Oleh: Roland Mangkuto Sutan
Mikanews.id | Pasaman Barat, 8 Juni 2026 “Air yang jernih mengalir dari sumber yang jernih.” Ungkapan bijak ini adalah kebenaran umum yang berlaku di mana saja, sebuah hukum alam yang tak terbantahkan, dan sangat tepat jika kita jadikan cermin untuk merenungi nasib daerah yang kita cintai ini.
Maknanya sederhana namun tajam: apa yang kita terima di akhir, sangat bergantung pada apa yang ada di awal. Jika air yang kita minum segar dan bersih, yakinlah di hulu atau asalnya, air itu sudah bersih. Sebaliknya, jika air yang mengalir itu keruh dan penuh kotoran, janganlah kita menyalahkan aliran atau sungainya, melainkan lihatlah ke sumbernya.
Inilah analogi yang paling tepat untuk hubungan antara pemilih dan pemimpin. Pemilih adalah sumbernya, dan pemimpin adalah air yang mengalir.
Jika kita mendambakan pemimpin yang cerdas, berwawasan luas, bijaksana, dan mampu membawa kemajuan, maka sumbernya pun haruslah cerdas. Pemimpin yang hebat tidak jatuh dari langit, ia tidak tumbuh di tanah yang tandus, dan tidak lahir dari lingkungan yang berpikiran sempit. Ia dilahirkan, dipilih, dan diangkat oleh rakyat yang juga memiliki kecerdasan yang sama atau bahkan lebih tinggi daripadanya.
Lihatlah kondisi tanah kelahiran kita, Pasaman Barat.
Kita dianugerahi Tuhan dengan kekayaan yang luar biasa melimpah, seolah segala karunia alam dikumpulkan di sini. Di sebelah barat, terbentang garis pantai terpanjang di seluruh Sumatera Barat, kaya akan hasil laut dan memiliki potensi wisata yang tiada duanya.
Di sebelah timur, berdiri megah dan gagah Gunung Talamau, yang merupakan gunung tertinggi yang sepenuhnya berada di wilayah Sumatera Barat, menjulang tinggi menyimpan hutan, sumber air, dan keindahan 13 telaga di puncaknya.
Bukan hanya itu. Di dalam perut bumi kita, tersimpan cadangan tambang emas yang nilainya tak terhitung angka, menjadi salah satu simpanan kekayaan bangsa yang bernilai tinggi. Di hamparan tanah yang luas, terbentang perkebunan kelapa sawit yang luasnya ribuan hektar dan menjadi komoditas andalan yang terus mengalir pendapatannya setiap tahun.
Pasaman Barat adalah sebuah wilayah yang memiliki sumber kekayaan yang sangat besar dan murni. Seharusnya, dari sini mengalir deras air kemakmuran yang jernih, menyuburkan kehidupan seluruh warganya tanpa terkecuali.
Tetapi apa yang terjadi di kenyataan?
Fakta pahit berbicara lain. Wilayah yang begitu kaya raya ini justru tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Provinsi Sumatera Barat.
Ini adalah ironi yang menyakitkan dan membuat hati perih: Kita berdiri di atas tumpukan emas, dikelilingi kebun sawit yang berbuah lebat, namun masih banyak saudara kita yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Mengapa kekayaan yang besar ini tidak pernah mengalir menjadi kesejahteraan rakyat? Mengapa yang kita rasakan bukanlah air segar, melainkan air yang keruh dan pahit?
Kembali kita merenungi kebenaran awal tadi: Karena sumber pemilihnya belum jernih.
Selama ini, air yang kita hasilkan—yaitu para pemimpin yang terpilih—memang keruh. Dan kekeruhan itu terjadi karena kita sebagai pemilih belum menjadi sumber yang jernih, cerdas, dan bijak dalam menentukan pilihan.
Lihatlah cara kita memilih selama ini, pola yang berulang terus-menerus.
Kita memilih bukan karena kecerdasan atau kemampuan calon, melainkan karena ras dan suku. Kita berpikir sempit, hanya mempertimbangkan: apakah dia orang kita, apakah dia asalnya dari daerah ini? Bukan: apakah dia orang yang pintar mengatur ekonomi, pandai merencanakan pembangunan, dan berpikir jauh ke depan? Maka lahirlah pemimpin yang pandai bermain sentimen dan emosi, namun bodoh dalam merancang kemajuan daerah.
Kita memilih bukan karena visi masa depan, melainkan karena kekeluargaan. Hubungan darah dan pertalian kerap kali menjadi satu-satunya ukuran kemampuan. Siapa yang masih ada hubungan saudara, dialah yang diutamakan, sementara orang yang cerdas dan berilmu namun bukan kerabat harus mengalah dan tersisih. Akibatnya, jabatan pemerintahan dianggap sebagai milik keluarga atau kelompok, bukan amanah untuk melayani seluruh masyarakat. Maka lahirlah pemimpin yang menganggap daerah ini sebagai perusahaan keluarga, bukan rumah bersama rakyat.
Dan yang paling merusak: Kita memilih bukan karena kejujuran dan integritas, melainkan karena uang. Hak pilih yang seharusnya menjadi instrumen paling mulia untuk menentukan nasib, sering kali diperjualbelikan dengan imbalan sesaat. Kita menerima sejumlah uang atau bantuan hari ini, namun dengan itu kita rela menyerahkan nasib pembangunan daerah selama lima tahun ke depan kepada orang yang mungkin sama sekali tidak mengerti cara bekerja untuk rakyat.
Maka wajar jika yang terpilih adalah mereka yang punya uang untuk membagikan, bukan mereka yang punya otak untuk berpikir. Dan ketika mereka berkuasa, yang dipikirkan hanyalah mengembalikan modal dan mencari keuntungan pribadi serta kelompoknya.
Inilah sebabnya, meski sumber alam kita sangat kaya dan bersih—ada emas, ada sawit, ada laut, ada gunung—namun yang mengalir ke bawah hanyalah kebohongan, ketidakadilan, dan kemiskinan.
Karena sesungguhnya: Pemilih yang tidak cerdas, tidak mungkin bisa melahirkan pemimpin yang cerdas. Tidak mungkin air yang jernih dan segar bisa keluar dari sumber yang berlumpur dan kotor.
Maka, jika kita ingin mengubah nasib Pasaman Barat, kita tidak perlu menunggu mukjizat atau meminta pada langit agar dikirimkan pemimpin yang hebat dari entah di mana. Kita hanya perlu mengubah diri kita sendiri.
Mari kita jadikan diri kita sebagai pemilih yang cerdas. Yang menilai calon dari kemampuannya dan rekam jejaknya, bukan semata dari asal-usulnya. Yang melihat visi dan kerja nyata, bukan tergiur pemberian sesaat. Yang mengutamakan kepentingan daerah di atas kepentingan keluarga atau golongan sempit.
Ketika sumbernya sudah jernih, maka dengan sendirinya yang akan mengalir adalah pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang mampu melihat: di tangan saya ada emas, ada sawit, ada laut, dan ada gunung. Tugas saya adalah mengubah semua ini menjadi kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Pemilih yang cerdas, pasti dan pasti akan melahirkan pemimpin yang cerdas.
Pasaman Barat telah dianugerahkan Tuhan tubuh yang perkasa—berupa gunung yang menjulang, laut yang luas, tanah yang subur, dan kekayaan yang melimpah. Kini, tinggalah kita yang harus memberinya akal budi melalui pilihan yang cerdas. Jangan biarkan tubuh yang begitu kuat ini terus dipimpin oleh pikiran yang sempit. Karena sejatinya, masa depan daerah ini tidak sedang menunggu keajaiban dari langit, melainkan sedang menunggu kedewasaan dan kecerdasan kita di bilik suara. Dari sumber yang jernih, mengalirlah kehidupan yang makmur.





