Oleh: Gusmizar
Alumni Program Strata Dua Ilmu Hukum Universitas Ekasakti Padang, dan Praktisi Jurnalis di Pasaman Barat
MENJADI orang nomor satu di tingkat kenagarian atau akrab dikenal dengan sebutan Walinagari, bukan sekedar hiburan bagi sebagian warga negara. Menjadi kepala pemerintahan tingkat nagari, ternyata menjadi primadona di kalangan mereka, termasuk di Kabupaten Pasaman Barat.
Menjadi Walinagari (kepala desa di Sumatra Barat) saat ini bukan lagi sekadar jabatan pelipur lara atau hiburan politik, melainkan telah menjelma menjadi “primadona” yang diperebutkan banyak pihak karena memiliki otoritas besar, gengsi sosial yang tinggi, dan anggaran besar yang dikelola langsung untuk pembangunan masyarakat.
Mengapa Jabatan Walinagari Menjadi Primadona? Otoritas Anggaran Besar: Mengelola Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Nagari (ADN) hingga miliaran rupiah per tahun.
Status Sosial Tinggi: Menjadi tokoh adat dan pemerintahan sekaligus (pemimpin informal dan formal). Daya Tarik Tokoh Muda: Banyak lulusan sarjana dan profesional muda kini ikut bertarung dalam Pemilihan Walinagari (Pilwana).
Panggung Politik Strategis: Menjadi batu loncatan yang sangat efektif untuk naik ke tingkat DPRD Kabupaten/Provinsi. Otonomi Luas: Memiliki kuasa penuh dalam menentukan arah pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Tantangan di balik Jabatan Primadona
Pengawasan Ketat: Diawasi langsung oleh masyarakat, Bamus (Badan Musyawarah), LSM, hingga aparat penegak hukum (Tipikor). Beban Hukum Tinggi: Risiko jeratan hukum sangat besar jika terjadi salah kelola administrasi atau korupsi anggaran. Penyelaras Konflik: Harus mampu mendamaikan konflik tanah ulayat, hukum adat, dan regulasi pemerintah pusat.
Harapan masyarakat adalah kemajuan, sedangkan keinginan sering kali terjebak pada kepentingan politik praktis.
Walinagari sebagai pemimpin tertinggi dalam struktur masyarakat hukum adat di Sumatera Barat berada di titik tengah untuk menjembatani kedua hal ini. Seorang pemimpin yang bijak harus mampu mengubah keinginan kelompok yang sempit menjadi harapan bersama demi kemaslahatan seluruh warga nagari.
Berikut adalah pemetaan kontras antara harapan dan keinginan dalam kepemimpinan seorang Wali Nagari: Perbedaan Harapan dengan Keinginan Harapan Masyarakat (Kesejahteraan Publik) Menuntut pelayanan publik yang transparan, adil, cepat, dan tanpa tebang pilih.
Menginginkan pembangunan infrastruktur yang merata dan peningkatan ekonomi riil. Membutuhkan terjaganya nilai moral, adat (Adat Basandi Syara’ Ananias), dan keharmonisan sosial.
Keinginan Politik (Kepentingan Kelompok)
Adanya desakan dari tim sukses untuk mendapatkan posisi atau jabatan perangkat nagari. Pembagian proyek desa atau bantuan sosial yang hanya diprioritaskan bagi kelompok pendukung tertentu.
Keputusan kebijakan yang dipengaruhi oleh balas budi politik pasca-Pemilihan Wali Nagari (Pilwana).
Tantangan Wali Nagari Mengelola Harapan dan Keinginan
Untuk menjaga kestabilan pemerintahan dan keharmonisan sosial, seorang Wali Nagari wajib menerapkan prinsip kepemimpinan yang tegas: Menolak mengganti perangkat nagari secara semena-mena hanya demi mengakomodasi keinginan politik pendukung, sesuai batasan aturan yang berlaku.
Transparansi Anggaran: Mengelola dana nagari berdasarkan skala prioritas kebutuhan riil masyarakat (harapan bersama), bukan berdasarkan tekanan pihak tertentu (keinginan individu).
Penyelarasan Tokoh Adat: Merangkul kembali Kerapatan Adat Nagari (KAN), Niniak Mamak, bundo kanduang, dan pemuda pasca-Pilwana untuk menyatukan visi nagari.
Di Pasaman Barat, nagari yang akan melakukan agenda suksesi kepemimpinan tingkat kenagarian, dan digelar serentak di tahun 2026 atau dalam jangka beberapa waktu ke depan 87 nagari. Dari sejumlah kenagarian dimaksud, 19 di antaranya nagari induk , tersebar pada 11 kecamatan se Pasaman Barat.
11 kecamatan se Pasaman Barat adalah, Kecamatan Kinali, Luhak Nan Duo, Sasak Ranah Pesisir, Talamau, Pasaman, Gunung Tuleh, Sungai Aur, Lembah Melintang, Parit Koto Balingka, Sungai Beremas, dan Kecepatan Ranah Batahan.
Berikut nama-nama nagari dan jumlah bakal calon (Balon) walinagari yang mendaftar saat pencalonan walinagari se Pasaman Barat dan akan merebut suara rakyat pada Pilwana (Pemilihan Calon Walinagari) serentak beberapa waktu ke depan.
*Kecamatan Kinali;*
1. Nagari Kinali ( 7 Bacalon)
2. Nagari Ampek Koto (5 Bacalon)
3. Nagari Ampek Koto Barat ( 7 bacalon )
4. Nagari Bancah Kariang ( 3 Bacalon)
5. Nagari Mudiak labuah { 5 orang Bacalon }
6. Nagari Tandikek (4 Bacalon)
7. Nagari LANGGAM SEPAKAT (5 Bakal Calon)
8. Nagari Langgam Saiyo (9 Bacalon)
9. Nagari Anam Koto Selatan (3 Bacalon)
10. Nagari Sigunanti (5 orang)
11. Nagari Koto Gadang Jaya (1 Bacalon)
12. Nagari Anam Koto Utara ( 6 Orang Balon Wali)
13. Nagari Bandua Balai ( 4 Calon)
14. Nagari Bunuik (1 Bacalon)
15. Nagari Padang Canduh ( 3 Bacalon)
16. Nagari Limau Purut (4 Bacalon)
*Kecamatan Gunung Tuleh*
17.. Nagari muaro kiawai (6 bacalon)
18. Nagari Rabi Jonggor (6 Bakal calon)
19. Nagari Seberang Kenaikan (4 Bacalon)
20. Nagai Bahoras (3 Bacalon)
21. Nagari Ranah Sungai Magelang ( 4 Bacalon)
22. Nagari Muaro Kiawai Barat (3 Bacalon)
23. Nagari Muaro Kiawai Hilir (5 Bacalon)
*Kecamatan Ranah Batahan*
24. Nagari Batahan (6 Balon)
25. Nagari Desa Baru (4 Bacalon)
26. Nagari Batahan Utara (4 Bacalon)
27. Nagari Batahan Tengah ( 4 Bacalon)
28. Nagari Batahan Barat ( 5 Bacalon)
29. Nagari Batahan Selatan ( 5 Balon)
30. Nagari Desa Baru Barat ( 1 Calon )
*Kecamatan Koto Balingka*
31. Nagari Parit ( 5 Balon)
32. Nagari koto Tangah ( 2 Bacalon )
33. . Nagari Koto Tuo ( 2 Bacalon )
34. Nagari Koto Nan Duo (4 Bacalon)
35. Nagari Pematang Panjang (3 Bacalon)
36. Nagari Ranah koto tinggi ( 3 Bacalon))
*Kecamatan Sungai Aur*
37. Nagari Sungai Aua( 3 Balon)
38. Nagari Salingka Muaro (4 Bacalon)
39. Nagari Ranah Malintang (2 Bacalon)
40. Nagari Ranah Air Haji (3 Bacalon)
41. Nagari Kasik Putih Sungaitanang ( 2 Bakal Calon )
42. Nagari Aua Serumpun (2 Bakal Calon)
43. Nagari Sikilang Sungai Aur Selatan ( 4 Bakal Calon)
*Kecamatan Luhak Nan Duo*
44. Nagari KOTO BARU ( 4 Bakal Calon )
45. Nagari Giri Maju ( 4 Bacalon)
46. Nagari Ophir (5 bacalon)
47. Nagari Mahakarya ( 7 Bacalon)
48. Nagari Sariak ( 3 Bacalon )
49. Nagari Sungai Talang ( 4 Bacalon )
50. Nagari Jambak Selatan ( 6 Bacalon)
51. Nagari Pujorahayu (1 Bacalon)
*Kecamatan Sasak Ranah Pasisia*
52. Nagari Sasak ( 6 Bacalon)
53. Nagari Padang Harapan, ( 4 bakal calon)
54. Nagari Ranah Pasisie (6 Bacalon)
55. Nagari Maligi (7 Bacalon)
*Kecamatan Sungai Beremas*
56. Nagari Aia bangih (7 bakal calon)
*Kecamatan Lembah Melintang*
57. Nagari Ujung Gading ( 5 Bacalon)
58. Nagari Brastagi Ujung Gading (1 Bacalon)
59. Nagari Tampus Damai Ujung Gading (4 Bacalon)
60. Nagari Taluak Ambun( 5 balon)
61. Nagari Koto Gunung Ujung Gading (6 Bacalon )
62. Nagari Koto Sawah Ujung Gading (3 BACALON)
63. Nagari Salido saroha ujung gading (4 calon)
64. Nagari Kuamang alai UG ( 5 Bacalon)
65. Nagari Situak Ujung Gading ( 6 Bacalon )
*Kecamatan Pasaman*
66. Nagari Lingkuang Aua (4 Bacalon )
67. Nagari Aua Kuniang ( 5 Bacalon )
68. Nagari Aia Gadang (5 calon)
69. Nagari Lingkuang Aua Timur (2 Bacalon)
70. Nagari Lingkuang Aua Baru (5 Bacalon)
71. Nagari Lingkuang Aua Bandarajo (3 Bacalon)
72. Nagari Lingkuang Aua Jambak( 3 bacalon)
73. Nagari Lingkuang Aua Koto Dalam ( 3 Bacalon)
74. Nagari Lingkuang Aua Barat ( 6 Bacalon)
75. Nagari Lingkuang Aua Hilia (3 bakal calon)
76. Nagari SUKOMANANTI ( 7 bacalon )
77. Nagari Aia Gadang Timur (5 Bacalon)
78. Nagari Aia Gadang Barat ( 5 Bacalon )
79. Nagari Pinaga Aua Kuniang ( 6 Balon )
80. Nagari lubuak landua Aua kuniang ( 4 Bacalon )
81. Nagari Lembah Binuang Aua Kuniang(6 Bacalon)
*Kecamatan Talamau*
82. Nagari Kajai (2 Bacalon)
83. Nagari Talu ( 4 Bacalon)
84. Nagari Simpang Timbo Abu Kajai (3 bacalon)
85. Nagari Kajai Selatan ( 8 orang)
86. Nagari Sungai Janiah Talu (2 Bacalon)
87. Nagari Tabek Sirah Talu (2 Balon). (*)





