Yogyakarta | Mikanews : Ketahanan masyarakat menghadapi bencana tidak boleh hanya mengandalkan pertolongan setelah musibah datang.
Pencegahan dan pemulihan lingkungan sejak awal justru menjadi fondasi paling kuat untuk menekan risiko kerugian.
Demikian ditegaskan Ketua Umum Palang Merah Indonesia sekaligus mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, dalam pidato penutupan Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana / Muhammadiyah Disaster Management Center (LRB/MDMC) PP Muhammadiyah, di BBPPMPV Seni dan Budaya, Yogyakarta, Ahad (13/9/2026).
Pria yang akrab disapa JK ini mendorong Muhammadiyah untuk memelopori gerakan mitigasi berakar dari hulu, khususnya menangani akar masalah banjir dan kekeringan.
“Prinsipnya sama seperti dokter: mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Kita harus mundur selangkah, menangani penyebab bencana yang bisa diprediksi sejak awal—seperti kerusakan hutan dan daerah tangkapan air yang memicu banjir,” ujarnya.
Ia memberi contoh sederhana namun bermakna: pemanfaatan air sisa wudu di masjid untuk menyiram tanaman dan mengembangkan bibit pohon. Langkah kecil ini bukan sekadar menghemat air, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa merawat lingkungan adalah tanggung jawab setiap orang, setiap hari.
JK menegaskan, meski pencegahan diutamakan, kecepatan pertolongan di masa darurat tetap menjadi penentu nyawa.
PMI sendiri menetapkan standar: bantuan harus tiba di lokasi paling lambat enam jam setelah bencana terjadi.
Namun kecepatan itu tak akan berjalan tanpa kesiapan logistik yang matang.
“Masyarakat yang terkena bencana tidak butuh ucapan ‘sabar-sabar’. Mereka butuh makanan, pakaian, tempat berlindung, dan air bersih—segera,” tegasnya.
Di kesempatan itu, JK juga menyampaikan saran yang disambut tawa hadirin: nama lembaga penanggulangan bencana sebaiknya singkat, mudah diingat, dan dalam bahasa Indonesia.
“Kalau namanya panjang dan pakai istilah asing, warga di daerah bisa lupa saat sedang panik butuh bantuan. Cukup dua atau tiga kata, misalnya ‘Surya Membantu Bencana’,” katanya.
Terlepas dari itu, JK mengapresiasi jangkauan Muhammadiyah yang didukung jaringan rumah sakit, perguruan tinggi, struktur organisasi, hingga ribuan relawan yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Kekuatan ini dinilai sangat berharga untuk menjadikan Indonesia tidak hanya siap bertahan saat bencana, tetapi semakin tangguh mencegahnya sejak dini.
(PD)





