LIMAPULUH KOTA, Mikanews.id – Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mulai diarahkan menjadi destinasi panjat tebing berkelas internasional. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melihat potensi kawasan tebing alam tersebut sebagai peluang besar untuk mengembangkan wisata olahraga sekaligus menarik kunjungan wisatawan mancanegara.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa potensi alam Lembah Harau harus dikelola lebih serius agar mampu bersaing sebagai tujuan wisata olahraga dunia.
Pernyataan itu disampaikan Mahyeldi saat membuka Opening Ceremony Harau International Climbing Festival (HICFEST) 2026 di kawasan Lembah Harau, Selasa (3/11/2026) malam.
Festival yang berlangsung pada 3–7 November 2026 tersebut diikuti sekitar 300 peserta dari dalam dan luar negeri.
Empat Tebing Jadi Pusat Kompetisi
HICFEST 2026 dipusatkan di empat lokasi panjat tebing, yakni Tebing Aka Barayun, Tebing Echo, Tebing Pataki, dan Tebing Konoha.
Menurut Mahyeldi, festival internasional ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan karakteristik alam Lembah Harau kepada komunitas panjat tebing dunia.
Ia menilai Harau memiliki keunggulan alam yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata, bukan hanya bagi penggemar olahraga panjat tebing, tetapi juga wisatawan yang mencari pengalaman petualangan.
Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang maksimal tanpa pengelolaan kawasan yang serius.
Mahyeldi Soroti Infrastruktur dan Praktik Premanisme
Mahyeldi mengingatkan bahwa penyelenggaraan kegiatan internasional harus diikuti pembenahan fasilitas wisata.
Penataan kawasan, infrastruktur, fasilitas pendukung, serta kesiapan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan.
Ia secara khusus menyoroti persoalan pelayanan kepada pengunjung, termasuk pengelolaan parkir dan keamanan kawasan.
“Jangan sampai potensi wisata kita luar biasa, tetapi pelayanan kepada pengunjung justru menjadi persoalan. Parkir harus tertata, pelayanan harus baik, dan tidak boleh ada praktik premanisme,” tegas Mahyeldi.
Menurutnya, wisatawan domestik maupun mancanegara harus mendapatkan pelayanan yang baik agar merasa aman dan nyaman selama berada di Lembah Harau.
Ia juga meminta pemerintah kabupaten, kecamatan, nagari, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperkuat kerja sama dalam menjaga keamanan kawasan wisata.
Dukungan TNI, Polri, kejaksaan, serta masyarakat dinilai penting untuk menciptakan lingkungan wisata yang tertib dan ramah pengunjung.
Pemkab Limapuluh Kota Bidik Dampak Ekonomi
Sementara itu, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha, yang menyampaikan sambutan mewakili Bupati, menyebut HICFEST 2026 sebagai salah satu agenda besar pariwisata daerah tahun ini.
Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota berharap festival tersebut tidak hanya memperkenalkan Harau kepada dunia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat setempat.
Menurut Ahlul, kehadiran peserta dan komunitas panjat tebing dari berbagai daerah dan negara membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia mengapresiasi panitia dan seluruh peserta yang telah menjadikan Lembah Harau sebagai tempat pertemuan komunitas panjat tebing.
Ahlul menilai HICFEST bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga sarana memasyarakatkan olahraga, memperkuat promosi pariwisata, dan membuka peluang ekonomi baru.
Pemerintah daerah berharap festival tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas dan branding Kabupaten Limapuluh Kota.
FPTI Dorong HICFEST Menjadi Agenda Dua Tahunan
Dukungan terhadap keberlanjutan HICFEST juga disampaikan Sekretaris Jenderal Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Pusat, Pristiawan Buntoro.
Ia mengungkapkan bahwa Harau International Climbing Festival telah mendapat dukungan untuk dikembangkan menjadi agenda rutin FPTI yang digelar setiap dua tahun sekali di Lembah Harau.
Menurut Pristiawan, pengembangan panjat tebing tidak hanya berorientasi pada olahraga prestasi, tetapi juga mencakup kegiatan petualangan dan rekreasi.
“Ini salah satu bentuk komitmen FPTI dalam mengembangkan panjat tebing, bukan hanya dari sisi olahraga prestasi, tetapi juga petualangan dan rekreasi. Berdasarkan keputusan Munas, Harau Festival diarahkan menjadi agenda rutin dua tahunan yang dilaksanakan di Harau,” ungkapnya.
Ia berharap keputusan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, FPTI, komunitas panjat tebing, dan seluruh pihak terkait.
Dengan dukungan tersebut, Lembah Harau berpeluang semakin dikenal sebagai pusat kegiatan panjat tebing internasional.
Tantangan Harau Bukan Sekadar Mendatangkan Wisatawan
Penyelenggaraan HICFEST 2026 menjadi momentum penting bagi pengembangan pariwisata olahraga di Kabupaten Limapuluh Kota.
Namun, target menjadikan Harau sebagai destinasi kelas dunia tidak cukup hanya dengan menghadirkan peserta dari berbagai negara.
Pembenahan infrastruktur, keamanan, pelayanan wisata, dan keterlibatan masyarakat menjadi pekerjaan penting agar kegiatan berskala internasional benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.
Jika agenda dua tahunan ini berjalan berkelanjutan dan didukung pengelolaan kawasan yang baik, Lembah Harau berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon wisata olahraga Sumatera Barat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. (red)





