New York | Mikanews : Jarak geografis tidak menghalangi ASEAN dan Aliansi Pasifik untuk memperluas kerja sama. Kemitraan kedua kawasan diarahkan tidak hanya pada perdagangan, tetapi juga mencakup konektivitas digital, hubungan antarmasyarakat, hingga pengembangan kota cerdas.
Dalam Pertemuan ke-9 Tingkat Menteri Luar Negeri ASEAN–Pacific Alliance di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81, New York, Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan:
kemitraan dua benua ini tak boleh berhenti pada perdagangan, harus menyentuh ruang digital, antarwarga, hingga tata kelola kota masa depan.
Pertemuan yang berlangsung 22–23 September 2026 ini dipimpin bersama oleh Thailand (koordinator ASEAN) dan Meksiko (kepresidenan Aliansi Pasifik).
Aliansi Pasifik sendiri beranggotakan Chili, Kolombia, Meksiko, dan Peru.
Menjelang hampir dua dekade kerja sama, Sugiono membuka pertemuan dengan apresiasi atas keterbukaan ekonomi yang terjalin:
“ASEAN dan Pacific Alliance merepresentasikan dua kawasan yang semakin terhubung, baik melalui pasar, masyarakat, maupun beragam peluang kerja sama.”
Namun, ia menekankan fondasi itu harus diperlebar ke tiga arah sekaligus:
“Kita memerlukan konektivitas yang lebih kuat. Tidak hanya jalur fisik, tetapi juga konektivitas digital serta kedekatan antarwarga. Tujuannya: mewujudkan kemitraan yang efektif dan lestari.”
“Kemitraan ini pada akhirnya harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar kesepakatan di meja perundingan.” tegasnya.
Salah satu jalan utama yang dipilih adalah jejaring kota cerdas.
Indonesia mengajak kedua pihak menghubungkan pusat-pusat perkotaan ASEAN dengan kota-kota penting di Meksiko, Peru, Chili, dan Kolombia.
“Kota cerdas bukan sekadar teknologi — ini tentang bagaimana kita menjawab bersama tantangan kehidupan perkotaan: digitalisasi, pembangunan hijau, layanan publik yang merata.”
Pertukaran pengalaman antar-kota diharapkan melahirkan solusi yang langsung dirasakan warga, bukan sekadar dokumen kerja sama.
Pertemuan membahas empat sektor utama:
– Perdagangan & investasi
– Pendidikan & kepemudaan
– Lingkungan hidup & ekonomi hijau
– Pariwisata.
Bukti konkret sudah lahir sejak 2025:
peluncuran ASEAN–Pacific Alliance Online Learning Initiative on Tourism, wadah pembelajaran bersama untuk memajukan pariwisata berkelanjutan yang bertanggung jawab.
Para menteri juga menegaskan komitmen bersama terhadap multilateralisme, sistem perdagangan berbasis aturan, serta memperkuat pelengkap antara Kesepakatan Kerangka Ekonomi Digital ASEAN (DEFA) dan Peta Jalan Pasar Digital Aliansi Pasifik.
Bidang baru yang dibuka: ekonomi hijau, usaha mikro-kecil-menengah, sains-teknologi, hingga peran perempuan di bidang sains.
15 Negara, Visi Bersama: Kemakmuran Tanpa Batas.
Namun gabungan pasar, kekayaan budaya, dan potensi pemuda menciptakan peluang pertumbuhan yang tak boleh diabaikan.
Secara geografis, sebelas negara ASEAN dan empat negara Aliansi Pasifik memang terpisah jauh. Namun, gabungan pasar, kekayaan budaya, dan potensi sumber daya manusia menciptakan peluang pertumbuhan yang tak boleh diabaikan.
Kemitraan ini, sebagaimana ditekankan Indonesia, pada akhirnya harus diukur dari satu hal: manfaat nyata yang dirasakan warga di kedua kawasan.
Dari ruang kelas digital hingga perkotaan yang lebih hijau, jembatan yang dibangun kini bukan sekadar di peta — melainkan di kehidupan sehari-hari jutaan orang.
Sebagai penutup pertemuan, kedua ketua bersama menyatakan:
“Kita tidak lagi berbicara hubungan antarwilayah yang jauh — kita sedang membangun komunitas yang saling melengkapi, melintasi samudra, demi kemakmuran bersama generasi mendatang.”
(Red)





