Jacob Ereste :
Mengisi Masa Pensiun Menjadi Penulis Adalah Pilihan Bijak Agar Tidak Membuat Kekacauan Dalam Mssyarakat
Ketika kesadaran menulis bukan hanya sekedar untuk menghibur diri, tapi juga terapi jawa dan kesehatan agar tetap bugar, semakin cerdas, tidak pikun dan kehilangan daya nalar yang kritis — bakan untuk mengisi hari tua setelah pensiun — maka pekerjaan menulis dapat dipahami sebagai ibadah dalam upaya berbagi ilmu, pengetahuan serta pengalaman tentang berbagai pernik-pernik hidup dan kehidupan yang sangat mungkin bisa mendatangkan manfaat juga bagi orang lain.
Karena itu, ekspresi dari kesadaran nenulis dalam berbagai media cetak. jurnal dan majalah hingga media sosial berbasis internet yang kini menjadi idola unggulan warga masyarakat lokal, regional dan nasional hingga internasional dapat mencerminkan sosok kepribadian dari sang penulis dalam berbagai perspektif keilmuan, pengetahuan, hingga keluasan wawasan serta pemahaman yang multi komplek bisa terbaca dari bobot, gaya dan selera bahasa pemaparan dari sajian tulisan yang bersangkutan.
Tradisi dan budaya menulis, bisa saja baru bertumbuh kemudian setelah usia pensiun, apalagi bagi mereka yang tidak percaya pada usia pensiun seharusnya sudah tinggal menikmati masa tua dengan cara konvensional, asyik dengan burung perkutut atau sekedar lari-lari pagi hingga menjelang siang, mandi dan terus makan siang untuk kembali beristirahat atau sekedar membaca buku dan kitab suci, sholat zuhur sebelum akhirnya tidur siang sampai senja tiba untuk melakukan sholat azhar.
Apalagi untuk sebagian besar mereka yang telah pensiun seusai menjadi pejabat yang cukup mempunyai pengaruh besar saat bertugas, acap merasa kehilangan pedoman untuk mengisi masa pensiun yang bisa lebih banyak mendatangkan manfaat — akibat didera oleh psiko power sindrom — yang tak pernah terbayangkan sebelumnya harus berbuat apa pada masa pensiun yang seharusnya bisa lebih indah untuk dinikmati, apalagi dengan deposito atau jaminan Taspen yang besar.
Biasanya untuk mereka yang tidak siap memasuki masa pensiun — seperti jabatan tertentu yang dibatasi oleh periode waktu tertentu — lebih dominan tidak siap menerima realitas kehidupan yang mengandung dirinya masih ingin tetap berkuasa dan miliki otoritas luas untuk berbuat sesuai dengan keinginan hatinya, akan mengalami penyakit yang dimaksud dari power sindrom.
Akibatnya, bisa ngaco — bahkan terus cawe-cawe, karena merasa dirinya masih berkuasa, meskipun sudah berada di luar Istana.
Perilaku yang ngaco dari sosok seorang mantan penguasa yang sudah ditanggalkan kekuasaannya — atas dasar Undang-undang sekalipun — dapat disaksikan sepanjang sejarah rezim penguasa dalam bentuk republik utamanya, meski kegaduhan di bilik keraton pun tidak ada perkecualian yang istimewa, kendati yang bertikai dalam lingkungan kraton itu terjadi di dalam lingkaran keluarga juga adanya.
Begitulah egoisme yang tidak bisa dikompromikan, karena hasrat dan masing-masing birahi memang cukup beragam, dan acap tidak mengenal saudara.
Lantaran itulah watak sejati dari rezim penguasa yang beranjak dari egosentrisitas tidak beranjak dari amanah untuk rakyat.
Penyakit power sindrom bisa melantak siapa saja yang tidak mampu mengendalikan birahi dalam dirinya untuk tetap berkuasa — tak hanya dalam habitat pemerintah, tapi juga dalam organisasi, partai politik, perusahan bahkan dalam komunitas kecil seperti kelompok arisan di tingkat kelurahan atau bahkan perkumpulan keluarga.
Biasanya, bagi mereka yang memiliki potensi power sindrom ini — bila tidak dapat tersalurkan hasrat hatinya bisa berakibat fatal, atau setidaknya jika masih tersisa rasa kesabarannya akan menyisih mencari lapak permainan yang lain, seperti bersibuk-sibuk dalam partai politik, kendati pertaruhan nilainya finansial nya tidak kecil, goh untuk mengobati power sindrom yang melantak dirinya tetap harus disublimasikan, walau harus dibayar dengan ongkos yang mahal.
Padahal dengan nilai finansial kecil, masa pensiun bisa dinikmati dengan menulis — sekalian menjadi terapi diri agar tidak ngaco hingga membuat kegaduhan yang menimbulkan kebencian, sumpah serapah bahkan ancaman keselamatan bagi diri sendiri — lebih cilaka lagi berikut keluarga — semua harus menghadapi pertaruhan yang sungguh sangat riskan dijadikan pilihan.
Tangerang, 29 September 2026





