Literasi Sehat: Menolak Oportunis, Berpegang pada Ideologi Bernilai
Kemampuan dan ketrampilan individu dalam membaca, menulis dan berbicara maupun kemampuan memecahkan masalah, agar dapat dikategorikan sebagai sarana komunikasi yang informatif, tidak ada salahnya, kalau kita terlebih dahulu memahami situasi dan lingkungan sekitar kita.
Sebab latar belakang seseorang dalam berkomunikasi untuk menyampaikan informasi tidak akan terlepas dari berbagai
aspek kehidupan yang akan terus berkembang.
Dengan demikian kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan teks yang tertulis dalam sebuah tulisan dapat dijadikan sebuah referensi yang tajam dan dipercaya.
Semakin tumbuh kesadaran penguatan literasi, hal ini bukan saja tumbuh sebagai pembelajaran bagi individu, tetapi dapat berkembang bagi orang lain, masyarakat dari berbagai kalangan.
Untuk itu, sudah seharusnya literasi yang sehat, harus tegas nenolak Oportunis, dengan tetap berpegang pada Ideologi Bernilai.
Sebab kita tahu, Oportunis adalah sikap yang hanya mementingkan keuntungan sesaat, tanpa mempertimbangkan kebenaran, prinsip, atau manfaat jangka panjang.
Dalam dunia literasi, sikap oportunis ini menjerumuskan:
Sebab akan membuat bacaan sekadar hiasan, tulisan hanya untuk populer, dan pengetahuan dijadikan komoditas belaka.
Ideologi Literasi yang Bernilai
Literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis—
ia adalah perkembangan jiwa;
– Membaca yang sehat:
Memilih bacaan yang mempertajam akal, menyejukkan hati, dan memperkuat karakter
– Menulis yang hebat: Menyampaikan kebenaran, gagasan membangun, dan tanggung jawab kepada sesama
– Perpustakaan yang bermartabat:
Rumah ilmu yang terbuka, terawat, dan menjadi ruang bebas untuk mencari kebenaran—bukan sekadar gudang buku.
Tanpa Kompromi, Sesuai Kompas Hidup
Ketiga hal di atas harus berjalan berdampingan:
Minat baca memberi bahan berpikir, menulis melatih keteguhan pendirian, dan perpustakaan bermartabat menjadi landasan yang kokoh
Dengan bekal ini, generasi tidak akan terjebak dalam keputusan abstrak—ragu arah, terombang-ambing, atau mudah dibawa arus.
Mereka memiliki kompas pengetahuan: tahu mana yang benar dan salah, mana yang bermanfaat dan merusak, sehingga setiap langkah diambil dengan keyakinan dan tanggung jawab.
Intinya:
Literasi yang sejati melahirkan manusia yang utuh—tidak oportunis, berpijak pada nilai, dan mampu memimpin dirinya sendiri menuju masa depan yang jelas arahnya, apa yang diperoleh dan siapa yang memperoleh nya.
Oleh : ZOELNASTI.





