Oleh: Roland Mangkuto Sutan
Mikanews.id | Sinuruik 8 mei 2026, “Pemimpin yang sejati tidak akan bertanya kepada pihak lain tentang VISI dan MISI nya , apalagi membayar orang untuk membuatkan VISI MISI untuknya”.
Dalam perjalanan menjadi seorang pemimpin, baik di lingkungan daerah, masyarakat, maupun dalam berbagai organisasi dan lembaga lainnya, Pemimpin itu ibarat nahkoda yang menawarkan diri mengemudikan bahtera di tengah samudra yang luas. Bahtera yang berisi berbagai macam manusia dari berbagai golongan dan strata.
Tentu saja di atas bahunya terpikul tanggung jawab besar untuk dapat menentukan arah, menembus segala rintangan, serta membawa seluruh pihak yang dipimpinnya menuju tujuan yang dicita‑citakan.
Nah, Di sinilah letak kedudukan visi dan misi yang ia tawarkan dahulu sebelum terpilih, ia adalah kompas yang takkan pernah salah dan dan navigator yang akan senantiasa menuntun setiap langkah kebijakan yang akan diambil.
Baca juga:Â 19 Proyek Panas Bumi Ancam Hutan Ulayat Sumbar, Warga Mulai Bersuara Keras
Ia seharusnya menjadi pedoman bagi setiap kebijakan dan program – program serta menjadi landasan para Tim kreatif nya untuk berpikir. bukan hanya sekadar slogan atau jargon yang terdengar merdu di telinga, namun tak pernah tersentuh dengan aksi nyata.
Kenyataan yang kerap terjadi tentu saja amat memprihatinkan karena tak jarang seseorang yang telah berhasil terpilih menjadi pemimpin baik di daerah, di masyarakat, maupun di dalam organisasi dan lembaga lainnya dimana setelah ia resmi memangku jabatan, justru kebijakan‑kebijakan yang dia ambil tidak memiliki kaitan atau kesesuaian sedikit pun dengan apa yang pernah diucapkannya dengan penuh semangat pada masa pencalonan.
Apa yang dahulu digembar‑gemborkan hanya menjadi rangkaian kata untuk menghiasi panggung kontestasi yang setelah itu terlupakan begitu saja saat amanah sudah berada di tangan.
Hal ini pasti akan menimbulkan rasa kecewa yang mendalam di hati seluruh pihak yang telah mempercayainya, yang merasa harapan yang dibangun ternyata tak lebih dari janji kosong.
Sesungguhnya hal yang harus kita sadari bersama adalah bahwasanya visi dan misi itu adalah sebuah janji suci.dan sumpah yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan rakyat, warga masyarakat, atau seluruh anggota organisasi dan lembaga yang dipimpinnya di dunia ini, melainkan juga di hadapan Sang Pencipta kelak di akhirat nanti.
Setiap kalimat yang terlontar adalah sebuah kesanggupan yang telah diikrarkan, sehingga jika tidak dijalankan, berarti telah mengingkari amanah yang dipercayakan, dan beban tanggung jawab itu akan tetap melekat tidak akan terhapus selamanya.
Ia bukan sekadar alat untuk meraih dukungan melainkan kewajiban yang harus diemban dengan kesungguhan hati sepanjang perjalanan menjadi dan menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin.
” Tolak ukur kesuksesan pemimpin adalah kemampuan nya dalam merealisasikan semua VISI dan MISI nya ” .
Dari segala peristiwa yang telah terjadi di berbagai lingkungan, baik itu di daerah, di masyarakat, maupun di dalam organisasi dan lembaga lainnya, dapat kita ambil satu pelajaran yang amat berharga.bahwasanya yang di sepanjang perjalanan menjadi seorang pemimpin, sebelum seseorang melafazkan visi dan misinya, sebaiknya ia terlebih dahulu merenungka dengan sebaik‑baiknya.
Jangan sampai apa yang disampaikan semata‑mata hanya bertujuan agar terlihat hebat, tampak cerdas, atau sekadar terlihat mengagumkan di mata orang lain, padahal di dalam hati belum ada kesanggupan dan kesiapan sepenuhnya untuk mewujudkannya.
Menyusun visi dan misi bukanlah perlombaan siapa yang paling pandai merangkai kata – kata namun merupakan pernyataan kesanggupan yang harus dibuktikan di lapangan.
Jika hanya bertujuan untuk tampak menonjol, maka yang terjadi adalah penipuan publik yang pada akhirnya akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat, organisasi, maupun lembaga yang bersangkutan terhadap pemimpinnya.
Bila visi dan misi benar‑benar dijadikan pegangan setia sepanjang perjalanan menjadi dan menjalankan tugas sebagai pemimpin, maka setiap langkah kebijakan yang diambil, baik di tingkat daerah, masyarakat, maupun di lingkungan organisasi dan lembaga lainnya, akan selalu selaras dengan apa yang telah dijanjikan.
Ia akan menjadi landasan yang kokoh agar tidak mudah tersesat di tengah berbagai tantangan, kepentingan, atau godaan yang datang silih berganti.
Sebaliknya, apabila hanya dianggap sebagai ucapan yang indah belaka, bukan sebagai penunjuk arah yang sesungguhnya, maka arah kepemimpinan akan menjadi kabur, tidak memiliki tujuan yang jelas, dan lambat laun akan menjauh dari cita‑cita yang pernah disampaikan.
Inilah yang menjadi penyebab utama terputusnya kepercayaan di mana pun amanah itu disandang.
Oleh karena itu, bagi siapa saja yang sedang menempuh atau telah melangkah dalam perjalanan menjadi seorang pemimpin, baik di daerah, masyarakat, maupun dalam organisasi dan lembaga lainnya, hendaknya senantiasa menanamkan dalam hati: visi dan misi adalah kompas dan navigator yang tak tergantikan, bukan sekadar kata‑kata indah atau ungkapan semata.
Ia harus dipegang teguh, dihayati maknanya, dan dibuktikan dengan perbuatan nyata.
Tiada kata yang lebih berat namun paling benar: barang siapa melontarkan visi dan misi tanpa niat dan kesanggupan untuk mewujudkannya, sesungguhnya ia telah menanam benih pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat, sekaligus menanggung dosa pengingkaran yang kelak akan dihisab dengan amat teliti.
Jangan pernah berani mengucapkannya jika tak sanggup melaksanakannya, karena ia bukan sekadar janji kepada sesama manusia, melainkan sumpah yang tercatat di hadapan Yang Maha Mengetahui.
Ingatlah, kedudukan pemimpin bukanlah mahkota kemegahan, melainkan tanggung jawab yang berat — dan hanya mereka yang menjadikan visi misi sebagai penunjuk arah, bukan sekadar hiasan kata‑kata, yang akan selamat dan berjaya di dunia serta dibalas dengan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.




