BerandaOPINIJejak Pikir dan Jejak Rasa Bangsa Barat dan Bangsa Timur Berbeda Dalam...

Jejak Pikir dan Jejak Rasa Bangsa Barat dan Bangsa Timur Berbeda Dalam Mensikapi Cara Hidup

Jejak Pikir dan Jejak Rasa Bangsa Barat dan Bangsa Timur Berbeda Dalam Mensikapi Cara Hidup

Oleh: Jacob Ereste

Orang Barat lebih dominan menggunakan otak (akal), orang Timur dominan menggunakan hati (Iman), karenanya orang Barat selalu berkata, saya pikir, tapi orang Timur selalu berkata aku rasa. Agaknya, itulah sebabnya para Nabi — tokoh agama — semua lahir dari Timur, tidak dari Barat.

Dan Barat memang banyak melahirkan filsuf, bukan para sufi dan pelaku spiritual yang tekun. Karena itu, Pemimpin Spiritual dunia akan lahir dari Timur. bukan dari Barat.

Dalam laku spiritual yang sudah banyak ditekuni oleh orang Barat sejak 40 tahun terakhir — satu generasi — belum juga melahirkan seorang tokoh spiritual yang tangguh, karena mereka tersesat di jalan terang, mencari Tuhan di luar dirinya — tidak ke dalam — karena pengembaraan spiritual yang sesungguhnya memasuki ke kedalaman hati yang paling mendasar, ialah iman.

Sebab pikiran memang dapat mempercepat menuju tujuan, tapi tidak menentukan arah dari tujuan yang diinginkan, yaitu. mendekatkan diri kepada Tuhan.

Jadi jelas, perbedaan cara menggunakan daya pikir dan daya rasa antar bangsa Timur dan Bangsa Barat dalam mensikapi cara hidup jelas menentukan orientasi dalam memaknai hakikat hidup hingga menghasilkan pola budaya sampai peradaban besar mensikapi alam kehidupan, manusia dengan segenap makhluk ciptaan Tuhan yang berujung pada keyakinan terhadap Tuhan. Karena itu jelas muatan nilai spiritiual dan keagamaan hingga budaya menjadi kontras antara Timur dan Barat.

Kodrat bawaan manusia Barat dan manusia Timur yang kontras ini — yang berpijak pada rasa (bayin) berbeda dengan akal (pikiran) ini, sehingga semua pendekatan dalam hidup dan kehidupan menghasilkan produk budaya manusia — yang meliputi cara berpikir, cara memandang dan cara mensikapi hidup dan kehidupan hasil rekayasa otak yang ilmiah dan rasional,, namun abai pada nilai kemanusiaan — kemaslahatan — bernilai illahiyah.

Atas dasar itulah kekosongan hati dan jiwa — meski menghasilkan suatu produk terunggul sekalipun — mulai dari ilmu dan teknologi dalam berbagai bidang sektor pekerjaan — ekonomi, politik, sosial dan budaya serta keagamaan — seperti barang artifisial belaka, tidak memiliki ruh meski dalam produk mesin yang hidup dan mampu dikendalikan oleh kecerdasan manusia.

Agaknya, atas dasar itulah Sri Eko Sriyanto Galgendu, Wali Spiritual Nusantara yakin dan percaya bahwa gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual akan tampil dan lahir dari bumi Nusantara untuk memimpin dan menjadi sentral gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual dari Timur.

Dari kajian siklus setiap tujuh abad, perubahan besar manusia sudah ditandai oleh tampilan para Nabi (Isa Alaihisalam) pada siklus tujuh abad kedua tampil Nabi Besar Muhammad SAW, baru kemudian pada siklus perubahan tujuh abad ketiga terjadi renaissance di Eropa setelah dua peristiwa pertama dan kedua terjadi di Timur.

Dan kini — siklus perubahan besar berikutnya yang ke empat akan kembali ke Timur dengan yang akan ditandai oleh gemuruhnya kebangkitan spiritual yang bersifat global dan universal akibat manusia abai pada etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai ciptaan Tuhan paling sempurna untuk mengemban tugas illahiyah sebagai wakil Tuhan di bumi. Khalifatullah fil ‘ardhi.

 

Banten, 25 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini