BerandaOPINILiterasi Harus Melahirkan Pejuang, Bukan Pengkhayal

Literasi Harus Melahirkan Pejuang, Bukan Pengkhayal

Literasi Harus Melahirkan Pejuang, Bukan Pengkhayal
Oleh: Roland Mangkuto Sutan
“Membaca bukan hanya untuk menghibur diri, tetapi untuk membangun karakter, memperluas wawasan, dan menciptakan perubahan.”
Ketika mendengar istilah literasi, sebagian besar orang masih memaknainya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi jauh lebih luas dari itu. Literasi merupakan kemampuan seseorang untuk memahami informasi, mengolahnya menjadi pengetahuan, lalu menggunakan pengetahuan tersebut dalam mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, akses terhadap informasi menjadi semakin mudah. Dalam hitungan detik, masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi melalui buku, media sosial, situs berita, maupun video daring.

Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk memahami, menyaring, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Di sinilah pentingnya literasi sebagai bekal utama menghadapi derasnya arus informasi.

Literasi yang kuat seharusnya tidak hanya menghasilkan individu yang gemar membaca, tetapi juga melahirkan masyarakat yang mampu berpikir kritis, menganalisis persoalan, dan menghadirkan solusi.

Sayangnya, fenomena yang berkembang di tengah masyarakat menunjukkan bahwa sebagian orang lebih tertarik pada bacaan yang hanya menjadi pelarian sesaat. Bacaan bertema percintaan dan hiburan sering kali mendominasi minat baca karena dianggap mampu memanjakan emosi serta memberikan ruang berfantasi.

Tidak ada yang keliru dengan membaca karya fiksi ataupun cerita romantis. Banyak karya sastra justru menyimpan nilai kehidupan yang mendalam dan memberikan pelajaran berharga bagi pembacanya.

Namun, persoalan muncul ketika minat baca masyarakat hanya berputar pada tema-tema yang bersifat hiburan semata. Sementara itu, buku-buku mengenai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, kewirausahaan, maupun pembangunan karakter justru kurang diminati.

Padahal, bangsa yang besar membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai bermimpi, tetapi juga mampu memahami realitas kehidupan, berpikir kritis, serta berani mengambil tindakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Baca Juga: Khatam Al-Qur’an 35 TPA dan MDA di Lembah Melintang, Bupati Yulianto Dorong Lahirnya Generasi Qurani

Literasi yang baik harus mampu melahirkan keberanian untuk bertindak, bukan sekadar kemampuan untuk berkhayal.

Selain itu, literasi juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya bangsa. Melalui kegiatan membaca dan belajar, generasi muda dapat mengenal sejarah bangsanya, memahami adat istiadat daerahnya, serta mempelajari nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Literasi menjadi jembatan untuk merawat warisan budaya agar tidak hilang di tengah derasnya arus globalisasi. Bangsa yang kehilangan budaya dan sejarahnya akan mudah kehilangan arah dalam menentukan masa depan.

Karena itu, gerakan literasi tidak boleh berhenti hanya pada aktivitas membaca buku. Literasi harus berkembang menjadi budaya berpikir, budaya berdiskusi, budaya belajar, dan budaya berkarya.

Masyarakat yang memiliki literasi tinggi akan lebih mampu membedakan fakta dan opini, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, serta memiliki kesadaran untuk terus belajar sepanjang hayat.

Pada akhirnya, keberhasilan literasi tidak diukur dari seberapa banyak buku yang telah dibaca seseorang. Keberhasilan literasi justru terlihat dari sejauh mana pengetahuan tersebut mampu membentuk karakter, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebab bangsa yang maju bukanlah bangsa yang hanya gemar membaca. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengubah hasil bacaannya menjadi gagasan, karya, inovasi, dan tindakan nyata.

Literasi harus melahirkan pejuang, bukan pengkhayal.

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini