WAJO, Sulawesi Selatan | mikanews — Antrean BBM di SPBU Pertamina Ammessangeng, Sengkang, Kabupaten Wajo, berujung pada insiden kekerasan.
Seorang pegawai SPBU diserang menggunakan senjata tajam jenis badik oleh seorang pengendara sepeda motor pada Minggu (23/8/2026).
Penyerangan tersebut terjadi setelah pengendara tidak menerima permintaan petugas agar mengikuti antrean pengisian BBM.
Kanit Resmob Polres Wajo, Anwar, membenarkan kejadian tersebut. Polisi kini masih melakukan penyelidikan dan mengejar pelaku yang belum tertangkap.
“Kami sedang menelusuri identitas dan keberadaan pihak yang terlibat. Proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap kejadian secara utuh dan segera menangkap pelaku,” kata Anwar.
Kasus ini mendapat perhatian Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Sufriadi Arif. Ia menilai insiden tersebut tidak boleh hanya dilihat sebagai tindak kriminal perseorangan.
Menurut Sufriadi, persoalan antrean BBM yang berlangsung berlarut-larut dapat menjadi pemicu konflik apabila tidak segera dibenahi.
Ia meminta Pertamina mengevaluasi ketersediaan pasokan serta sistem pelayanan di SPBU. Pasokan BBM, kata dia, harus mencukupi dan distribusinya perlu berjalan merata.
“Kejadian di Ammessangeng ini harus menjadi peringatan keras bagi Pertamina. Jangan tunggu ada korban lebih banyak atau keributan yang lebih besar baru melakukan evaluasi menyeluruh,” tegas Sufriadi.
Sufriadi juga meminta pembenahan tidak berhenti di Wajo. Perhatian serupa, menurutnya, perlu diberikan di sepanjang jalur Wajo–Sidrap–Parepare–Barru hingga Makassar.
Jalur tersebut menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat dan distribusi barang di Sulawesi Selatan. Kelancaran pasokan BBM dinilai penting untuk menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Namun, masyarakat juga diminta tidak menggunakan kekerasan ketika menghadapi persoalan pelayanan. Sufriadi mengimbau warga tetap tertib dan menahan diri selama berada di SPBU.
Ia menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat menjadi jalan keluar dari persoalan antrean.
Di sisi lain, petugas dan pengelola SPBU diminta memberikan pelayanan yang ramah dan transparan. Mereka juga diharapkan mampu mengantisipasi potensi konflik ketika antrean mulai padat.
“Antrean BBM tidak boleh berujung pada kekerasan. Masyarakat harus tertib, tetapi Pertamina juga wajib menjamin pasokan dan pelayanan berjalan optimal,” ujar Sufriadi.
Sampai saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut. Pelaku penyerangan masih dalam pengejaran aparat.
Peristiwa di SPBU Ammessangeng menjadi perhatian karena persoalan antrean BBM berujung pada penggunaan senjata tajam. Penanganan perkara berada di tangan kepolisian, sementara evaluasi terhadap pasokan dan pelayanan SPBU didorong untuk dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (Jsk)





