BerandaOPINIJacob Ereste : Budaya Menjajah, Menguasai dan Mengendalikan Dalam Berbagai Bentuk Sandra

Jacob Ereste : Budaya Menjajah, Menguasai dan Mengendalikan Dalam Berbagai Bentuk Sandra

Jacob Ereste :
Budaya Menjajah, Menguasai dan Mengendalikan Dalam Berbagai Bentuk Sandra

Pada mulanya budaya manusia masih bersifat personal, sehingga kecenderungan untuk saling menggagahi antara yang satu dengan yang lain sering terjadi, kendati kemudian masih sering terjadi dalam keluarga, kelompok, komunal untuk saling menjaga dan melindungi.

Maka itu, perkembangan budaya manusia berikutnya acap diwarnai oleh perang antar kelompok, perang suku, hingga kemudian muncul komunitas yang lebih besar, membangun kebersamaan dalam satu wilayah agar dapat bertahan dari serangan kelompok masyarakat yang lain, sampai pada akhirnya inisiatif membenrtuk kerajaan atas dasar ide kepala adat masyarakat setempat yang didukung keluarga dari kelompok tersebut untuk menata kehidupan bersama yang lebih teratur, mampu bertahan dari serangan kelompok atau kerajaan yang lain.

Kesepakatan membentuk suatu pemerintahan dalam bentuk kerajaan ini didukung pihak keluarga serta ketabat dekat yang atas sepakat pada sosok terpilih yang paling mumpuni, dalam budaya suku bangsa Nusantara yang melahirkan tradisi musyawarah dan mufakat untuk menunjuk seorang pemimpin guna memberi arahan,, petunjuk, komando hingga seruan untuk melakukan sesuatu atau tidak boleh melakukan sesuatu dengan pertimbangan demi dan untuk kepentingan bersama agar tidak sampai menimbulkan kerugian, kegaduhan atau suatu perbuatan yang dapat merugikan semua anggota kelompok, hingga kemudian terus berkembang menjadi suatu masyarakat atau rakyat yang kuat dengan memperluas pengaruh hingga semakin luas berkembang dari tali menali keluarga hingga menjadi suatu masyarakat yang kuat

Baru setelah memasuki tahap perkembangan budaya berikutnya — bentuk pemerintahan tidak hanya dibangun dalam bentuk kerajaan,m — sehingga muncul model pemerintahan yang berbentuk republik, dimana seorang pemimpin perlu dipilih secara demokratis yang kini di sebut seperti Pilihan Umum di Indonesia. Meski pada awalnya pemerintahan Indonesia dibentuk atas inisiatif beberapa tokoh saja hingga kemudian memiliki Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Realitasnya begitu Indonesia merdeka secara otomatis munculnya seorang calon Presiden dan Wakil Presiden memperoleh dukungan spontan secara aklamasi menunjuk Presiden dan Wakil Presiden sesara devinitif Soejarno dan Moh. Hatta.

Pemilihan Umum di Indonesia pun sebagai syarat untuk kelanjutan dari negara berbentuk republik baru dapat dilaksanakan beberapa tahun kemudian. Sehingga sepanjang sejarah hingga tumbangnya Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, hanya bisa melaksanakan Pemilu sekali saja pada tahun 1959. Selanjutnya setelah Orde Baru berkuasa praktis sejak tahun 1966, baru bisa melaksanakan Pemilu oada tan 1971.

Afaknya dalam sistem pemerintah republik, mekanisme demokrasi yang harus diterapkan begitu rumit untuk mewujudkan pelaksanaan Pemilu yang jujur dan adil untuk menentukan seorang pemimpin di negara yang menganut sistem republik serta wakil rakyat yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat untuk pusat dan daerah.

Pada tahapan inilah budaya berbangsa dan bernegara menjadi semakin rumit dan komplek untuk dilaksanakan, tidak seperti dalam proses pergantian pemimpin di dalam sistem pemerintah kerajaan.

Akibatnya, rekayasa budaya dalam pelaksanaan proses Pemilihan Umum semakin luas berkembang dan liar sampai melahirkan budaya politik uang, ijon dan kontrak politik, hingga transaksi sebelum terpilih sudah yang sudah harus ditanda tangani, bahkan budaya saling sandra, termasuk politik pembusukan dengan melakukan tudingan atau bahkan tuduhan terhadap berbagai kasus yang direkayasa untuk menghambat rival sebagai pesaing agar tidak mendapat dukungan dari masyarakat begitu gencar dilakukan, apalagi kemudian mendapat balasan serangan balik dari rival yang tidak cuma satu yang harus dihadapi saat Pemilu siap untuk dilaksanakan.

Betapa rumitnya pola perkembangan budaya manusia sejak masa awal interaksi antar manusia semakin intensif terus berlangsung dari awal yang dapat dikatakan masih sangat primitif, hingga kemudian berkembang menuju alam modern hingga sekarang dapat disebut super modern dengan segenap rekayasa kecanggihannya yang serba tidak terduga bentuk manuvernya, hingga berujung pada saling sendera seperti yang terjadi dan dipraktikkan sekarang.

Jadi ada semacam rangkaian dari proses penjajahan dalam budaya yang masih relatif primitif, hingga model penguasaan dalam perkembangan pada era peralihan menuju model tercanggih dalam bentuk pengendalian semacam berada di ujung remove kontrol hingga dapat dijendalikan kapan pun untuk diarahkan ke bilik mana yang dikehendaki.

Inilah budaya paling mutakhir dalam dunia politik yang menjadi pilihan terampuh, yaitu kemampuan kemiliki banyak sandra yang bisa dijendalikan kapan pun saatnya diperlukan, seperti yang sudah membelengguh rantai pelaksanaan hukum, ekonomin dan bidang lainnya yang berada dalam genggaman.

Banten, 28 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini