi lainnya — seperti kelak bila perintah Indonesia cukup memiliki pergantian untuk merestorasi Cinda Muara Jambi di Jambi dan Muara Takus di Riau yang yang jauh lebih dahsyat besar dan mengagumkan itu, Indonesia pasti akan ketiban berkah yang luar biasa nilainya.

Tak hanya sebatas gengsi dan marwah bangsa yang pernah berjaya pada masa lampau dalam bentuk sejarah, seni arsitektur dan konstruksi bangunan serta pembuatan bahan batu batu seperti yang ada pada kedua candi di Sumatra itu, pasti akan lebih dikenal oleh dunia hingga bisa menyedot devisa bagi negara.

Betapa tidak, jika dari 500 juta umat Hindu dan Budha yang ada di dunia, 10 persen saja melakukan ziarah budaya spiritual ke candi yang ada di Indonesia, terutama Candi Muara Jambi dan Candi Muara Takus di Sumatera itu ditempuh melalui jalur singai yang indah dan menawan, maka pundi-pundi akan sangat membantu pemerintah dalam melakukan pemerataan ekonomi yang tak kunjung merata dapat dinikmati warga masyarakat sejak Indonesia merdeka yang kini nyaris memasuki usia seabad terbebas dari penjajahan bangsa asing. Meski pada realitasnya hari ini bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Indonesia sendiri.

Sekiranya potensi wisata spiritual bangsa Indonesia dapat segera dimaksimalkan fungsi dan peranannya, bukan hanya geliat ekonomi yang bisa terus bergerak dan berkembang serta membuka peluang usaha ekonomi kreatif — souvenir hingga kuliner daerah dapat hidup dan berkembang ikut mengharumkan bangsa dan negara Indonesia — tapi juga orientasi untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan bisa ditekan.

Setidaknya, kreatifitas dan gairah inovasi warga masyarakat sekitarnya dapat didorong untuk ikut berperan dalam berbagai bidang dan sektor ekonomi hingga seni dan budaya bangsa yang mampu memposisikan Indonesia pelopor daro peradaban dunia di masa depan.

Banten, 19 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini