BerandaDAERAHHujan Desar Guncang Talamau: Ekonomi Terganggu, Sembako Melonjak, Warga Cemas

Hujan Desar Guncang Talamau: Ekonomi Terganggu, Sembako Melonjak, Warga Cemas

TALAMAU | Mikanews.id – Curah hujan yang turun dengan intensitas sangat tinggi selama seminggu terakhir di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, menimbulkan dampak yang cukup berat bagi kehidupan masyarakat setempat. Selain gangguan perjalanan dan kerusakan jalan, kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang turut memengaruhi perekonomian daerah, sehingga berbagai kebutuhan pokok atau sembako mengalami kenaikan harga dan mengganggu kesejahteraan warga.

Yang membuat situasi semakin memprihatinkan, Talamau merupakan daerah yang sangat rawan terkena bencana banjir dan tanah longsor. Hal ini membuat warga semakin merasa resah dan cemas menghadapi kondisi cuaca yang buruk ini, karena tidak hanya perekonomian yang terganggu, tetapi juga keamanan dan keselamatan jiwa menjadi perhatian utama setiap hari.

Mayoritas warga Talamau menggantungkan hidupnya dari pekerjaan sebagai petani dan tukang bangunan yang bekerja di area Simpang Empat. Namun, cuaca buruk dan dampak kenaikan BBM membuat kedua mata pencaharian utama mereka terhenti dan kehidupan semakin sulit, ditambah lagi dengan kekhawatiran akan ancaman bencana alam.

  • Pasokan terhambat, biaya naik, harga sembako melonjak

Pedagang di Pasar Serikat Talu Sinuruik mengakui bahwa kenaikan harga sembako disebabkan oleh dua faktor utama: hujan yang menghambat distribusi barang dan kenaikan harga BBM yang meningkatkan biaya pengiriman.

Jalan penghubung yang licin, rusak, dan tergenang air membuat kendaraan pengangkut barang sulit melaju, sementara biaya angkutan semakin mahal akibat kenaikan harga bahan bakar.hujan

Akibatnya, jumlah barang yang masuk ke pasar berkurang drastis dan biaya produksi serta pengiriman meningkat, yang akhirnya diteruskan ke harga jual.

Baca juga: Goro Massal Pasbar Digencarkan: 188 Ton Sampah Jadi Alarm Serius

Beberapa jenis sembako yang mengalami kenaikan harga di antaranya adalah minyak goreng, wadah dan pembungkus plastik, serta berbagai jenis bumbu-bumbu makanan. Kenaikan harga tersebut berkisar antara 7 hingga 12 persen dalam kurun waktu tujuh hari terakhir.

“Sesuatu yang pasti, barang jadi mahal. Dulu ongkos angkut satu truk Rp500 ribu, sekarang sudah sampai Rp700 ribu. Jalan juga rusak dan tergenang, jadi barang susah masuk. Yang paling terasa naiknya minyak goreng, plastik pembungkus, dan bumbu-bumbu. Kami tidak mau menaikkan harga terlalu tinggi, tapi biaya yang makin besar membuat kami tidak bisa menahannya lagi,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebut namanya, saat ditemui di kios tempat ia berjualan barang harian dan sembako.

Kondisi ini sangat terlihat jelas dari jumlah pengunjung Pasar Serikat Talu Sinuruik yang digelar pada hari Rabu lalu. Sebab, pasar ini hanya diselenggarakan sekali dalam seminggu, sehingga hari itu menjadi momen utama bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan berinteraksi ekonomi.

Namun, kali ini jumlah orang yang datang jauh lebih sedikit dibandingkan hari pasar biasanya. Banyak warga yang tidak hanya tidak bisa datang karena jalan yang tidak layak dilalui, tetapi juga merasa khawatir akan risiko bencana, sementara yang datang pun hanya membeli barang-barang yang paling penting saja dan mengurangi jumlah belanjaannya.

  • Pendapatan terhenti, beban hidup makin berat, kekhawatiran bencana

Bagi warga yang bekerja sebagai petani, hujan yang terus turun membuat lahan pertanian tergenang dan tidak bisa diolah. Sementara itu, mereka yang bekerja sebagai tukang bangunan di Simpang Empat juga tidak dapat beraktivitas karena tanah yang basah dan jalan yang sulit dilalui.

Akibatnya, pendapatan harian yang menjadi andalan keluarga hilang sama sekali, namun kebutuhan hidup malah menjadi lebih mahal akibat kenaikan harga sembako yang dipicu hujan dan kenaikan BBM.

Ditambah lagi, sebagai daerah rawan bencana, setiap tetes hujan turun menimbulkan rasa cemas yang mendalam. Warga selalu waspada terhadap kemungkinan banjir yang bisa merendam rumah dan sawah, serta tanah longsor yang bisa menutup jalan dan merusak tempat tinggal mereka.

“Kami ini kebanyakan bertani dan cari kerja bangunan di Simpang Empat. Kalau hari hujan begini, tidak bisa bekerja sama sekali. Uang masuk tidak ada, tapi belanja kebutuhan sehari-hari harganya tambah mahal. Apalagi minyak goreng, plastik, dan bumbu-bumbu yang harganya naik cukup banyak karena ongkos kirim mahal. Yang paling membuat kami resah adalah kekhawatiran banjir atau tanah longsor bisa datang kapan saja. Kami takut rumah dan sawah kami rusak, apalagi banyak tempat yang sudah terlihat rawan longsor,” ungkap Yasfirman, warga Jorong Kemakmuran, yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh bangunan.

Hal senada disampaikan oleh Frianton, Wali Nagari Sinuruik yang berkantor tepat di tengah Pasar Serikat Talu Sinuruik. Ia menyatakan:

“Sebagai Wali Nagari Sinuruik, saya melihat langsung kondisi warga. Pasar yang seharusnya ramai kini sepi, keuntungan pedagang menurun, pembeli hanya beli barang penting. Warga petani dan buruh bangunan kehilangan pendapatan.

Harga sembako naik karena barang sulit masuk dan biaya angkut mahal akibat BBM. Selain itu, kami sangat khawatir karena Talamau rawan banjir dan longsor, warga tidak hanya kesulitan ekonomi tapi juga cemas keselamatan. Kami sudah berusaha mencegah kenaikan harga berlebihan, tapi biaya yang tinggi membuatnya sulit dihindari.”

  • Pemerintah berupaya atasi masalah

Pihak Pemerintah Kecamatan Talamau telah menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kondisi ini dan sedang berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah agar pasokan barang tetap bisa terjaga dengan aman dan lancar, memantau pergerakan harga agar tidak terjadi kenaikan yang tidak wajar, serta melakukan pemantauan ketat terhadap titik-titik rawan bencana untuk mencegah korban jiwa dan kerusakan yang lebih parah.

Saat ini, petugas juga sedang melakukan pendataan terhadap warga yang tinggal di daerah rawan bencana dan menyiapkan tempat pengungsian serta bantuan jika diperlukan.

Sampai saat ini, cuaca di wilayah Talamau masih diprakirakan akan berhujan dengan intensitas bervariasi. Warga diimbau untuk tetap waspada, mengamankan hasil pertaniannya, mengatur keuangan dengan bijak, dan selalu mengikuti informasi dari pihak berwenang untuk menghadapi kondisi yang sulit ini.

(Roland Mangkuto Sutan)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini