RIAU | mikanews — Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Dikreg LXVIII Garuda turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Sabtu (29/8/2026).
Para siswa Seskoad tidak hanya membantu menangani titik api. Mereka juga turun ke tengah masyarakat untuk memberikan penyuluhan mengenai bahaya Karhutla dan mengajak warga menghentikan kebiasaan membakar lahan.
Kegiatan tersebut melibatkan komponen masyarakat serta unsur terkait di wilayah Kodam XIX/Tuanku Tambusai. Penanganan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni tindakan langsung di lapangan dan pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari perintah strategis nasional Markas Besar TNI yang dipimpin Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Aang Gunawan, S.Sos.
Aang Gunawan mengatakan keterlibatan siswa Seskoad dirancang bukan hanya untuk menangani api, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan.
“Kehadiran para perwira siswa Seskoad di sini bukan kebetulan. Ini adalah perintah strategis dari Mabes TNI, agar generasi pemimpin TNI ke depan tidak hanya menguasai ilmu perang, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” ujar Aang Gunawan.
Menurutnya, pendekatan persuasif diperlukan karena pemadaman api saja tidak cukup untuk menghentikan Karhutla.
Api yang berhasil dipadamkan dapat kembali muncul apabila kebiasaan membakar lahan masih dilakukan. Karena itu, masyarakat diajak memahami dampak pembakaran lahan terhadap kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
“Api yang padam hari ini bisa menyala lagi esok hari jika kesadaran belum tumbuh,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa Seskoad menjalankan dua tugas utama.
Pertama, mereka melakukan tindakan langsung dengan membantu memadamkan titik api dan mengendalikan lahan yang terbakar di wilayah terdampak.
Kedua, mereka melakukan penyuluhan secara persuasif. Para siswa berdialog dengan masyarakat mengenai bahaya Karhutla, pentingnya menghentikan pembakaran lahan, serta mengajak warga ikut menjaga lingkungan di wilayah tempat tinggal masing-masing.
Aang Gunawan menekankan bahwa penanggulangan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan aparat.
Menurutnya, pencegahan membutuhkan perubahan kesadaran masyarakat serta kerja sama antara TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, instansi terkait, dan masyarakat.
“Karhutla bukan hanya urusan pemerintah atau aparat, melainkan tanggung jawab kita semua,” katanya.
Karhutla dapat menimbulkan berbagai dampak. Kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu kesehatan pernapasan, menimbulkan kerugian ekonomi, merusak keanekaragaman hayati, serta mengganggu stabilitas sosial dan iklim.
Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.
Bagi siswa Seskoad Dikreg LXVIII Garuda, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran kepemimpinan di lapangan.
Para perwira siswa belajar berkomunikasi langsung dengan masyarakat, membangun koordinasi lintas sektor, dan menghadapi persoalan nyata di lapangan.
Kemampuan tersebut dinilai penting bagi calon pemimpin TNI, bukan hanya dalam konteks tugas pertahanan, tetapi juga ketika menghadapi persoalan kemanusiaan dan pembangunan di wilayah.
Aang Gunawan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti ketika para siswa Seskoad meninggalkan lokasi.
Ia berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan dan lahan dapat terus berlangsung di lingkungan masing-masing.
“Semoga kesadaran yang tertanam hari ini terus hidup di setiap desa, di setiap ladang. TNI dan rakyat adalah satu — satu rasa, satu nasib. Menjaga hutan dan lahan berarti menjaga keselamatan seluruh bangsa,” ujarnya.
Kehadiran TNI dalam penanganan Karhutla tidak hanya diarahkan pada kondisi ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan dan edukasi masyarakat juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Melalui pendekatan itu, penanggulangan Karhutla diarahkan tidak hanya untuk mengatasi titik api, tetapi juga mencegah munculnya kebakaran baru akibat pembakaran lahan.
Sinergi antara siswa Seskoad, masyarakat, dan unsur terkait diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan wilayah dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Kegiatan di Riau tersebut sekaligus menunjukkan keterlibatan para siswa Seskoad dalam persoalan langsung yang dihadapi masyarakat.
Dengan turun ke lapangan, mereka tidak hanya membantu menangani kebakaran, tetapi juga mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga lingkungan. (Red)





