BerandaOPINIEtika Penampilan Dalam Media Sosial Berbasis Internet Harus Dibangun Bersama Dengan Baik...

Etika Penampilan Dalam Media Sosial Berbasis Internet Harus Dibangun Bersama Dengan Baik dan Ugahari

Etika Penampilan Dalam Media Sosial Berbasis Internet Harus Dibangun Bersama Dengan Baik dan Ugahari

oleh: Jacob Ereste

Kepentingan dan hak rakyat itu pasti dan jelas meliputi kepentingan dan hak penguasa yang zalim sekalipun. Tapi kepentingan penguasa — apalagi yang zalim — dapat dipastikan abai terhadap kepentingan rakyat dan hak rakyat.

Sebab kepentingan dan hak rakyat pasti bertentangan dengan kepentingan dan hak penguasa yang pasti rakus dan tamak untuk mengangkangi hak dan kepentingan rakyat yang akan selalu dilemahkan dalam berbagai hal, terutama untuk mempertahankan kepentingan dan hak yang harus dipertahankan dan dan diperjuangkan.

Karena itu dalam sejarah berbagai bangsa di dunia, bentuk perlawanan rakyat selalu saja ada, tapi perlawanan penguasa tidak pernah ada, namun yang ada adalah penindasan

Statemen ini untuk menjawab pernyataan nyinyir terhadap tulisan saya yang berjudul Program Presiden Prabowo Subianto yang Pro Rakyat Patut Didukung, seperti yang sudah bertebaran dalam berbagai media sosial berbasis internet pada hari Jum’at, 25 September 2026.

Karena ada ada pemirsa atau pembaca yang berkomentar nyinyir dengan menyandingkan secara logika yang miring : bila yang pro rakyat patut didukung, maka pembangunan yang pro pejabat apakah perlu untuk diruntuhkan, kata seorang pemberi komentar yang saya anggap nyinyir dan leboh terkesan cuma ingin mengolok-olok semata itu tanpa ada nilainya yang positif untuk ikut melakukan pencerahan bagi pembaca yang cukup banyak mengikuti media sosial yang menyajikan paparan tersebut.

Yang lebih terkesan naib dalam pertanyaan yang nyinyir dan terkesan mencolok-olok itu, caranya menyandingkan secara literer persamaan antara penguasa dengan rakyat serta hak dan kepentingan dari penguasa dan rakyat, sehingga cara memandang kepentingan serta hak dari kedua pihak tersebut, sengaja membuat jebakan konyol yang salah kaprah dalam pemahaman yang seharusnya patut memberi pencerahan terhadap akal sehat yang berkemajuan, sesuai dengan harapan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Karena itu rakyat tidak bisa disandingkan secara dikotomis dan serendah itu, lantara pihak masing-masing memiliki nilai keistimewaan tersendiri yang cukup mulia, tinggal bagaimana masing-masing pihak itu mampu menjunjung tinggi nilai kemuliaannya yang otentik dan orisinil.

Lain halnya dengan penguasa yang tidak ada dalam khazanah tata negara yang normal, karena istilah penguasa itu muncul begitu saja dalam bentuk ekspresi masyarakat yang menyaksikan sekaligus merasakan tekanan dari perilaku penguasa akibat sikap dan perilakunya yang otoriter, dispotik, semena-mena dan menindas rakyat.

Karena tidak mau menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pengabdi, pelayan dan pelindung rakyat, seperti yang diucapkan saat bersumpah hendak memangku jabatan yang ajan dia pikul dengan segenap rasa tanggung jawab untuk menjalankan amanah — pengabdian — sebagai pejabat negara atau aparatur negara yang harus dan wajib mengabdi dan mengurus kepentingan rakyat, bukan kepentingan dirinya sendiri, seperti yang dipraktekkan oleh mereka yang memposisikan dirinya as sebagai penguasa.

Pertanyaan atau pun komentar yang nyinyir yang dilontarkan itu — yang lebih terkesan mengejek — jelas merupakan kegenitan, kalau tidak bisa dikatakan kedengkian intelektual dari sifat dan sikap naib yang kekanak-kanaan, karena tidak mampu untuk mengaksentussikan diri guna menemukan arah dari eksistensi diri untuk berlabuh secara tertib dan sempurna dalam sebuah bandar besar tempat bersandar sekaligus mengisi memuat yang tak cuma sekedar berbobot, tapi juga bernilai tawar untuk orang banyak.

Bukankah sebaik-baiknya manusia itu adalah mereka yang mampu memberi banyak manfaat bagi orang lain. Sehingga semangat untuk berlomba melakukan kebaikan dapat menjadi motivasi diri untuk tidak iri dan dengki, sehingga bisa menghasilkan produksi pemikiran yang sehat dan jernih untuk memperkaya kebahagiaan hidup tidak hanya sebatas material semata, tapi juga kaya raya dalam dimensi spiritual.

Hingga dengan begitu, sikap dan sifat ugahari tidak sampai tereduksi yang sangat rawan menimbulkan etika yang lemah, moral yang rapuh serta akhlak sebagai pembingkai kepribadian yang terpuji membuat citra diri menjadi buruk dan tercela, tidak bermartabat.

Berbagi cerita dan pengalaman serta informasi sangat baik untuk dibagikan melalui media sosial berbasis internet, sebagai bagian dari bentuk ibadah kebaikan yang patut dikemas sebaik mungkin agar dapat memberi banyak manfaat bagi banyak orang yang membaca dan menikmatinya sebagai pengetahuan baru atau bahkan pengalaman spiritual bukan bukan hanya sebatas kecerdasan intelektual.

Sebab dengan begitu harapan untuk membangun peradaban yang lebih baik, dapat dicapai dari kesadaran yang taat dan patuh pada etika sebagai penyangga moral untuk memuliakan akhlak manusia agar tidak semakin kropos dan mengerikan untuk masa depan yang terus berubah, tanpa bisa diprediksi arahnya, seperti yang terjadi pada hari ini.

Banten, 25 September 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini