Pasaman Barat | Mikanews.id – Kepala Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, diwakili Kasi Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam), Sufrinas, menghadiri pelepasan siswa dan wisuda tahfiz Pondok Pesantren (Ponpes) Subulussalam, Simpang Empat.
Pelepasan dan wisuda tahfiz di halaman pesantren itu, Sabtu (23/5) dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat, Pimpinan Pondok Pesantren, majelis guru, orangtua santri, dan undangan.
Kasi Pakis, Sufrinas, menyampaikan, atas nama keluarga besar Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, dirinya mengucapkan selamat kepada santri yang diwisuda dan dilepas dari pihak pesantren kepada orangtuanya masing-masing.
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, ulasnya, memperkuat eksistensi pesantren pada sistem pendidikan nasional. Kehadiran pemerintah, melalui Kementerian Agama di lingkungan pesantren semakin nyata dan terukur.
Menyoroti pentingnya upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan, perundungan (bullying), dan pelecehan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pondok pesantren harus berani melakukan perubahan dengan membangun tata kelola dan manajemen modern yang mampu menjamin keamanan serta kenyamanan seluruh santri.
“Pesantren harus memastikan tidak ada ruang yang tertutup dari pengawasan. Tidak boleh ada zona yang dianggap sakral dan bebas dari kewaspadaan. Bahkan ruangan seorang kiai sekalipun harus tetap terbuka terhadap mekanisme pengawasan yang sehat demi melindungi seluruh warga pesantren,” katanya.
Baca juga: Tragis di Pasaman Barat, Dua Warga Tewas Dalam Kolam Penampungan Getah Karet
Program Pesantren Ramah Anak yang dilaksanakan secara sinergis bersama Dinas Pendidikan, DP2KBP3A, serta berbagai instansi terkait lainnya di Kabupaten Pasaman Barat.
Kepada para santri yang mengikuti wisuda tahfiz, Kasi Pakis berpesan agar senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an dengan memperbanyak muraja’ah. Ia menegaskan bahwa muraja’ah merupakan salah satu bentuk kecintaan dan upaya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan pernah lelah melakukan muraja’ah. Hafalan yang telah diraih hari ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Selain itu, hormati dan hargailah para ustaz dan ustazah yang telah mendidik kalian. Sebagaimana ungkapan Abu Thalib, ‘Saya rela menjadi budak bagi seseorang yang telah mengajari saya walau hanya satu huruf,’” pesannya. (gmz)





