Perenungan dan Penyesalan Saat Ulang Tahun Saat Usia Senja
Kesepian di tengah kegaduhan bagi seorang tokoh yang pernah berkibar dalam skala nasional pada beragai aktivitas yang nyaris tidak berbekas, akibat abai terhadap konstruksi bangunan sosial yang harus dibangun dengan arsitek yang bernuansa kemanusiaan.
Sebab beban egosentrisitasnya yang berat menghabiskan semua energi hanya untuk populeritas dan pencitraan diri, tidak mengisi getaran tali persahabatan yang sejati.
Kini saat memasuki usia senja ia sadari sudah terlambat. Sehingga saat sakit pun setiap orang yang pernah bersentuhan dengan batin dan jiwanya seperti sedang mengkalkulasi rugi dan untung seperti rumusan hidupnya yang asosialis, meski tak pernah disadari sebagai bagian dari sikap dan sifat kapitalis yang paling purba dari peradaban manusia.
Kesepian dirinya di tengah keramaian dan kegaduhan semakin dirasakan ketika usia menjelang senja, seperti hari-hari belakangan ini yang terasa berada pada puncak klimak dera dan derita yang tidak tertahankan.
Pada tidak, pada saat ulang tahun dirinya yang dirayakan super mewah dan spesial yang hadir justru mereka yang tidak begitu dia kenal. Sehingga dia pun bisa memastikan bahwa mereka yang berdatangan itu pun tidak benar-benar sosok dirinya yang sesungguhnya.
Akibatnya, pesta ulang tahun dirinya yang diharap meriah dan memberi kesan yang menyenangkan dan menggembirakan hati, justru meremuk redamkan hatinya yang terasa semakin kosong dan hampa, bahwa sesungguhnya dirinya tidak memiliki apa-apa, kecuali rasa kesepian di tengah pasta besar hari ulang tahun dirinya dapat memulihkan hubungan persahabatan dan perkawanan di masa silamnya yang kosong, tidak menebarkan lebih persaudaraan yang mempunyai bunga harus dan buah lezat yang matang untuk dilahap pada usianya yang semakin renta.
Karena itu di dalam perenungan kesadaran penyesalan dirinya, ia menayangkan saat kematian dirinya tiba. Tak seorang satu wajah pun yang masih tersisa dalam ingatan tampak hadir di rumah duka yang lebih sepi dan dingin dibanding di masa hidupnya yang penuh kegemerlapan, tapi tak satu pun di antara mereka yang juga hanya memanfaatkan kesempatan hanya untuk mengibur diri dari tekanan hidup yang tidak pernah terlintas sedikitpun ketika itu.
Kini semua itu dipahami sebagai karma dari ketidakperdulian dirinya pada masa lalu yang penuh gemerlap dan kemewahan, namun tidak pernah sampai ke lubuk hati mereka yang pernah mengelu-elukan dirinya seperti manusia setengah dewa.
Ia menyaksikan penguburan jasadnya hanya dihadiri anak, istri dan cucu tanpa ekspresi wajah yang berarti disambung penggali kubur dan ustadz kampung yang ogah-ogahan untuk melafaskan do’a bagi dirinya pekuburan yang sangat luas dihadiri oleh banyak orang yang melayat dan membacakan do’a untuk sahabat dan kerabat mereka, bukan untuk dirinya.
Dari perenungan semacam itulah perayaan hari ulang tahun dirinya terasa semakin hampa. Tapi penyesalan tidak lagi berguna, karena waktu tidak mungkin diputar balik ke belakang.
Abak, istri dan cucunya kini tampak lebih sibuk untuk membagikan panganan dan minuman yang lezat kepada warga seisi kampung, karena yang disantap oleh mereka yang hadir dalam acara ulang tahun super mewah itu jumlahnya tidak seberapa dibanding jumlahnya panganan dan minuman yang tersedia, maklum dia pikir dan yakin bahwa ulang tahunnya kali ini ini dia percaya adalah kesempatan untuk yang terakhir kali.
Cilincing, 18 Oktober 2026





