*Berita disusun berdasarkan orasi ilmiah Guru Besar ITS, 2026.
Surabaya | Mikanews : Krisis energi dan kerusakan lingkungan bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Menjawab tantangan ganda tersebut, Profesor Diah Susanti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meluncurkan deretan terobosan ilmiah lewat rekayasa material canggih.
Sebagai Guru Besar ke-245 ITS, ia menyampaikan gagasannya dalam orasi ilmiah bertajuk “Rekayasa Material Maju untuk Teknologi Penyimpanan Energi dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan”.
Riset ini menegaskan: emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil tak hanya bisa ditekan, tapi diubah menjadi manfaat lewat konversi limbah dan polusi menjadi sumber daya bernilai guna mempercepat transisi energi nasional.
Teknologi Ubah Gas Buang Menjadi Bahan Bakar
Salah satu temuan unggulan tim Diah adalah pemanfaatan material komposit reduced Graphene Oxide/Tembaga Oksida (rGO/CuO) sebagai fotokatalis.
Teknologi ini memanfaatkan bantuan cahaya untuk memicu reaksi kimia yang mampu mengubah karbon dioksida (COâ‚‚) yang mencemari udara menjadi bahan bakar alternatif seperti metanol dan metana.
“Ini menjadi jembatan nyata: apa yang selama ini kita anggap polutan berbahaya, bisa kita kembalikan menjadi sumber energi yang bermanfaat,” jelas peneliti kelahiran Tulungagung ini.
Tak hanya gas buang, teknologi serupa dikembangkan untuk membereskan limbah cair beracun.
Dengan material berbasis rGO/Seng Oksida (rGO/ZnO), laboratoriumnya sukses memecah pewarna industri berbahaya seperti Rhodamine-B hingga 99,5 persen hanya dalam waktu lima jam.
Superkapasitor: Simpan Energi 10.000 Kali Lebih Besar.
Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) ITS. yang juga Guru Besar ke-245 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Diah Susanti ST MT PhD. ini menyoroti pentingnya transisi energi dan
menggagas inovasi material maju untuk teknologi penyimpanan energi dan pengendalian pencemaran lingkungan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, timnya juga menciptakan terobosan di bidang penyimpanan daya berupa superkapasitor elektrokimia.
Alat ini menjawab kelemahan baterai konvensional dengan menggabungkan kecepatan pengisian layaknya kapasitor, namun berkapasitas besar mendekati baterai.
“Kemampuan menyimpan dayanya bahkan mencapai 10 ribu kali lipat dibanding kapasitor biasa,” papar alumnus NTUST Taiwan ini.
Material unggulan yang dirancang meliputi tiga jenis sistem:
EDLC, pseudokapasitor, dan hibrida, menggunakan campuran rGO dengan berbagai oksida logam seperti WO₃, NiO, hingga senyawa mangan.
Yang paling istimewa, bahan baku pembuatannya diambil dari limbah biomassa lokal: eceng gondok, tempurung kelapa, hingga kulit buah kluwak, diolah menjadi karbon berpori aktif.
Nantinya teknologi ini akan disandingkan dengan baterai kendaraan listrik, berperan layaknya “tandon cerdas” yang mengisi dan melepas daya seketika agar suplai listrik tetap stabil.
Dari Lab Menuju Industri Demi Net Zero 2060, Diah berharap penelitian ini tak berhenti di ruang laboratorium.
Ia terus menjajaki kerja sama dengan mitra industri agar teknologi ini segera diaplikasikan luas, selaras target pengurangan emisi nol bersih pada 2060 serta tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs poin energi bersih, produksi bertanggung jawab, dan penanganan perubahan iklim.
“Selagi ada kesempatan, para ilmuwan perempuan juga harus terus berkarya dan memberikan kontribusi terbaik demi menjaga kelestarian bumi,” pesannya.
(Red)





