LIMA PULUH KOTA, Miikanews.id | 9 September 2026, Bencana tidak pernah memberi pemberitahuan sebelumnya. Banjir, longsor, kebakaran rumah, hingga angin kencang yang merenggut nyawa di Nagari Pangkalan menjadi bukti nyata bahwa Kabupaten Lima Puluh Kota senantiasa berada di bawah ancaman musibah sewaktu-waktu.
Di tengah deretan peristiwa tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota tampil sebagai garda terdepan, bukan hanya saat bantuan disalurkan, tetapi jauh sebelum bencana datang dan hingga warga benar-benar pulih kembali.
Bukan Hanya Menunggu Bencana Terjadi
Bagi Dinas Sosial, penanganan bencana tidak dimulai saat musibah tiba. Pengurangan risiko terus diperkuat melalui kerja sama dengan BPBD, pemerintah nagari, TNI, Polri, BAZNAS, TAGANA, para relawan, dan seluruh unsur terkait. Salah satu langkah strategis yang terus didorong adalah pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di daerah-daerah berpotensi tinggi.
Program ini bertujuan agar masyarakat tidak sekadar menunggu bantuan, tetapi mampu mengenali tanda bahaya, melakukan penyelamatan mandiri, serta saling menolong sesama warga. Lewat KSB, warga dibekali pemahaman mitigasi, prosedur evakuasi, pertolongan pertama, pendataan kelompok rentan, hingga cara berkoordinasi saat keadaan darurat.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Ir. Indra Suriani, menegaskan bahwa kesiapsiagaan adalah investasi jangka panjang.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan saat bencana terjadi. Mereka harus mampu mengenali ancaman, menyelamatkan diri sendiri, dan membantu lingkungan sekitar. Kampung Siaga Bencana adalah cara kami menanamkan budaya siaga di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pendataan Kelompok Rentan, Kunci Bantuan Tepat Sasaran
Selain kesiapsiagaan, Dinas Sosial juga menyusun data kelompok-kelompok yang paling membutuhkan perhatian, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga kurang mampu. Data ini menjadi pegangan agar saat evakuasi maupun penyaluran bantuan dilakukan lebih cepat, akurat, dan tepat sasaran.
Saat Bencana Melanda, Gerak Cepat Menjadi Prinsip
Saat banjir dan longsor melanda Nagari Aia Angek, Kecamatan Gunuang Omeh, Dinas Sosial bersama BPBD langsung turun melakukan penilaian di lapangan, mendata warga terdampak, dan memenuhi kebutuhan dasar mereka, mulai dari sembako, makanan siap saji, selimut, tikar, perlengkapan tidur, hingga perlengkapan keluarga dan anak.
Pendampingan sosial pun tak berhenti saat bantuan sudah di tangan. Warga terus didampingi agar dapat kembali beraktivitas normal.
“Kami tidak hanya hadir menyalurkan bantuan. Dinas Sosial memastikan perlindungan sosial terus berjalan hingga pemulihan selesai. Pengalaman di Aia Angek mengajarkan: kolaborasi semua pihak adalah kunci agar masyarakat bangkit lebih cepat,” tambah Indra Suriani.
Sinergi Semua Pihak, Hingga ke Pangkalan Koto Baru
Saat kebakaran dan angin kencang melanda Sarilamak, Kubang, Guguak VIII Koto, hingga Sungai Naniang, bantuan kembali disalurkan secara terkoordinasi. Bahkan musibah yang menimpa Jorong Sopang, Nagari Pangkalan di mana angin kencang merenggut satu nyawa, ditangani dengan kepedulian penuh. Bupati H. Safni Sikumbang turun langsung didampingi jajaran pemangku jabatan, menyampaikan bahwa pemerintah wajib hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga harapan.
“Setiap musibah adalah duka kita bersama. Pemerintah harus hadir membawa perlindungan, bantuan, dan semangat agar warga bangkit kembali,” tegas Bupati.

Penanganan Berlanjut Hingga Pemulihan Penuh
Kepala Pelaksana BPBD, Zaimar Hakim, S.H., menegaskan penanganan tidak berhenti pada evakuasi.
“Setiap laporan langsung kami tindak lanjuti dengan asesmen cepat. Penanganan berlanjut hingga masyarakat pulih sepenuhnya. Karena itu sinergi lintas sektor mutlak diperlukan.”
Dari kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, hingga rehabilitasi Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota terus memperkuat perannya. Bencana memang tak bisa dielakkan, namun dampaknya dapat diperkecil, asalkan pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, dari sebelum bahaya datang hingga setelah kehidupan kembali normal.
( SUKRIANTO )





