Membedah Peran Santri Dalam Gerak Perjuangan Bangsa Indonesia Yang Tak Kunjung Selesai
Gelar Tikar & Do’a Kebangsaan, Minggu, 19 Oktober 2026, pulu 19.30 sampai selesai di Halaman Kantor PC. NU, Jl. Kramat Jaya, Komlek UKA, Jakarta Utara.
Akan tampil bersama Ngatawi Al Sastrow, Budatawan NU dan Sri Ekp Sriyanto Galgendu, Ketua Umum GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indomesia) dalam refleksi dan meneladani semangat perjuangan santri.
Acara Gelar Tikar dan Do’a Kebangsaan ini diselenggarakan oleh LESBUMI (Lembaga Senimam Budayawan Muslim Indonesia) untuk mengulik peran sastri dalan derap perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia yang penuh pengorbanan tetesan darah dan nyawa.
Sementara LESBUMI yang sangat berperan semasa pra Gestapu hingga pembrantasannya dapat dipahami melalui polemik kebudayaan yang berhadap-hadapan langsung dengan organisasi dan budaya dari bagian sayap Partai Komunis Indonesia hingga dinyatakan terlarang oleh pemerintah Indonesia bersama Lekra melalui TAP MPRS No. XXV/ 1966.
Bermula dari Manikebu (Manfes Kebudayaan) tahun 1963 yang menentang keras pandangan bahwa seni harus mengabdi pada politil. Reaksi dari Manikebu ini terkait dengan pernyataan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang beraviliasi dengan PKI menyatakan bahwa seni harus untuk rakyat dan revolusi politik di Indonesia. Sedangkan Manikebu teguh bersikap bahwa seni hanya untuk kemanusiaan yang bersifat universal dan bukan alat politik seperti yang dikehendaki oleh Lekra bersama Partai Komunis Indonesia ketika itu.
Akibatnya. Manikebu dilarang oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964, karena dianggap menentang revolusi hingga banyak anggotanya yang dinyatakan sebagai musuh pemerintah. Padahal, Manikebu hanya membela kebebasan seni yang akan dijadikan alat politik.
Lekra yang didirikan pada 17 Agustus 1950 di Jakarta sudah relatif kuat menjelang peristiwa G30S tahun 1965 yang dominan menggimpun beanyak pelukis yang telah mempunyai sanggar atau studio dengan cantriknya yang juga banyak. Di antara pendiri Kekra adalah Joebaar Ajoeb, Riva’i Apin dan Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan di balik Manikebu dominan sastrawan, seperti Goenawan Mohammad, HB. Jassin, Wiratmo Soekito dan penyair Taufik Ismail serta sejumlah tokoh lainnya. Dan Ansor berikut Banser sebagai sayapnya organisasi cukup berperan dalam membasmi PKI dengan segenap anderbownya.
Dari Ansor dan Banser dapat dipahami peranan santri sebagai basis pendidikan keagamaan yang kuat tidak kecil peranannya untuk kemerdekaan Indonesia.
Adapun peran santri sejak pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Setidaknya, sejarah mencatat, Pumpinan Ansor Pusat pernah mengeluarkan seruan kepada Ansor dan Banser untuk bersiaga dan siap membantu ABRI bergerak bersama di seluruh pulau Jawa melakukan sweeping, penangkapan dan pembubaran organisasi yang beraviliasi dengan PKI, dantaranya Pemuda Rakyat., Lekra, BTI, Gerwani dan sebagainya yang terkait dengan organisasi terlarang itu seperti sekarang.
Banten, 17 Oktober 2026





