Jakarta | Mikanews : Soal ijazah palsu Mulyono, Rakyat Indonesia tertipu, sebenarnya rakyat Indonesia paham dan tahu dengan segala bentuk asli dan palsu terkait ijazah palsu.
Sebetulnya yang saat ini harusnya paling ketar-ketir adalah Rektor, sebab mustahil rasanya dokumen tahun 1985 sudah menggunakan font proporsional seperti yang terlihat dalam skripsi Mulyono.
Kita semua yang cerdas dan selalu menggunakan akal sehat, sebenarnya tahu dengan segala bukti otentik yang ada, bahwa ijazah Mulyono palsu.
Dari forensik fotokopi Skripsi palsu, dari forensik Buku Alumni Palsu, itu semua sangat mudah dibuktikan kepalsuannya bila pihak rektor kalau mau jujur.
Berangkat dari kejujuran, untuk pembuktian sebenarnya dapat ditelusuri ke pihak rektor, yakni dimulai dengan bertanya kepada Rektor, benarkah dia punya data dan informasi yang terdokumentasi dengan baik, bahwa Mulyono memang lulusan Universitas itu tersebut ?
Masalahnya, selama ini dan sudah berapa tahun para Lawyer, maupun semua Aktivis kesulitan memperkarakan keaslian ijazah Mulyono ke persidangan, pasalnya, hingga kini kesulitan dan tidak pernah bisa dibuktikan bentuk fisiknya.
Ditambah lagi pihak Rektorpun, bersikuku dengan menjelaskan berdasarkan bukti- bukti apa yang ada padanya, seperti beberapa pernyataan yang telah dikeluarkan melalui pernyataan persnya, yakni :
“Mempertimbangkan beredarnya isu atau informasi yang terjadi di media, baik media cetak, elektronik maupun media sosial, berkenaan dengan adanya tuduhan oleh seseorang yang mempertanyakan ijazah Bapak Ir Joko Widodo, maka kami Universitas Gadjah Mada di mana Bapak Joko Widodo pernah menempuh pendidikan, perlu menyampaikan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama, Bapak Ir Joko Widodo adalah alumni prodi S1 di Fakuktas Kehutanan Universitas Gadjah Mada angkatan tahun 1980.
Ke-dua, Bapak Ir Joko Widodo dinyatakan lulus dari UGM tahun 1985 sesuai ketentuan dan bukti kelulusan berdasarkan dokumen yang kami miliki
Ke-tiga, atas data dan informasi yang kami miliki dan terdokumentasi dengan baik, kami meyakini mengenai keaslian ijazah sarjana S1 Ir Joko Widodo dan yang bersangkutan benar-benar lulusan fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada.”
Jelas pernyataan tersebut di atas adalah salah satu pintu masuk untuk menggeruduk UGM agar mau jujur, dengan dalil dan analisis ilmiah berdasarkan fakta identifikasi teknologi.
Di mana, seperti yang diungkapkan oleh
alumni Fakultas Teknologi Universitas Gajah Mada (UGM), Rismon Hasiholan Sianipar yang meyakini ijazah S1 Kehutanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi yang diterbitkan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1985 adalah palsu dan ini juga didukung oleh pakar telematika Roy Suryo.
Sebab penulisan atau pencetakan ijazah pada tahun 1985, belum memungkinkan penggunaan font yang terlihat dalam dokumen ijazah dan skripsi Jokowi.
Jika ternyata Rektor UGM tidak punya data dan informasi seperti yang disebutkan, maka Rektor bisa diperkarakan karena memberikan pernyataan palsu.
Pasti Rektor ngga mau kan diperkarakan, maka jalan menggeruduk UGM dengan membawa bukti forensik identik, sistematis teknologi seperti apa yang didalilkan Rismon tersebut tentu akan terjawab sesuai dengan analisis sistematis tehnologi.
Dengan semangat tranparansi dan kejujuran, bila para Lawyer, maupun semua Aktivis yang selama ini kesulitan memperkarakan keaslian ijazah Mulyono ke persidangan, bersama -sama menggeruduk UGM, maka semua terkait ASLI dan PALSU akan terjawab.
Sepertinya jalan ini, lebih mudah memaksa Rektor untuk menunjukkan bukti-bukti yang sebenarnya, bukan berdasarkan menurut penjelasannya selama ini.
Dengan semangat transparansi dan kejujuran maka sudah waktunya UGM digeruduk untuk membongkar kebenaran berdasarkan bukti identik tehnologi, hal ini sejalan seperti apa yang pernah diungkapkan oleh alumni UGM Rismon Hasiholan Sianipar yang diperkuat oleh pakar telematika,Roy Suryo.
Di mana dikatakannya, menyoroti font atau huruf yang digunakan dalam dokumen tersebut.
Alhamdulillah, apa yang didalilkan Rismon saat ini identik, sistematis, dan sangat sesuai dengan analisis yang sudah pernah saya sampaikan sekitar lima tahun lalu,” kata Roy Suryo dalam keterangan tertulisnya, Minggu 16 Maret 2025.
Menurutnya, teknologi pencetakan pada tahun 1985 belum memungkinkan penggunaan font yang terlihat dalam dokumen ijazah dan skripsi Jokowi.
“Teknologi printing atau pencetakan pada era 1980-an masih sangat terbatas. Printer Dot Matrix yang populer saat itu hanya bisa menghasilkan font seperti Courier atau Sans-Serif, bukan font proporsional seperti yang terlihat dalam dokumen tersebut,” ungkap Roy Suryo.
Apalagi, lanjut Roy Suryo, pada tahun 1985 penggunaan komputer pribadi (PC) di Indonesia masih sangat terbatas.
IBM diketahui baru merilis PC pada 1981, dan teknologi printer Dot Matrix seperti Epson LX-80 baru dikenal di Indonesia pada awal 1990-an.
“Skripsi saya sendiri pada tahun 1991 masih menggunakan font Courier karena itu standar penulisan ilmiah saat itu,” kata Roy Suryo.
Dengan demikian, tegas Roy Suryo, mustahil dokumen tahun 1985 menggunakan font proporsional seperti yang terlihat dalam skripsi Jokowi.
“Terima kasih Risman yang sudah memiliki novelty (kebaruan) dari apa yang saya lakukan lima tahun lalu dengan datang langsung ke Perpustakaan Fakultas Kehutanan UGM untuk semakin memperkuat analisis saya waktu itu,” pungkas Roy Suryo.
Mudah-mudahan kebenaran akan terungkap dan terjawab semuanya.
Sepertinya jauh lebih mudah membongkar perkara ini, dari hilir, dengan bukan dari hulu.
Jika ternyata Rektor UGM tidak bersedia membongkar masalah ini dari hilir, berarti data dan informasi seperti yang disebutkan selama ini, diduga PALSU dan dipaksakan hanya untuk menipu rakyat, maka Rektor bisa diperkarakan karena memberikan pernyataan palsu.
(@Red)
Dikutip dari berbagai sumber.





