Rumah Nyaris Roboh Jadi Tempat Tinggal: Jeritan Keluarga Prasejahtera di Polewali Mandar
Prof Sutan Nasomal Minta Perhatian Serius: Panggil Kemensos & Gubernur, Agar Setiap Warga Berhak Tinggal Layak
Sulawesi Barat | Mikanews : Di tengah semangat pembangunan yang terus digalakkan, masih ada sisi kehidupan yang membutuhkan uluran tangan kita. Salah satunya di alami keluarga Sangnging (44 tahun), warga Lingkungan Lena, Desa Batupanga, Kecamatan Luyo.
Bersama lima orang anggota keluarganya, mereka harus menempati rumah yang sudah lapuk, rapuh, dan nyaris roboh — tempat yang seharusnya menjadi pelindung, justru kini menjadi sumber kekhawatiran setiap hari.
Kondisi memprihatinkan ini terungkap pada Rabu (17/6/2026).
Rumah panggung sederhana itu sudah dimakan usia: atap dari daun rumbia banyak yang berlubang, dinding papan kayu rapuh dan retak di sana-sini.
Saat hujan turun, air bebas masuk membasahi ruangan. Saat angin berhembus kencang, seluruh bangunan bergetar — mengancam keselamatan istri dan anak-anak mereka.
Terbatasnya Tenaga, Terbatasnya Penghidupan Keluarga ini tidak bermaksud membiarkan rumahnya rusak. Keterbatasan ekonomi menjadi tembok yang sulit ditembus.
Sangnging hanya bekerja serabutan, dan kemampuannya pun berkurang drastis akibat cedera permanen di lengan bekas kecelakaan yang sudah dioperasi.
Penghasilan yang ada pun nyaris habis hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Untuk bertahan hidup saja sudah berat, apalagi harus mengumpulkan biaya memperbaiki rumah. Rasanya mustahil dilakukan sendiri,” ungkap warga sekitar yang prihatin.
Warga berharap keluarga Sangnging dapat menjadi prioritas penerima bantuan melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bantuan sosial, maupun program pemberdayaan lainnya.
Perhatian dari Tokoh Nasional: Panggilan Agar Tidak Ada yang Terlupakan
Kondisi ini menarik perhatian mendalam dari akademisi sekaligus pemerhati sosial, Profesor Sutan Nasomal.
Beliau menilai kasus ini menjadi cermin bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Miris melihat fakta ini. Rumah layak huni bukan sekadar fasilitas, melainkan hak dasar setiap warga negara yang dijamin konstitusi,” tegas Prof Sutan Nasomal.
Beliau kemudian menyampaikan harapan besar dan meminta agar hal ini mendapatkan perhatian tertinggi.
“Saya berharap Bapak Presiden Prabowo memberikan perintah kepada Kementerian Sosial bersama Gubernur Sulawesi Barat untuk segera meninjau dan menangani kasus RTLH di Polewali Mandar ini. Jangan biarkan ada warga yang hidup dalam ketakutan di atas tanah sendiri,” ungkapnya.
Ajakan Bersama: Kepedulian Adalah Kekuatan Kita
Berita ini juga menjadi pengingat bagi kita semua: keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari jalan raya yang mulus atau gedung yang megah, melainkan dari seberapa aman dan layak tempat tinggal rakyatnya.
Kini harapan tertuju pada dua arah sekaligus:
– Pemerintah: Agar segera turun melakukan verifikasi dan memprioritaskan keluarga ini dalam Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bantuan sosial, maupun skema perumahan rakyat lainnya.
– Seluruh Elemen Bangsa:
Baik BAZNAS, lembaga sosial, perusahaan melalui program CSR, maupun para dermawan dan masyarakat luas — mari kita buka hati.
Sedikit bantuan, entah berupa material, tenaga, atau dana, akan menjadi cahaya harapan bagi keluarga ini.
Setiap warga berhak pulang dengan tenang, tidur dengan nyenyak, dan membesarkan anak-anak di tempat yang aman.
Mari kita jadikan kisah ini sebagai panggilan hati: berbagi bukan karena kita berlebih, tetapi karena kita memahami makna menjadi manusia yang saling menguatkan.
“Sebab pada hakikatnya, setiap warga negara berhak memperoleh kehidupan yang layak, termasuk hak atas tempat tinggal yang aman dan manusiawi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” pungkasnya.
Semoga jeritan hati keluarga Sangnging ini didengar, agar segera berubah menjadi senyum ketika mereka nanti memiliki rumah yang kokoh, sehat, dan penuh keberkahan.
(Red)
Sumber: Peninjauan Lapangan & Pernyataan Profesor Sutan Nasomal





