Karanganyar | Mikanews : Di tengah rimbun hutan lereng Gunung Lawu, ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut, sekelompok warga dan pembaca Koran Pagi menggelar perjalanan spiritual bertajuk “Lelaku Penyatu Diri” di kawasan Pertapaan Prenggondani, Desa Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Selasa (16/06/2026).
Kegiatan ini dimulai pukul 23.00 WIB, saat kabut masih menyelimuti jalan setapak berkelok yang harus ditempuh sejauh 2 kilometer dari akses jalan utama.
Diiringi udara sejuk dan suara burung hutan, peserta berjalan kaki perlahan—bukan sekadar mendaki, melainkan menyusuri jejak sejarah dan nilai luhur budaya Jawa.
Prenggondani sendiri bermakna “tempat memperbaiki diri”, sesuai asal kata pring (bambu), nggon (tempat), dan dani (memperbaiki).
Jurnalis Koran pagi menjelaskan: “Kami ingin mengajak pembaca dan masyarakat kembali menengok ke dalam diri. Di tengah hiruk-pikuk kota, Prenggondani menjadi ruang sunyi untuk menenangkan hati, persis makna kata tumukninah yang sering kita dengar—meredakan gelisah dan menenteramkan jiwa.” tutur Bagus.
Rangkaian acara berlangsung sederhana namun mendalam: doa bersama, pembacaan ayat suci, perenangan, dan mandi berkat di Sendang Kemanten serta Sendang Kamulyan—dua mata air keramat yang dipercaya mengalirkan energi penyucian diri. Kawasan ini dikenal sebagai petilasan Eyang Panembahan Kacanegara, tokoh yang konon pernah bertapa di sini, dan juga dikaitkan dengan jejak Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.
“Suasana di sini benar-benar tumakninah. Rasanya semua beban pikiran terangkat, hati jadi damai sekali,” ujar Mami asal Tuban peserta pendakian pertapaan pringgodani
Ia mengaku datang karena sering membaca tulisan-tulisan renungan di Koran Pagi dan ingin merasakan langsung maknanya di tempat aslinya.
Menurut pengelola setempat, Prenggondani memang sudah lama menjadi tujuan lelaku para tokoh bangsa, termasuk Presiden Soekarno dan SBY, yang pernah berkunjung untuk bermeditasi dan berdoa.
Kini, tempat ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mencari ketenangan, dengan tiket masuk terjangkau dan fasilitas sederhana namun memadai.
Perjalanan berakhir sekitar pukul 03.00 WIB, saat sinar matahari mulai menembus dedaunan.
Peserta pulang bukan hanya membawa kenangan indah, tapi juga ketenangan batin yang mendalam—sesuatu yang sulit didapat di tempat lain.
“Koran Pagi berkomitmen terus mengadakan kegiatan serupa, menghubungkan nilai tulisan dengan pengalaman nyata di alam dan budaya kita,” tutup Bagus.
Prenggondani bukan sekadar tujuan wisata, melainkan cermin: tempat kita kembali, memperbaiki diri, dan menemukan kedamaian yang sejati.
(Red)
By: Team Eksplor Kopi





