BerandaOPINIMasjid Agung: Cermin Nyata Komitmen Pembangunan Daerah

Masjid Agung: Cermin Nyata Komitmen Pembangunan Daerah

Oleh: Khairul Amri
Pengamat Pasaman Barat

Masjid Agung Pasaman Barat berdiri gagah di jantung ibu kota kabupaten — Simpang Empat, Nagari Lingkuang Aua, Kecamatan Pasaman. Sebagai rumah ibadah milik Pemerintah Daerah, bangunan ini semestinya menjadi wajah keagamaan sekaligus kebanggaan seluruh masyarakat Pasaman Barat.

Namun realitas yang kita jumpai hari ini jauh dari kesan agung: air bersih sering tidak mengalir, atap bocor yang harus ditampung dengan ember saat hujan turun, tempat berwudu jamaah yang terlihat kotor, ornamen dan dinding yang pudar termakan usia, hingga halaman yang tak lagi terawat dan indah dipandang.

Berbagai keluhan ini terus bermunculan dari para jamaah yang datang beribadah — dari yang sekadar singgah shalat hingga yang rutin mengisi waktu di rumah Allah ini.

Kondisi memprihatinkan ini bukan sekadar masalah kerusakan fisik bangunan.

Ia menyentuh hal yang jauh lebih mendasar: komitmen pemerintah daerah terhadap visi besar yang telah dicanangkan untuk tahun 2025–2029, yakni “Terwujudnya Pasaman Barat yang Maju, Sejahtera, dan Berkeadilan Berlandaskan Agama dan Budaya”.

Masjid Agung, sebagai aset milik pemda sekaligus ikon kehidupan beragama di daerah ini, seharusnya menjadi simbol nyata dari landasan agama yang dijunjung tinggi dalam visi tersebut.

Pertanyaan yang muncul di benak banyak warga sangat sederhana namun tajam: jika masjid milik pemerintah sendiri — yang berada tepat di pusat ibu kota kabupaten — tidak mampu dikelola dan dirawat dengan baik, bagaimana mungkin kita yakin visi daerah yang begitu luhur dapat diwujudkan? Bagaimana kita bisa berbicara tentang pembangunan yang berlandaskan agama, ketika rumah Allah yang menjadi pusat kehidupan rohani warga justru terabaikan perawatannya? Bagaimana kita berjanji pada kemajuan dan kesejahteraan, sementara ikon kebanggaan daerah ini dibiarkan dalam kondisi yang jauh dari layak?.

RPJMD Kabupaten Pasaman Barat 2025–2029 telah memuat janji dan arah pembangunan yang disusun untuk kemaslahatan rakyat.

Dokumen itu bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan amanah yang harus dijalankan secara nyata, terukur, dan bertanggung jawab.

Pengelolaan dan pemeliharaan Masjid Agung sesungguhnya adalah ujian awal — sederhana namun sangat bermakna — bagi kesungguhan pemda dalam menerjemahkan visi yang tertuang di dalamnya.

Merawat rumah ibadah bukan sekadar soal pemeliharaan bangunan, melainkan wujud penghormatan terhadap nilai-nilai agama, penghargaan terhadap jamaah yang datang beribadah, serta bukti bahwa negara hadir nyata menjaga tempat suci umat-Nya.

Warga Pasaman Barat tidak menuntut kemewahan yang berlebihan. Mereka hanya menuntut hal yang mendasar dan pantas didapatkan: air bersih yang mengalir untuk berwudu, atap yang kokoh tak bocor saat hujan, tempat berwudu yang bersih dan layak, ornamen serta dinding yang terawat dan indah dipandang, serta halaman yang tertata rapi sebagai wajah daerah yang ramah dan bermartabat.

Itu semua bukan hal yang sulit, jika pengelolaan dilakukan dengan niat tulus, tanggung jawab, dan prioritas yang tepat.

Bangkitlah, Pemerintah Daerah Pasaman Barat! Wujudkanlah visi dan misi yang telah disepakati dan tertuang dalam RPJMD dengan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata.

Mulailah dari yang terdekat, dari yang paling terlihat, dan dari yang paling bermakna bagi kehidupan rohani rakyat — yaitu merawat dan memuliakan Masjid Agung kebanggaan kita bersama.

Rakyat telah menaruh harap, rakyat pun sedang menunggu janji-janji itu ditepati.

(Sekian)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini