BerandaOPINIAntara Dungu Dengan Yang Bijak Selalu Menunggu Proses Sang Waktu

Antara Dungu Dengan Yang Bijak Selalu Menunggu Proses Sang Waktu

Jacob Ereste :
Antara Dungu Dengan Yang Bijak Selalu Menunggu Proses Sang Waktu
Ketika Ricky Gerung yang terkenal karena kritis terhadap kebijakan dan program pemerintah yang matching dengan harapan dan kepentingan rakyat, tiba-tiba menerima ajakan nongkrong ngopi di Istana dengan fasilitas mewah dan ongkos serta kebutuhan lain kisaran 75 juta rupiah per bulan, banyak pengagumnya yang terkesan kecewa, minimal dari posisinya yang ditempatkan sebagai wakil suara rakyat kebanyakan, seperri telah dia tinggalkan begitu saja, sehingga membuka peluang untuk digantikan oleh figur kritis berikutnya, minimal setara — kalau pun tidak bisa berlebih — dari keberanian dan ketajaman analisis dan argumen Rocky Gerung yang sulit untuk dipatahkan. Dan Rocky Gerung dendiri memang selalu tampil untuk mengajak duel argumen.

Dia selalu menantang berkelahi dengan berbagai jurus akademik — utamanya dengan ilmu silat filsafat serta jurus hukum yang cukup luas, setelah menggelandang di ladang universitas, hingga kepustakaan dunia yang tak banyak dijamah pesilat dari kampung kita.

Masalah perasaan kecewa para pengagum Rocky Gerung yang bersandar dari balik tirai konsistensi dan komitmen tang tidak tertulis, terlalu cepat asyik dan. merasa puas hanya untuk bermain di halaman rumah sendiri. Seakan memiliki hak untuk melarang pecinta alam untuk berpindah tempat ngopi di Istana.

Rasa keterwakilan dari sosok Rocky Gerung justru patut dipahami sebagai bagian dari varian pengembaraan intelektual yang bebas dan merdeka oleh intelektual akademis manapun terhadap kebebasan dan kemerdekaan individu yang telah mempertaruhkan reputasi maupun kredibilitas dirinya dengan segala resiko dan konsekuensi, termasuk ketika bergeser dari tempat duduk di warung kopi ke ruang AC Istana yang sejuk — hingga bisa diharap dapat lebih jernih mengolah daya pikir dan akak sehat agar bisa lebih fokus menuntun para pengendali pembangunan di negeri ini.

Jadi rasa dari keterwakilan dari sosok Rocky Gerung dalam menyuarakan kegundahan hati terhadap ancaman keambrukan negeri akibat ulah dari ugal- ugalan pejabat yang merasa lebih sebagai penguasa ketimbang amanah yang dipercayai dari rakyat, perlu dijinakkan sikap dan sifat yang liar itu.

Seperti perilaku koruptor serta aparat penegak hukum hingga petugas di Lapas, merasa berhak untuk menikmati uang sisa yang begitu melimpah, hingga membangun duplikasi Istana yang mengejek kemiskinan rakyat akibat kesalahan sendiri untuk tidak ikut ugal-ugalan di jaman edan ini.

Bergesernya tempat duduk ngopi dari pinggir jalan ke Istana, tidak perlu diratapi, sebab setiap orang memilki hak untuk mendapatkan suasana baru yang yang juga dianggap bisa lebih terasa segar dan gampang untuk membisikkan suara rakyat yang lirih tidak terdengar dan mungkin saja tidak juga pernah menjadi perhatian Presiden.

Karena yang harus dan wajib untuk diurus, buka. hanya sebatas habitat ekonomi, politik dan hukum yang telah menjadi barang dagangan di pasar bebas, tapi juga telah menjadi pisau penjagal untuk siapa saja untuk dijadikan hewan sembelihan.

Maka itu. pada saat yang — ketika Rocky Gerung harus menolak
ajakan Presiden duduk manis sambil menikmati kopi Istana yang pasti gurih dan sedap, bisa segera dibayangkan bagaimana akibat dari ajakan islah yang ditolak itu bisa mencapai titik temu yang terbaik, walau tetap sulit untuk menghapus — atau lebih tepatnya anggapan — telah terjadi pengkhianatan.

Konsistensi dan komitmen dari semua aktivis dan kaum pergerakan yang tidak tertulis ini memang tidak memiliki delik sanksi hukum dan moral yang pasti, apalagi pengujiannya masih sedang diproses oleh sang waktu. Walaupun kelak terbukti seperti adanya kisah pengkhianatan intelektual dari para cerdik pandai kita, toh sejarah tidak lalai mencatat, seperti sejumlah kisah legendaris dunia pada ribuan tahun silam yang tak luput juga dari pergunjingan sepanjang masa.

Karena itu, percaya pada nilai berlian yang tidak akan melorot harganya setelah dibawa masuk ke kandang keledai yang dungu sekalipun, tetap bisa diharap memiliki nilai yang tinggi. Sebab makhluk yang paling pandir sekalipun, tetap bisa diharap untuk berubah. Tapi beda bagi manusia yang arif dan bijaksana, justru dapat diharap mengubah mereka yang dungu dan pandir bisa berubah menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Pecenongan, 5 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini