Sekolah Adat Sasak Dapat Menjadi Pionir Pelestarian Tradisi dan Budaya Suku Bangsa Nusantara
Setiap aktivitas manusia, mulai dari membuka lahan pertanian hingga membangun rumah dalam masyarakat Suku Sasak, ungkap Shri Lalu Gde Pharma sebagai anggota Dewan Pengurus MATRA (Masyarakat Adat Nusantara), juga Ketua Eksekutif Nasional Asosiasi Kerajaan & Keraton se-Indonesia (AKKI) mengungkapkan dalam upacara ritual untuk memohon izin dan restu dari kekuatan-kekuatan yang bersemayam di Gunung Rinjani.
Filisofi ini merupakan dasar etika lingkungan yang sangat kuat, dimana eksploitasi alam secara berlebihan dianggap bukan hanya suatu kejahatan ekologis. tetapi juga merupakan dosa spiritual yang akan mendatangkan bencana atau bala.
Paparan tentang “Sekolah Adat Sasak Indonesia (SASI) Sebagai Sokoguru Pendidikan Holistik Indonesia : Sebuah Refleksi Antropologis di Era Digital Global” dari Gde Pharma ini sungguh sangat mengagumkan, setidaknya komprehensif untuk menjadi acuan atau sandingan dalam kajian pendidikan di Indonesia yang kini terkesan tercerabut dari akar budaya tradisi dan nilai-nilai kandungan lokal yang kaya dan penuh kebijakan.
Rumah adat Suku Sasak bukan sekedar tempat berlindung dari cuaca. melainkan sebuah mikrokosmos yang merepresentasikan tata ruang alam semesta. Dan proses pembangunan rumah adat Suku Sasak dimulai dengan serangkaian ritual pemilihan lokasi tanah, pemilihan kayu dan pemotongan tiang utama bangunan.
Tata letak rumah adat Suku Sasak dibagi secara ketat menjadi beberapa ruang yang memiliki fungsi sakral dan profan. Ruang depan atau “Bake Luar” adakah ruang publik untuk menerima tamu dan aktivitas sehari-hari. Ruang tengah adalah ruang privat atau ruang keluarga, dan ruang belakang atau “dalem” adalah ruang yang sangat sakral, sering kali digunakan untuk menyimpan pusaka, alat-alat ritual dan tempat tidur kepala keluarga.
Sedangkan dinding rumah Suku Sasak tidak menggunakan batu bata atau semen, melainkan anyaman bambu atau gedek yang memungkinkan sirkulasi udara yang baik di iklim tropis Lombok. Namun yang paling memukau dari segi pengetahuan material adalah lantai dan atapnya rumah adat Suku Sasak dibuat dari tanah liat, kotoran kerbau dan sekam padi yang dipadatkan dan dioles dengan air beras.
Kotoran kerbau dalam pandangan masyarakat modern mungkin masih dianggap kotor, tapi dalam epistemologi Sasak memiliki fungsi thermal dan spiritual. Sebab dengan campuran bahan bangunan seperti itu membuat lantai terap sejuk di siang hari, dan hangat di malam hari serta berfungsi sebagai repellent (anti atau penahan) alami terhadap serangga.
Dari sudut pandang spiritual, kotoran kerbau merupakan simbol kesuburan dan pengikat energi positif tanah. Sedangkan atap rumah adat Suku Sasak terbuat dari alang-alang yang diikat dengan sangat rapat.
Dan tata cara memotong alang-alang pada bulan tertentu diyakini agar tidak mudah lapuk dan dimakan rayap. Bentuk kecerdasan ekologis ini menurut Shri Lalu Gde Pharma diwarisi secara turun temurun tanpa disertai ilmu kimia modern.
Suku Sasak yang juga melahirkan fenomena dari sinkretisme melahirkan “Wetu Telu” yang secara harfiah berarti “Waktu Tiga”. Dalam perspektif antropologis, Wetu Telu dapat dianggap sebagai mahakarya teologis dan filosofis dari para leluhur Suku Bangsa Sasak.
Di Bayan — sebagai episentrum spiritual Wetu Telu, menandai kehadiran Islam tidak datang untuk menghancurkan kepercayaan lokal, melainkan berdialog dan berintegrasi dengan lokal genius setempat.
Kepercayaan khas Wetu Telu memang melaksanakan sholat lima waktu menjadi tiga waktu — pagi. petang dan malam — sebagai representasi simbolis dari kosmologi Sasak yang membagi alam menjadi tiga tingkatan : alam atas. alam tengah dan alam bawah.
Ekspresi dari Suku Bangsa Sasak yang terkonsentrasi di Desa Bayan ini, menurut berbagai ahli dan antropolog tidak saja membuktikan kehadiran Islam yang bersikap adaptif dan penerimaan Suku Bangsa Sasak yang bijak, tanpa mengabaikan sama sekali warisan tradisi dan budaya para leluhur yang tetap harus mendapat tempat.
Dari paparan tokoh kebudayaan asal Lombok diatas, jelas kekayaan dan keragaman warna ekspresi spiritual suku bangsa Nusantara yang kini telah menjadi satu bangsa Indonesia yang merdeka, tetap terpelihara dan berkelanjutan dari satu generasi kepada generasi berikutnya dalam era teknologi serta digital sekarang ini, kendati mengalami alienasi ekologis, krisis spiritual dan fragmentasi sosial, utamanya pada generasi muda.
Karena itu, sekolah adat — yang tidak hanya sebatas bangunan fisik — dalam rentangan kosmologi, ritual dan menyatu dengan alam menjadi alternatif pilihan terbaik dalam etnopedagogi dan ekopedagogi yang paripurna. Sehingga kearifan lokal dapat kembali menjadi jangkar kemanusiaan di tengah hperrealitas dunia maya.
Dalam sejarah panjang interaksi antara Hindu-Buddha, Islam hingga modernisasi Barat tidak menghapus tradisi dan budaya lokal yabg ada di Nusantara. Tetapi dari pergesekan itu justru memperkaya khazanah kearifan lokal dengan melapisinya dengan sinkretisme.
Menurut Shri Lalu Gde Pharma, lapisan sejarah ini membentuk ontologi dan epistemologi yang unik, sebab pengetahuan tidak pernah bebas dari nilai moralitas, ekologi dan transendensi. Tentu dan pasti nilai-nilai spiritual dengan segenap dimensi bawaannya akan menyemburat dalam praktek pelaksanaan sekolah adat.
Termasuk rumah adat yang mampu didayagunakan sebagai pusat aktivitas warga masyarakat dengan segenap pernik budaya, kerajinan hingga beragam macam kulinernya yang khas. Semoga saja, Sekolah Adat Sasak dapat menjadi pionir — contoh dan model — dari upaya pelestarian tradisi dan budaya suku bangsa Nusantara dalam wujud nyata sebagai Jamrud khatulistiwa yang menerangi dunia. (Red)
Banten, 16 September 2026





