BerandaCERPENRanting Kering di Balik Tembok Besi

Ranting Kering di Balik Tembok Besi

Ranting Kering di Balik Tembok Besi

Oleh: Zoelnasti

Langit Jakarta menggantung kelabu pada sebuah sore yang kering. Warna itu seolah menyatu dengan pagar besi baru setinggi sekitar dua setengah meter yang berdiri kokoh di depan Mall Kota Kasablanka.

Angin kemarau mengangkat debu tipis dan menyapu wajah setiap orang yang melintas.

Ranting Kering di Balik Tembok Besi menjadi kisah tentang Budi, seorang pengemudi ojek online berusia 32 tahun.

Ia menghentikan motornya di seberang jalan. Tatapannya terpaku pada pagar yang memisahkan trotoar dengan kemewahan lampu-lampu pusat perbelanjaan.

Di balik jeruji itu, cahaya terlihat hangat. Namun dari luar, pagar justru menghadirkan kesan dingin.

Bagi Budi, pagar itu bukan lagi pelindung. Pagar itu terasa seperti penanda bahwa sebagian orang diterima, sementara sebagian lainnya hanya boleh memandang dari kejauhan.

“Indah juga ya, Pak.”

Suara seorang kakek memecah keheningan. Lelaki tua itu duduk di bangku taman kecil yang masih tersisa di antara trotoar dan pagar baru.

Di tangannya tergenggam sebuah ranting kayu yang sudah mengering.

Budi menghela napas panjang.

“Indah? Menurut saya itu seperti tembok penjara. Dulu orang bisa lewat dengan mudah. Sekarang rasanya seperti diusir dari kota sendiri.”

Kakek itu tidak membantah. Ia hanya tersenyum tipis, seolah memahami kegelisahan yang sedang memenuhi dada anak muda di hadapannya.

“Anak muda,” katanya pelan, “tahukah kamu mengapa pohon mati saat kemarau panjang?”

Budi menggeleng.

Pohon bukan hanya mati karena panas. Ia mati karena akarnya lupa mencari air.

Pemilik kebun juga membiarkan ranting-ranting kering menumpuk. Mereka sibuk membuat pohon terlihat indah dengan dedaunan palsu, padahal satu percikan api saja cukup membakar seluruh kebun.

Ucapan itu membuat Budi terdiam.

Pikirannya melayang pada Agustus 2025. Ia masih mengingat ribuan orang yang turun ke jalan. Mereka bukan datang untuk mencari keributan. Mereka datang karena tekanan hidup yang semakin berat dan ketimpangan yang semakin terasa.

Ingatan itu juga membawa kembali bayangan teman-teman yang menjadi korban, para pedagang kecil yang dihantui rasa takut, hingga pusat-pusat perbelanjaan yang akhirnya menutup pintu rapat. Luka ekonomi yang muncul setelahnya belum benar-benar sembuh.

Kini, menjelang peringatan 17 Agustus, suasana justru berubah menjadi semakin tertutup.

Bukan hanya di Jakarta.

Dalam ingatan Budi, pagar-pagar juga muncul di Bank BNI, Tunjungan Plaza Surabaya, hingga sejumlah mal di Yogyakarta. Benteng-benteng besi berdiri lebih tinggi daripada sebelumnya.

“Mereka takut kita marah lagi,” gumam Budi.

Kakek menggeleng pelan.

“Mereka bukan takut pada kemarahan. Mereka takut pada kekecewaan yang terus menumpuk.”

Ranting kering di tangannya dipatahkan perlahan.

Krak.

Suara kecil itu terdengar sangat jelas.

“Rasa sakit sering kali bukan muncul karena seseorang miskin,” lanjut sang kakek.

Rasa sakit muncul ketika orang melihat jurang yang semakin lebar.

Ketika ada yang hidup nyaman di balik tembok, sementara yang lain kesulitan membeli beras.

Dalam ilmu kehidupan, keadaan itu dikenal sebagai Relative Deprivation.

Ketika perasaan itu bertemu ketidakadilan, ledakannya dapat menyebar sangat cepat, seperti api yang menemukan tumpukan ranting kering.

Budi menatap sekeliling.

Beberapa mahasiswa membagikan selebaran mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, ibu-ibu menghitung uang belanja dengan wajah penuh kecemasan. Sementara pagar-pagar besi tetap berdiri tanpa suara, seolah menciptakan jarak yang semakin lebar.

“Lalu apa yang harus dilakukan?” tanya Budi lirih. “Apakah semuanya harus dihancurkan?”

Kakek tersenyum.

“Tidak.”

Ia melempar ranting kering itu ke tempat sampah.

“Kita harus menjadi air, bukan api.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

Menurut sang kakek, solusi tidak dimulai dengan membangun pagar yang lebih tinggi. Solusi dimulai dengan membersihkan ranting-ranting kering yang selama ini dibiarkan menumpuk.

Harga-harga yang mencekik harus diperhatikan. Hukum harus memberikan rasa keadilan.

Suara masyarakat kecil perlu didengar. Ketika kepercayaan tumbuh, pagar setinggi apa pun tidak lagi menjadi kebutuhan.

Sore berubah menjadi malam.

Lampu-lampu di balik pagar semakin terang, tetapi terasa semakin jauh.

Budi menyalakan motornya. Kali ini ia tidak lagi memandang pagar itu dengan kemarahan. Yang tersisa hanyalah kesedihan.

Ia menyadari bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan atau deretan bendera yang berkibar.

Kemerdekaan juga berarti hadirnya rasa aman, keadilan, dan kesempatan yang dapat dirasakan semua orang tanpa dibatasi oleh tembok yang memisahkan.

Motor itu melaju perlahan melewati jalan yang masih menyimpan lubang dan genangan.

Di balik helmnya, Budi berdoa dalam diam.

Semoga negeri ini cukup bijaksana untuk membersihkan ranting-ranting kering sebelum api benar-benar datang.

Semoga setiap orang mampu melihat sesamanya sebagai saudara, bukan ancaman.

Dan semoga peringatan 17 Agustus menjadi ruang untuk memperkuat kepercayaan, bukan sekadar membangun benteng yang semakin tinggi.

Angin kemarau masih berembus pelan.

Di balik pagar besi, kehidupan tetap berjalan.

Namun satu pertanyaan terus menggantung di udara.

Ketika kekecewaan terus bertambah, apakah manusia akan memilih menjadi percikan api, atau menjadi air yang menjaga harapan tetap hidup?

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini