Pasaman Barat, Mikanews.id |Â Kepala Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, Thomas Febria, minta kepala madrasah bersama jajaran selalu mengawasi peserta didiknya. Jauhkan aksi bulliying dan tindakan lain di tengah mereka. Baik atau tidak dan bermutu atau tidaknya citra madrasah ditentukan kepala madrasah bersama jajaran.
Hingga saat ini, ulasnya, harmonisasi antar siswa madrasah di setiap satuan pendidikan di Pasaman Barat masih aman, tertib dan kondusif. Kendati demikian, agar kondisi yang merusak nama baik lembaga, maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap kepala madrasah bersama jajaran, secara bersama dan berkelanjutan memantau kondisi setiap peserta didiknya.
Penjelasan ini disampaikan, Thomas Febria, dihadapan kepala madrasah negeri dan swasta se Pasaman Barat di aula kantor itu, Simpang Empat, Rabu (2/9). Kegiatan ini, sejalan dengan rapat persiapan pelaksanaan OMI (Olimpiade Madrasah Indonesia) tahun 2026 untuk tingkat Sumatera Barat yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan.
Dari informasi yang diperoleh, seperti melalui televisi, media dan akun Facebook di tengah masyarakat, kata Thomas Febria, anyak kasus gangguan kesehatan mental akibat bullying yang tidak tertangani dengan baik. Oleh karena itu dia selalu mengingatkan personelnya agar selalu melakukan sosialisasi pada masyarakat akan bahaya bullying,” katanya.
“Kebanyakan kasus bullying terjadi lingkungan anak-anak dan remaja. Bullying sangat beragam baik secara fisik, verbal, sosial, hingga cyber. Kecanggihan digital saat ini, sangat memungkinkan terjadinya cyberbullying.
Dampak lain dari bullying adalah dapat menyebabkan masalah kesehatan dan tindakan bullying, dapat meningkatkan resiko untuk merusak dan menyakiti diri yang akan berdampak pada kesehatan tubuh. Selain itu anak yang mengalami tindakan bullying di sekolah pasti takut dan tidak mau berangkat sekolah, kemungkinan anak untuk berbohong akan perlakuan yang dialaminya juga sangat mungkin terjadi.
Penurunan prestasi akademik pada anak akibat bullying sangat mungkin terjadi, karena anak tidak akan fokus mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas karena anak merasa terancam dan merasa tidak nyaman,” sebutnya. Di lingkungan keluarga dan masyarakat, orang tua harus mewaspadai jika si anak mengalami perubahan, seperti malas ke sekolah, prestasi akademik menurun dan sering melamun.
Orang tua, guru serta pihak terkait dapat melakukan pencegahan bullying terhadap anak, seperti memberikan dukungan pada anak. “Berikan support dan dukungan kepada anak yang menjadi korban bullying. Orang tua juga harus selalu mendukung dan peduli kepada anak apapun situasinya, agar anak tidak takut berbicara kepada orang tua atau guru saat mendapat perlakuan tidak baik,” tambah Thomas Febria, mengingatkan. (gmz)





