BerandaOPINIKitab MA HA IS MA YA" Fenomena Dari Peradaban Global Dalam Suklus...

Kitab MA HA IS MA YA” Fenomena Dari Peradaban Global Dalam Suklus 7 Abab ke-4

Mikanews.id | Kitab MA HA IS MA YA kembali menjadi bahan perbincangan dalam sebuah diskusi yang mengangkat persoalan spiritual, kebangsaan, politik, hukum, ekonomi hingga budaya. Diskusi tersebut berlangsung pada 21 September 2026 dan mengacu pada kitab yang memuat doa untuk 79 tokoh terpilih yang dilakukan Wali Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, selama 20 jam tanpa henti.

Bagi sebagian peserta, kehadiran Kitab MA HA IS MA YA bukan sekadar menghadirkan sebuah karya spiritual. Kitab tersebut dipandang sebagai bahan untuk membaca kembali hubungan antara kesadaran manusia, nilai kebangsaan dan persoalan kehidupan yang sedang dihadapi masyarakat.

Diskusi menghadirkan paparan Romo Sunardjo Sumargono JD, Prof. Yudhie Haryono, Yusuf Mudjiono dan Jacob Ereste. Keempatnya memberikan pandangan dari perspektif masing-masing mengenai keberadaan kitab tersebut.

Persoalan yang dibahas tidak berhenti pada isi kitab. Para peserta juga menyoroti kondisi kehidupan bangsa yang dinilai menghadapi persoalan berlapis, mulai dari ekonomi, hukum, politik hingga kebudayaan.

Spiritualitas Diuji di Tengah Krisis Nilai

Salah satu hal menarik dari diskusi tersebut adalah munculnya pertanyaan mengenai posisi spiritualitas dalam kehidupan berbangsa.

Ketika persoalan publik semakin kompleks, pendekatan material semata dinilai oleh sebagian peserta tidak cukup untuk menjawab persoalan manusia. Di titik inilah spiritualitas ditempatkan sebagai salah satu bahan perenungan.

Agust Hamonangan SH., MH., anggota DPRD DKI Jakarta, mengapresiasi pelaksanaan diskusi sekaligus keberadaan kitab yang disebutnya langka dan unik.

Menurut Agust, Jakarta sebagai kota global memiliki keragaman suku, budaya, pendidikan dan agama. Keragaman tersebut, menurut pandangannya, juga menyimpan kekayaan spiritual yang dapat dikembangkan dalam lingkup lokal, nasional hingga global.

Ia memandang nilai spiritual dapat menjadi salah satu modal untuk membangun perdamaian dunia. Pandangan tersebut muncul di tengah perhatian terhadap situasi dunia yang dinilai semakin memanas.

Pancasila dan Kesadaran Spiritual

Romo Sunardjo Sumargono JD mengaitkan spiritualitas dengan nilai-nilai Pancasila.

Pandangan tersebut menempatkan spiritualitas bukan semata sebagai persoalan pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari pembahasan mengenai nilai kehidupan bersama.

Sementara itu, Prof. Yudhie Haryono memandang kehadiran Kitab MA HA IS MA YA sebagai semacam antitesis terhadap berbagai persoalan yang tengah melanda Indonesia.

Yusuf Mudjiono memiliki pandangan lain. Ia meyakini kitab tersebut dapat melengkapi khazanah kitab yang telah dikenal sebelumnya di Indonesia, termasuk Primbon dan Mujarabat.

Perbedaan pandangan tersebut justru menjadi bagian menarik dari diskusi. Sebab, sebuah karya spiritual dapat dibaca melalui banyak perspektif, bergantung pada latar belakang dan pemahaman orang yang menelaahnya.

Bukan Sekadar Buku, Tetapi Bahan Perdebatan

Dari sudut pandang opini, kekuatan Kitab MA HA IS MA YA justru terletak pada ruang tafsir yang dibukanya.

Bahasa, cara penyajian dan kandungan filosofis yang disebut unik membuat kitab tersebut dapat menjadi objek pembahasan lintas perspektif.

Namun, penerimaan terhadap sebuah karya spiritual tentu tidak dapat dipaksakan. Nilai dan maknanya akan sangat bergantung pada pembacaan, pengalaman serta keyakinan masing-masing orang.

Karena itu, ruang diskusi menjadi penting. Kitab tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diterima, tetapi juga dapat dikaji, diperdebatkan dan dipahami dari berbagai sudut pandang.

Dalam konteks kebudayaan Nusantara, gagasan tersebut juga membawa kembali pembicaraan mengenai kearifan lokal dan warisan leluhur sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan spiritual masyarakat.

Pemimpin dan Kecerdasan Spiritual

Sri Eko Sriyanto Galgendu membawa pembahasan ke ranah kepemimpinan dunia.

Ia mengaitkan perkembangan politik global dengan peran pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Dalam pandangannya, seorang pemimpin ideal membutuhkan kemampuan serta kecerdasan spiritual yang ditopang etika, moral dan akhlak kemanusiaan.

Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan perubahan zaman dan pandangan mengenai siklus peradaban.

Sri Eko juga menyampaikan pandangannya mengenai perang Iran-Israel serta keterlibatan Amerika Serikat sebagai bagian dari dinamika geopolitik dunia. Dari perspektifnya, perubahan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material, tetapi juga oleh kekuatan spiritual.

Pandangan tersebut merupakan perspektif Sri Eko dalam membaca hubungan antara spiritualitas, kepemimpinan dan perubahan peradaban.

Dari Jakarta Menuju Ruang Global

Diskusi 21 September 2026 itu kemudian diarahkan pada gagasan lebih luas: menjadikan gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual sebagai gerakan yang bergerak dari tingkat lokal, nasional hingga internasional.

Dalam pandangan Jacob Ereste yang dituangkan dalam kesaksiannya, gerakan tersebut dinilai memiliki peluang untuk berkembang lebih luas dan mendapat sambutan dari berbagai pihak.

Gagasan itu selanjutnya akan dibahas dalam pertemuan rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) setiap Senin dan Kamis.

Salah satu rencana yang muncul adalah menghadirkan sejumlah tokoh perempuan yang memperoleh doa khusus sebagaimana termuat dalam Kitab MA HA IS MA YA pada diskusi berikutnya.

Langkah tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengisi rangkaian kegiatan menjelang peluncuran kitab di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya. Lebih jauh, forum itu diharapkan dapat memperkaya penafsiran terhadap isi dan makna kitab.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai Kitab MA HA IS MA YA bukan hanya tentang sebuah kitab dan doa. Ia membuka pertanyaan yang lebih besar: ketika persoalan bangsa dan dunia semakin rumit, sejauh mana nilai spiritual, etika dan kesadaran manusia dapat ditempatkan dalam kehidupan bersama?

Pertanyaan tersebut tentu tidak memiliki satu jawaban. Justru melalui diskusi terbuka, perbedaan pandangan dapat diuji dan dipahami secara lebih jernih.

Pecenongan, 21 September 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini