Talamau | Mikanews.id – Sentra Pangan dan Gizi (SPPG) Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, tidak hanya berperan sebagai pusat pemenuhan gizi masyarakat. Di bawah kepemimpinan Yodi Septian, SPPG kini tumbuh menjadi penggerak ekonomi warga dengan membuka peluang usaha bagi petani, peternak, dan pelaku UMKM lokal.
Program yang dijalankan SPPG Sinuruik menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi antara pemenuhan gizi masyarakat dan pemberdayaan ekonomi nagari. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), ribuan warga telah merasakan manfaat langsung, sementara hasil pertanian dan peternakan lokal terserap secara berkelanjutan.
Kepala SPPG Nagari Sinuruik, Yodi Septian, mengatakan visi utama lembaga tersebut adalah menjadikan SPPG sebagai pusat gizi dan ketahanan pangan di tingkat nagari.
Menurutnya, ada tiga fokus utama yang terus dikembangkan, yakni memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui program MBG, membuka pasar bagi petani dan UMKM lokal sebagai pemasok bahan baku utama, serta menjadikan SPPG sebagai pusat edukasi pola makan sehat bagi keluarga.
“Kami ingin program ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga nagari,” ujar Yodi Septian, Selasa (19/5/2026).
Saat ini, program MBG yang dijalankan SPPG Sinuruik telah menjangkau 2.140 siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Talamau. Penerima manfaat berasal dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA/SMK.
Beberapa sekolah yang telah menerima layanan tersebut di antaranya PAUD ASSADAH, TK Pembina Talamau, SDN 05 Talamau, SMPN 1 Talamau, SMKN 1 Talamau hingga SMAN 1 Talamau.
Tidak hanya menyasar pelajar, program MBG juga menjangkau 303 Posyandu di seluruh jorong di Kecamatan Talamau dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Yodi menyebutkan, jumlah penerima manfaat akan terus ditingkatkan secara bertahap agar semakin banyak masyarakat yang merasakan dampaknya.
Menariknya, selama program berjalan, belum ada keluhan dari masyarakat terkait menu makanan yang disajikan. Hal itu dinilai menjadi indikator bahwa makanan yang disiapkan mampu diterima berbagai kalangan, baik dari sisi rasa maupun variasi menu.
Program tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Nagari Sinuruik. Petani dan peternak lokal kini memiliki pasar tetap untuk memasok kebutuhan dapur SPPG, mulai dari beras, sayuran, telur hingga daging ayam.
Selain itu, sekitar 95 persen tenaga relawan yang terlibat dalam program berasal dari masyarakat nagari sendiri. Kader Posyandu juga aktif membantu pendistribusian makanan dan penyuluhan gizi kepada masyarakat.
“Kami percaya program ini tidak akan berjalan baik tanpa semangat gotong royong warga Sinuruik. Kami bangga karena program ini juga ikut menyejahterakan petani dan peternak lokal,” jelas Yodi.
Selain MBG, SPPG Sinuruik juga mengembangkan program Kebun Ketahanan Pangan di sekitar area dapur SPPG. Kebun tersebut dimanfaatkan sebagai lahan percontohan penanaman sayuran dan rempah-rempah sekaligus sumber bahan baku pangan.
SPPG juga rutin mengadakan pelatihan pengolahan makanan bergizi bagi ibu-ibu agar pangan lokal dapat diolah menjadi hidangan sehat, higienis, dan bernilai jual.
Program edukasi gizi turut dilakukan secara berkala di sekolah dan Posyandu sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.
Meski demikian, Yodi mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam menjaga kestabilan pasokan bahan baku lokal yang bergantung pada musim panen petani.
Sebagai solusi, pihaknya terus melakukan pendampingan kepada petani agar pasokan lebih teratur. SPPG juga menyusun menu berbahan lokal yang tetap bergizi dan disukai masyarakat.
Ke depan, Yodi berharap SPPG Sinuruik dapat menjadi contoh SPPG mandiri di Sumatera Barat.
“Saya ingin SPPG ini dikenal bukan hanya sebagai tempat mengolah makanan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi nagari yang mampu menyejahterakan petani dan peternak serta melahirkan generasi sehat dan cerdas,” tegasnya.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan masyarakat, SPPG Nagari Sinuruik kini menjadi simbol baru pembangunan berbasis gizi, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan di Pasaman Barat. (RMS)





