Bukittinggi | mikanews — Budaya Minangkabau tidak cukup hanya dikenalkan melalui buku, cerita, atau pelajaran di kelas. SD Negeri 10 Aur Tajungkang Tengah Sawah (ATTS) Kota Bukittinggi memilih langkah yang lebih konkret dengan membiasakan budaya Minangkabau (MARAWA) dalam aktivitas sekolah.
Program tersebut diberi nama MARAWA 10, singkatan dari Mambiasoan Ragam Warisan Minangkabau, dengan semangat “Merawat Warisan, Menumbuhkan Generasi Berbudaya.”
Program MARAWA 10 resmi diluncurkan melalui kegiatan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Peluncuran dihadiri Koordinator Pengawas Sekolah Aswardi, S.Pd., M.Pd., yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.
Hadir pula Camat Guguk Panjang H. Heru Triastanawa, Lurah ATTS, Pengawas Sekolah Gugus 1, kepala sekolah se-Gugus 1, majelis guru, Komite Sekolah, perwakilan warga, serta sejumlah tamu undangan.
Pelepasan balon dan penabuhan tambua menjadi penanda dimulainya program tersebut. Bagi pihak sekolah, kegiatan itu bukan sekadar acara seremonial, tetapi awal dari upaya membawa adat dan budaya Minangkabau kembali hadir dalam keseharian siswa.
Ketua Panitia Pelaksana, Arif DT. Mangkuto Nagari, mengatakan MARAWA 10 lahir dari kesadaran bahwa Minangkabau memiliki kekayaan budaya yang sangat luas.
Kekayaan tersebut mencakup adat istiadat, bahasa, seni, permainan tradisional, hingga falsafah hidup yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.
Menurutnya, program ini memiliki empat dasar utama. Pertama, melestarikan budaya untuk memperkuat identitas dan karakter. Kedua, membangun kebiasaan melalui kegiatan nyata, berkelanjutan, dan menyenangkan.
Ketiga, mengenalkan budaya secara langsung melalui permainan, seni, dan adab sehari-hari. Keempat, menanamkan nilai raso jo pareso, sopan santun, gotong royong, dan tanggung jawab sejak usia dini.
“Program ini kami rancang agar budaya tidak hanya diketahui, tetapi juga dilakukan dan menjadi kebiasaan anak-anak,” papar Arif DT. Mangkuto Nagari.
MARAWA 10 akan dilaksanakan setiap Kamis pagi dengan melibatkan seluruh murid, guru, dan tenaga kependidikan.
Sekolah juga merencanakan Pentas Seni pada akhir tahun pelajaran. Kegiatan itu akan menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan hasil pembiasaan budaya yang telah mereka jalani selama program berlangsung.
Kepala SD Negeri 10 ATTS, Afriyenni, S.Pd., menegaskan MARAWA 10 bukan sekadar program tambahan untuk mengajarkan tarian atau lagu tradisional.
Menurutnya, program tersebut berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai hubungan generasi muda dengan budaya daerahnya sendiri.
“Kami bertanya: Apakah anak-anak masih mengenal budayanya sendiri? Apakah mereka masih bangga menjadi anak Minangkabau? Pertanyaan itulah yang melahirkan program ini,” ujar Afriyenni.
Ia menegaskan sekolah tidak ingin budaya Minangkabau hanya menjadi materi dalam buku, tersimpan di museum, atau sekadar cerita dari orang tua kepada anak.
“Kami ingin budaya itu tumbuh dan hidup di sekolah,” tegasnya.
Afriyenni meyakini pembentukan karakter membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten. Menurutnya, pengalaman yang dilakukan berulang kali dapat berubah menjadi kebiasaan, kemudian berkembang menjadi karakter.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan MARAWA 10. Dukungan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan diharapkan terus berlanjut agar program tersebut dapat berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Camat Guguk Panjang H. Heru Triastanawa menilai MARAWA 10 merupakan langkah strategis dalam menjaga identitas budaya Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
“Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Harus sampai ke pengamalan,” tegas Heru.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri dan identitas sebagai orang Minangkabau. Menurutnya, MARAWA 10 sejalan dengan visi Kota Bukittinggi dalam mewujudkan generasi gemilang.
Apresiasi juga disampaikan Koordinator Pengawas Sekolah Aswardi, S.Pd., M.Pd. Ia menyebut MARAWA 10 sebagai sarana untuk kembali membudayakan nilai-nilai luhur warisan leluhur di lingkungan pendidikan.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. MARAWA 10 adalah sarana tepat untuk membudayakan kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur di lingkungan pendidikan,” ungkap Aswardi.
Ia juga menyampaikan bahwa Wali Kota Bukittinggi Ramadhani menilai program tersebut menarik dan atraktif serta layak mendapatkan dukungan.
Sementara itu, Pengawas Sekolah Gugus 1, Sri Yomila Putri, mengingatkan bahwa keberhasilan MARAWA 10 tidak ditentukan oleh kemeriahan peluncurannya.
Menurutnya, ukuran keberhasilan program justru terletak pada konsistensi pelaksanaan dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
“Di tengah kemajuan teknologi, anak-anak boleh dan harus mahir ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi rasa bangga dan akar budaya Minangkabau harus tetap tertanam kuat di hati mereka,” pesannya.
Sri Yomila berharap MARAWA 10 tidak berhenti sebagai program satu sekolah. Ia mendorong agar semangat tersebut berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan guru, orang tua, dan masyarakat.
Penabuhan tambua dalam peluncuran MARAWA 10 menjadi simbol dimulainya pembiasaan budaya Minangkabau di SD Negeri 10 ATTS.
Melalui program tersebut, sekolah berharap siswa tidak hanya tumbuh sebagai generasi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, tanggung jawab, serta kebanggaan terhadap identitas Minangkabau.
Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup melalui perilaku dan keseharian generasi muda. (MS)





