BerandaDAERAHPasar Pekan Kamis Berbenah, Warisan 128 Tahun Kini Makin Tertata

Pasar Pekan Kamis Berbenah, Warisan 128 Tahun Kini Makin Tertata

AGAM | mikanews — Pasar Pekan Kamis di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memasuki babak baru setelah bertahan selama 128 tahun.

Pasar yang berdiri sejak 1898 itu kini mulai berbenah dengan perbaikan fasilitas, penataan lapak, serta pembenahan lingkungannya.

Pasar tersebut sebelumnya dikenal sebagai Balai Tilatang, kemudian berubah menjadi Pasar Serikat Tilatang dan pada 1998 ditetapkan sebagai Pasar Nagari.

Lebih dari satu abad, Pasar Pekan Kamis menjadi bagian dari aktivitas perdagangan masyarakat Nagari Koto Tangah. Keberadaannya juga melekat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dalam perkembangannya, pengelolaan pasar kini dilakukan Pengurus Pasar Rahman bersama Firdaus selaku Direktur BUMNag Koto Tangah.

Keduanya mendorong pembenahan pasar dengan mempertahankan identitas dan nilai sejarah yang melekat pada Pasar Pekan Kamis.

Sejarah pasar tersebut berawal dari kesadaran masyarakat nagari. Pada 1912, pasar ini kemudian berubah menjadi Pasar Serikat Tilatang pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Pasar tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai Pasar Nagari pada 1998.

Bahan yang disampaikan pengelola menyebutkan sejumlah literatur dan kajian sejarah turut mencatat keberadaan pasar tersebut. Di antaranya Laporan Administrasi Karesidenan Sumatera Barat 1910–1920, karya Prof. Dr. Asnan Gustami, serta kajian Universitas Andalas pada 2018.

Pasar Pekan Kamis disebut tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi ruang pertemuan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

Sejak awal, pengelolaannya juga berlandaskan kemitraan antara Nagari Koto Tangah dan Nagari Gadut.

Namun, perjalanan panjang membuat sejumlah fasilitas pasar mengalami penurunan kondisi.

Drainase sempat tersumbat, lapak pedagang tidak tertata, fasilitas sanitasi dinilai memprihatinkan, dan belum tersedia tempat ibadah yang layak di dalam kompleks pasar.

Kondisi tersebut kemudian mendorong pengelola melakukan pembenahan.

Rahman mengatakan, perubahan dilakukan tanpa menghilangkan identitas Pasar Pekan Kamis.

“Kehadiran kami bukan untuk menggantikan identitas, melainkan memperkuat fondasi yang ada,” ujar Rahman.

Menurut bahan yang disampaikan, langkah awal pembenahan dilakukan melalui pendekatan kepada pedagang. Aspirasi pedagang didengar sebelum rencana perubahan dijalankan.

Hasilnya mulai terlihat pada sejumlah fasilitas pasar.

Drainase dibenahi agar aliran air lebih lancar dan tidak menimbulkan genangan. Lapak pedagang juga ditata sehingga ruang berjualan menjadi lebih teratur.

Fasilitas toilet untuk umum kini tersedia dalam kondisi yang lebih bersih dan terawat. Tempat ibadah yang layak juga telah berdiri di tengah kompleks pasar.

Firdaus mengatakan pembenahan pasar tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik.

“Perubahan ini bukan sekadar bangunan lebih bagus, melainkan peningkatan kualitas hidup dan penghormatan terhadap martabat manusia yang beraktivitas di sini,” tegas Firdaus.

Meski sejumlah fasilitas telah diperbaiki, pekerjaan pengelola belum selesai.

Masih terdapat pedagang yang belum sepenuhnya mengikuti penataan. Sebagian masih memajang barang di jalur jalan dan belum konsisten menjaga kebersihan lingkungan pasar.

Kondisi tersebut membuat pengelola tetap melakukan pendekatan, pembinaan, dan sosialisasi kepada pedagang.

Rahman dan Firdaus menilai pembangunan fisik harus diikuti perubahan perilaku agar hasil pembenahan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Bagi pengelola, keberadaan Pasar Pekan Kamis bukan sekadar peninggalan masa lalu. Pasar tersebut dipandang sebagai bagian dari perjalanan masyarakat Nagari Koto Tangah yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan.

Setelah lebih dari satu abad berdiri, Pasar Pekan Kamis kini berupaya mempertahankan sejarah sekaligus menghadirkan lingkungan perdagangan yang lebih bersih dan tertata.

Pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan pasar tradisional agar tetap memiliki fungsi bagi masyarakat di tengah perjalanan waktu. (YamanLBS)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini