BerandaOPINIHasil Kerja Wantimpres Akan Tampak Dalam Pelaksanaan Program Pemerintah Yang Lebih Baik

Hasil Kerja Wantimpres Akan Tampak Dalam Pelaksanaan Program Pemerintah Yang Lebih Baik

Jacob Ereste :
Hasil Kerja Wantimpres Akan Tampak Dalam Pelaksanaan Program Pemerintah Yang Lebih Baik

Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang bisa dipahami dalam versi masyarakat awam, pasti lebih enak karena bisa memberikan pandangan pendapat, usulan hingga semacam kritik terhadap Presiden, kalau menang mau dan ada yang perlu disampaikan. Jika tidak, bisa saja panggah, datang lalu mengisi absen, terus kongkow-kongkow sesan anggota Wantimpres — bahkan curhat tentang berbagai soal yang tak lagi perlu dibuka di publik, sampai menerima insentif yang kurang elok kalau disebut honoraria apalagi upah yang pasti jauh di atas platform.

UMR seperti yang masih terjadi sampai hari ini di Indonesia. Karena idealnya upah bagi buruh minimal harus dapat memenuhi kebutuhan hidup latak, tidak cuma sebesar 65 persen untuk standar hidup minimal. Jadi bilangannya jelas minimal dibawah angka minimal.

26 tokoh terpilih sebagai Wantimpres pasti dan jelas harus menggenggam etika untuk tidak lagi melontarkan kritik — kalau menang masih ingin disikapi secara kritis — diungkapkan secara terbuka yang dapat diketahui oleh publik seperti umumnya ketika masih berada di luar lingkaran Istana.

Sebab kalau nasih dibuka juga, cara seperti itu bisa disebut tindakan pelanggaran etik sebagai Wantimpres yang dianggap patut melakukan fungsi dan peranannya dalam suasana yang senyap.

Sebab tugas dan fungsi serta peranan Wantimpres dapat dipahami sebagai pemberi asupan yang bergizi agar pandangan, sikap serta kebijakan Presiden tidak sampai letoi dan kendor misalnya hendak menggunduli para oligarki dan para pelaku korupsi hingga beragam bentuk mafia pengeruk kekayaan alam bangsa Indonesia untuk memperbesar perutnya sendiri, sementara rakyat Indonesia harus mengeratkan ikat pinggangnya.

Memang anggapan miring tentang para tokoh yang masuk dalam keanggotaan Wantimpres terlalu berlebihan untuk dikatakan dikerangkeng, sebab perjalanan waktu belum dimulai, karena toh, kelak masih harus dicermati bagaimana gairah dan vitalitas Presiden bisa dikatrol beberapa great dibanding waktu sebelumnya — ketika 26 anggota Wantimpres belum mendapat tempat yang terhormat pemberi pertimbangan kepada Presiden, baik untuk program hingga bentuk pekerjaan yang akan segera dilakukan atau yang sudah dilakukan, karena tidak presisi seperti yang diangankan.

Masukan dan saran atau usulan untuk Presiden, tampaknya tidaklah terbatas pada rencana program dan hasil dari pelaksanaan program yang mungkin dianggap belum maksimal, tali juga sangat mungkin dalam hal teknis hingga penggunaan tata bahasa yang dingin dan menyejukkan hati, agar tidak terkesan sedang marah dengan melontarkan bahasa yang tidak berkelas, hingga kesalahan dalam penyebutan data dan angka yang tampak terkesan terjadi karena keluar dari konsep pidato yang tidak diberikan sebelumnya agar tidak sampai membuat sembelit pencernaan rakyat yang juga sedang dilanda kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pangan yang harus dikonsumsi setiap hari, lantaran siklus ekonomi yang masih runyam.

Dewan Pertimbangan Presiden banyak diminta untuk diberi komentar dari pembaca setia yang aktif mengikuti paparan penulis, terutama dari peminat laku spiritual, apakah dari kalangan spiritualis ada yang mewakili di Dewan Pertimbangan Presiden yang telah dilantik oleh Presiden pada 2 Oktober 2026.

Begitu juga beberapa pertanyaan yang menyoal wakil dari kalangan budayawan, seniman diantara 26 anggota Wantimpres.

Yang utama menurut penulis pertimbangan dari pilihan Presiden terhadap 26 tokoh dalam Wantimpres yang telah dilantik ini, sesuai dengan keperluan yang dibutuhkan oleh Presiden, setidaknya tokoh agama, politik dan ekonomi dan pemikir tentang negara yang memiliki wawasan mumpuni dalam bidangnya cukup terwakili. Artinya, cukuplah lengkap dari apa yang diperlukan Presiden ketika ingin mendapatkan pendapat serta perimbangan, atau inisiatif usulan dan saran, meski untuk bidang tertentu terkesan belum terwakili.

Misalnya dari bidang kebudayaan dan teknologi modern, cyber serta media. Boleh jadi sejumlah pertanyaan dari yang disebut terakhir ini — seperti yang diajukan pembaca — mungkin tidak terlalu penting dan urgen bagi Presiden.

Banten. 2 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini